Sepenggal Catatan dari Para Pembicara di Seminar Beasiswa

28 Okt

Ini sepenggal catatan atas materi seminar yang diselenggarakan Sabtu 20 Oktober 2012 silam. Tidak semua masuk dalam catatan ini sebab di sesi ketiga, saya tidak begitu mengikuti jalannya seminar (maklum, merangkap jadi panitia juga, makanya wira-wiri ngurusin banyak hal hehehe)… Tapi di sesi satu, saya menjadi moderator sehingga bisa mendegarkan dengan baik semua penjelasan para pembicara. Di sesi kedua, saya menjadi pembicara bersama seorang rekan saya, kami mewakili IEDUC – International Education Centre yang menjadi penyelenggara seminar — sehingga saya juga akan memasukkan beberapa hal yang menjadi catatan saya 🙂

Kanada

Pada sesi pertama, pembicara menjelaskan mengenai pengalaman hidup dan belajar di Kanada, Jepang dan Jerman serta Belanda. Poin yang saya tangkap dari pembicara pertama, Pak Mujib yang merupakan dosen dari Universitas Muhammadiyah Surakarta (UMS) adalah, perbedaan cuaca yang ekstrem antara Indonesia dengan Kanda. Cara untuk bertahan di cuaca yang begitu dingin saat musim dingin (winter) adalah dengan menutup semua bagian tubuh, mulai dari kepala, telinga, tangan kaki dan alas kaki. Yang tersisa adalah wajah. Jangan lupa juga mengenakan krim pelembab karena itu akan membantu agar kulit tidak terasa perih. Musim dingin memang membuat tubuh kering sehingga dalam kondisi tertentu bisa saja bibir kita mengalami pecah-pecah saking keringnya.

Mengenai berpuasa di musim panas juga memberikan warna tersendiri sebab berpuasanya sangat panjang , bisa mencapai 17 jam sehari. Waktu sahurnya sangat dini hari dan waktu berbuka puasanya sudah malam. Tetapi dengan niat dan keikhlasan, puasa panjang di bulan ramadhan itu tak menjadi persoalan berarti. Pak Mujib yang menempuh pendidikan S3 di Kanada ini juga bercerita mengenai peluang untuk bekerja sebagai asisten di kampus, lumayan bisa menambah uang saku.

Mengenai makanan halal, Pak Mujib mengatakan tidak sulit untuk mendapatkan makanan halal di Kanada. Ada kode-kode tertentu yang bisa diketahui untuk lebih memastikan bahwa makanan tersebut halal.

Jepang dan Jerman

Pembicara kedua, Mbak Sari atau Ai, adalah dosen di Polban Bandung. Ia mendapatkan kesempatan untuk mengikuti short course ke Jerman selama tiga bulan sebelum kemudian mencari beasiswa S2 ke Jepang dengan beasiswa ADB-JSP alias beasiswa Asia Development Bank. Suaminya juga mendapatkan beasiswa skema yang sama tetapi di Selandia Baru. Jadi mereka hidup terpisah di dua negara dan dua benua yang berbeda. Yang unik, mbak Ai ini hamil anak pertama sambil kuliah di Jepang.

Melahirkan di Jepang bagi student asing ternyata tidak bayar alias gratis. Karena suaminya berada di luar negeri dan tidak bisa menemani saat persalinan, maka mbak Ai mengundang ibunya untuk datang ke Jepang – ini diizinkan oleh pihak pemerintah Jepang. Bahkan sang anak yang dilahirkan juga mendapat tunjangan dana. Tips yang diberikannya di antaranya adalah melakukan komunikasi yang baik dengan dosen pembimbing, dengan masyarakat Indonesia/komunitas Indonesia di Jepang dan selalu memanfaatkan waktu sebaik-baiknya.

Mbak Ai bilang, kalo weekend, dia selalu menyempatkan diri untuk menikmati satu hari bersantai. Jika Sabtu masih harus di laboratorium atau di kampus, maka minggu dia manfaatkan untuk berjalan-jalan sebab bayi dalam kandungannya membutuhkan refreshing juga. Demikian pula sebaliknya, jika ia sudah bersantai di hari Sabtu maka hari Minggu digunakannya untuk kembali ke tugas-tugas kampus.

Hamil sambil kuliah bukan tanpa tantangan, tetapi yang perlu dilakukan adalah berdamai dengan keadaan. Harus menjaga agar bayi di dalam perut tidak ikut stres karena itu sang ibu juga tak boleh stres sebab hal tersebut mempengaruhi. Salah satu yang dialami mbak Ai adalah ganti judul thesis hingga tujuh kali!

Tentang Jerman dan Jepang, Mbak Ai bilan ada perbedaan dan persamaannya. Tapi yang pasti kedua-duanya sama-sama unik. Jepang, negara maju tetapi di Asia sangatlah memegang prinsip ketimuran, sementara di Jerman lebih egaliter.

Belanda

Sementara pembicara ketiga, adalah mas Adi yang saat ini masih on going menyelesaikan pendidikan S3 di Radboud University di Belanda. Ia menjalani kuliah di negeri kincir angin itu dengan bolak balik Indonesia-Belanda. Ini memungkinkan sebabS3 yang dilakukannya adalah riset. Ia memberikan trik, “jangan ke Belanda ketika puasa Ramadhan di musim panas” … pokoknya ia mengatur waktu agar bisa berpuasa Ramadhan bersama keluarganya di Bandung..

Soal mendapatkan supervisor juga menarik. Mas Adi bilang, ia tidak melamar secara resmi tetapi justru secara tak sengaja mendapatkannya saat melakukan penelitian untuk risetnya saat itu. Mas Adi adalah dosen di FE Unpad. Enaknya kuliah di Belanda, kata Mas Adi adalah bahasa tak menjadi kendala berarti. Pernah suatu ketika, seorang temannya kesulitan menjelaskan mengenai ‘lemari es’ kepada penduduk setempat yang tidak mengerti ketika disebutkan kata ‘refrigerator’ tetapi justru mengerti ketika dibilang ‘kulkas’.

Masakan Indonesia juga banyak di sana, mengingat Belanda pernah menjajah Indonesia sekian ratus tahun sehingga banyak kemiripan makanan, bahkan budaya. Malah orang Indonesia bukanlah orang yang ‘asing’ di negara tersebut. Iyalahhh…wong 350 tahun dijajah Belanda, gitu lho 😀

IEDUC

Untuk materi sesi dua, adalah tentang bahasa Inggris dan juga motivasi. Seperti buku saya, ‘I can get a scholarship why can’t you?” di seminar sesi dua ini saya lebih membahas mengenai motivasi untuk mendapatkan beasiswa dan manfaatnya. Saya juga memetakan beasiswa menjadi degree dan non degree. Jadi lebih mudah dipahami alurnya.

Kepada audience saya meyakinkan bahwa beasiswa itu layak diperoleh sebab banyak manfaatnya. Tetapi kita tak bisa diam saja untuk memperolehnya. Saya juga cerita bahwa ketika IELTS score saya sudah 6.5, tetapi saat pertama kali di Australia, tetap saja saya tidak begitu memahami orang berbicara. Sebab ada perbedaan dialek serta sistem dan budaya. Makanya, tak perlu berkecil hati….

Rekan saya, mbak Ayu menjelaskan mengenai perbedaan antara TOEFL dan IELTS serta berbagai keperluan yang bisa dilakukan dengan kedua jenis tes tersebut. Ia juga mengingatkan bahwa bahasa Inggris adalah tiket untuk mendapatkan beasiswa, ke negara manapun.

Mudah-mudahan, postingan ini memberikan sedikit tambahan informasi ya… 🙂

Iklan

11 Tanggapan to “Sepenggal Catatan dari Para Pembicara di Seminar Beasiswa”

  1. tiara November 3, 2012 pada 2:14 pm #

    Assalamu’alaikum,
    saya sangat tertarik dengan postingan Mbak mengenai study overseas.
    Selama ini saya mencari informasi mengenai beasiswa ke luar, tapi belum berhasil. Apakah Mbak punya saran info penyedia beasiswa ke luar?

    • scholarshiphunter November 4, 2012 pada 9:10 am #

      Halo Tiara, terima kasih kunjungannya ke sini…
      Tiara ingin melanjutkan pendidikan ke mana? banyak informasi mengenai penyedia beasiswa ke luar negeri… ada ADS, Chevening, Stuned, DAAD, ADB, IDB dan sebagainya.. untuk beasiswa S1 bisa dicoba ASEAN scholarship..
      cara gampangnya, googling dengan kata2 kunci tersebut.. insya allah nemu link-nya..

      good luck ya 😀

  2. deadlaif Mei 5, 2013 pada 8:11 pm #

    Gan saya ingin S2 pendidikan… Enaknya di negara mana?

    • scholarshiphunter Mei 6, 2013 pada 3:42 pm #

      Gan, kalo soal enak nggak enak mah tergantung niatnya…:)

      Pertanyaan Anda keliru, karena andalah yang seharusnya tahu di mana akan melanjutkan sekolah sebab yang tahu persis kebutuhan anda hanya anda sendiri…
      jadi silakan dicari informasinya dari berbagai sumber (pameran pendidikan, internet, dsb) mengenai kurikulum yang anda ingin pelajari, dan cari di negara2 yang ingin anda tuju…
      Good luck Gan!

      • deadlaif Mei 9, 2013 pada 2:24 pm #

        Thanks Gan

  3. Citra Pitaloka Agustus 10, 2013 pada 2:59 pm #

    Assalamualaikum mb…
    Saya Citra,saya ingin sekali lanjut S2 di Australia,saya lulusan S1 jurusan pendidiksn,apa ada jurusan S2 yang cocok dengan background pendidikan terakhir saya,khususnya di australia…
    Best regards

    • scholarshiphunter Agustus 11, 2013 pada 3:15 am #

      Waalaikumsalam Citra, jurusan pendidikan di australia banyak sekali… tinggal disesuaikan pengennya pendidikan yang seperti apa.. tapi memang ga bisa langsung dapat, harus rajin googling dan searching yaa.. dan jangan mengandalkan orang lain tetapi harus dicari sendiri.. sebab hanya kita yang tahu pasti kebutuhan kita.. ya nggak?
      Kunjungi website universitas2 di australia, cari jurusan education.. dan pelajari deh isi2nya.. silabusnya…nanti dari situ ketemu, pengennya ke universitas mana..
      jangan khawatir dengan rangking universitas sebab semua universitas di australia hampir sama bagusnya.. dari 27 universitas di sana, 25 nya adalah universitas negeri.. 🙂
      selamat berburu yaa 😀

  4. Moch Ilham P Oktober 19, 2013 pada 8:03 am #

    Assalamualikum,
    Perkenalkan sy Ilham sekarang sy semester 7 di polban. Saya sedang mencari informasi short course ke Jerman (kalau bisa). Kalau boleh minta tips dan trik serta langkah yang baiknya saya lakukan. Serta kebetulan diatas disebutkan ada pengalaman short course dari Mba Ai dari polban. Kalau boleh saya minta kontak beliau untuk bisa berkomunikasi lebih kanjut.
    Terima Kasih

    • scholarshiphunter Oktober 19, 2013 pada 9:39 am #

      Halo Ilham, mbak Ai adalah salah satu dosen di Polban lho 🙂 sekitar dua minggu lalu dia berangkat ke Jepang untuk melanjutkan studi S3. saya akan sampaikan email anda ke dia.. kalo dia berkenan, saya akan minta dia menghubungi anda ya 🙂
      good luck!

  5. Bagus Nugroho April 15, 2015 pada 7:57 pm #

    Assalamu’alaikum Warohmatullohi wabarokatuh
    Perkenalkan nama saya Bagus Teguh Nugroho, saya adalah mahasiswa dari UMS (Universitas Muhammadiyah Surakarta) dan bergabung di salah satu UKM-U (Unit Kegiatan Mahasiswa Universitas) yaitu MUEC (Muhammadiyah University English Course) dan Unit Kegiatan saya ini ingin menyelenggarakan sebuaha acara seminar beasiswa dan juga pameran kecil – kecilan tentang beasiswa, yang mau saya tanyakan disini Menurut pendapat mbak siapa tokoh yang bisa mewakili pengamat pendidikan Indonesia untuk membicarakan peluang mendapatkan beasiswa baik dalam maupun luar negeri (tapi diutamakan ke luar negeri) untuk menjadi pembicara di acara ini?

    • scholarshiphunter Mei 4, 2015 pada 4:11 am #

      Maaf Bagus, saya baru baca pesannya.. apakah masih terlambat untuk menjawab ini? Untuk siapa yang bisa dijadikan pembicara dalam acara tsb, bisa mengundang dari lembaga seperti LPDP… atau bisa juga penulis buku tentang beasiswa ke luar negeri.. atau bisa juga alumni dari luar negeri. Kalau saya menyebut nama, rasanya tidak pas yaa.. soalnya banyak orang yang bisa bicara ttg hal tsb. Orang2 yang mempunyai blog beasiswa, dan tetap perhatian dengan blognya, juga bisa diundang… intinya mereka yang punya kepedulian ttg sekolah ke luar negeri. Saya kira di Solo banyak kok… good luck yaa 🙂

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: