Berapa lama harus belajar bahasa Inggris?

17 Mar

studying-English-in-the-UK_untukblogPertanyaan itu sering diajukan oleh para calon pencari beasiswa yang masih sangat awam tentang segala sesuatu yang terkait rencana studi. Saya sering kesulitan untuk menjawabnya.  Karena sebelum menjawab pertanyaan tersebut, saya harus bertanya banyak hal dulu. Soalnya, kalo saya jawab, “itu tergantung kemampuan masing-masing” terkesan seperti tidak peduli. Kalau saya jawab seperti itu, khawatir nanti terkesan, saya tidak mau tau masalah dan kesulitan dia dalam belajar atau mencari beasiswa.. hehehe

Tapi sesungguhnya, jawabannya memang itu. Lamanya kita belajar bahasa Inggris untuk persiapan sekolah ke luar negeri, sangat tergantung dari kemampuan awal kita. Makanya, kalau di tempat kursus bahasa Inggris yang namanya International Education Centre (IEDUC) di Bandung, ada yang namanya diagnostic test(DT) yang berfungsi untuk mengetahui posisi awal calon student. Nah, karena itu, kalo mau belajar bahasa Inggris dengan target tertentu, saya menyarankan untuk melakukan DT…

Bukan, bukan selalu untuk kursus di tempat mana pun, tetapi lebih untuk mengetahui, target selanjutnya. Kalau kita tidak tahu posisi awal kita di mana, bagaimana kita akan menentukan strategi untuk mencapai target kita?

Dari situ juga, kita akan bisa memperkirakan, berapa lama kita “harus” belajar bahasa Inggris untuk mencapai target tersebut. Karena program yang kita tetapkan tergantung pada kemauan dan kegigihan kita karena durasi waktu belajar setiap orang tidak bisa disamaratakan. Ada orang yang sangat serius mengejar targetnya, sementara skor awal dia juga nggak terlalu rendah, maka tentu saja, durasi belajarnya akan berbeda dengan mereka yang ambil patokan “alon-alon waton kelakon” dan skor awalnya lebih rendah.

kokuban_english_untukblogKarena itu, jangan marah.. jika jawaban untuk pertanyaan, “berapa lama belajar bahasa Inggris untuk target tertentu” adalah “tergantung”. Yaaa…tergantung banyak hal…

Kalau pertanyaannya ditambah, di mana saya bisa belajar bahasa Inggris yang bagus dan cepat? Maka jawabannya akan tetap sama, tergantung. Karena sebagus apapun sistem yang digunakan di suatu lembaga kursus/pelatihan bahasa, dan secepat apapun program yang mereka miliki, tetapi kalau kita yang mau belajarnya tidak berusaha sungguh-sungguh, maka hasilnya pun tidak akan optimal. Sudah menjadi sunatullah bahwa mereka yang berjuang sungguh-sungguh dan serius akan mendapatkan hasil sesuai perjuangannya. Begitu juga sebaliknya….

 

Saya sering ditanya, dulu waktu daftar beasiswa, kursus di mana? Skornya berapa? Saya tidak akan malu mengatakan bahwa skor saya dulu hanya 5,5 (untuk IELTS) saat mendaftar beasiswa. Tetapi itu saya peroleh dengan perjuangan yang luarbiasa..karena saya harus bolak-balik masuk kelas IELTS kemudian kelas TOEFL di IEDUC, agar bisa mencapai target tersebut.  Jadi, jangan bandingkan yaa..hehehe. Apalagi di masa itu, internet belum seperti sekarang. Beasiswa kala itu juga tak sebanyak sekarang.. belum ada beasiswa LPDP pula hehehe

Poin yang ingin saya sampaikan adalah setiap orang mempunyai kemampuan sendiri-sendiri yang tidak bisa diperbandingkan. Jadi, pertanyaan mengenai berapa lama itu, juga akan sulit dijawab karena banyak faktor yang mempengaruhi.

Satu hal yang pasti, jika kita belajar maka pasti ada perubahan. Tapi kalau kita hanya sibuk bertanya ini dan itu, sibuk mencari tempat belajar yang  baik tetapi tidak melakukan apapun, percayalah..kita tidak akan ke mana-mana dari tempat asal kita. Begitu juga kalau kita merasa sudah ambil les di tempat kursus yang terbaik tetapi kita tidak mau mengikuti saran-saran atau kiat belajar yang diberikan oleh para guru di tempat kursus tersebut, ya percuma saja. Jadi, yang perlu dilakukan adalah aktif mencari sekaligus aktif belajar…

Yuuukkk…belajar…:)

sumber gambar :

  1. http://cristianaziraldo.altervista.org/english/

https://killvingeraniumgoblog.wordpress.com/2015/04/03/how-to-study-english-well/

Bertemu (Calon) Supervisor

11 Nov

TOEFL-VocabularySetelah mengirimkan email yang memberitahukan bahwa saya baru saja melahirkan, kontak dengan calon supervisor saya pun terhenti. Memang, selama ini pun kontaknya tidak intens.

Saya mengirimkan email pertama kali beberapa bulan lalu, karena “email lamaran” saya untuk calon supervisor sebelumnya ditolak. Ia tidak mau menjadi supervisor S3 saya karena saat ini dia sudah mempunyai 10 mahasiswa yang dibimbingnya dan tahun ini akan datang satu orang lain. Saya sempat agak “maksa” dengan bilang bahwa saya tidak akan mulai kuliah tahun ini, tetapi saya membutuhkan kesediaan dia agar saya bisa mendaftar ke universitas dan mendaftar untuk mendapatkan funding sehingga tahun depan saya bisa mulai kuliah – jika beasiswanya diperoleh. Tapi ia tak berani berjanji sebab situasinya tidak bisa diprediksi. Ya sudahlah, saya sudah mencoba yang terbaik yang saya bisa.

Lalu, ada “jurus pamungkas” yang saya ajukan. Saya bertanya, apakah ia bisa memberikan rekomendasi/nama pakar lain yang bisa saya lamar juga, masih di bidang yang saya minati. Alhamdulillah, dia memberikan satu nama. Menurutnya, dia adalah orang yang sangat pas dengan rencana riset saya. Baiklah….

Menghubungi “orang asing”

Saya pun mulai googling universitas tempat sang profesor mengajar. Hasilnya…tralala…berbahasa Jerman, dan tidak ada versi bahasa Inggrisnya. Padahal kemampuan bahasa Jerman saya NOL besar. Saya agak mundur. Wahhh, gimana mau kuliah di sini kalau informasinya pun saya tidak paham. Setelah agak lama dan sempat diskusi dengan seorang teman, yang sedang S3 di Jerman, saya pun mencoba menghubunginya, mengirimkan email pertama.

Isi emailnya hanya tiga alinea tanpa lampiran (attachment). Hingga satu bulan berlalu, email itu tak berbalas. Saya pikir, mungkin dia tidak tertarik dengan rencana riset saya. Apalagi saya kan orang asing dari negeri antah berantah yang tiba-tiba menghubunginya. Tapi teman tadi menyarankan untuk mencoba berkirim email lagi dan bertanya, apakah email pertama sudah diterima. Jadilah saya pun mengirimkan email kedua, isinya hanya beberapa baris saja karena memang hanya bertanya apakah email saya yang pertama sudah diterima.

Dua hari kemudian, ada balasan. Saya deg-degan. Ternyata, email pertama saya tidak terlihat, tertumpuk di antara email-email lain. Pantesan! Dalam email balasannya, sang profesor minta maaf. Wowww…

Lalu dia memberi tahu bahwa empat bulan lagi dia akan datang ke Bandung, ke salah satu kampus negeri di kota ini. Dia bilang, mungkin kita bisa bertemu. Waahh, sinyal positif nih..begitu pikir saya. Tapi saya tak berani banyak berharap. Kemudian dia juga meminta saya untuk menjawab dua pertanyaannya terkait dengan rencana riset saya. Pertanyaan dia : Why is the issue so important to you? And what is so important about it?

Waduuhhh perlu waktu berminggu-minggu buat saya memikirkan jawabannya. Saya khawatir keliru menjawab sehingga ia lalu menolak saya. Akhirnya, setelah saya melahirkan anak kedua saya, sekitar dua bulan sejak email itu dikirimkan, saya pun membalasnya. Sambil saya bilang bahwa saya baru saja melahirkan, masih dalam tahap recovery sehingga saya lama membalas emailnya – padahal juga karena saya merasa belum juga menemukan jawaban yang pas..makanya lama balesnya hehehe. Saya katakan, moga-moga saat dia ke Bandung, saya sudah bisa bertemu dengannya karena kondisi kesehatan saya yang sudah pulih pasca operasi sesar tersebut.

Pertemuan itu…

Dua bulan berlalu. Saya mendapat kabar bahwa dia ada di Bandung. Lalu saya memberanikan diri mengirimkan email padanya, bertanya apakah kita bisa bertemu. Dia langsung jawab ya. Saya kemudian googling, adakah informasi, ngapain aja kalo ketemu calon supervisor, apa saja yang perlu disiapkan, kira-kira kita harus bersikap bagaimana sebaiknya supaya sopan tetapi tidak berlebihan.. Dan, jreng jreng..tidak ada info tentang hal tersebut ..Lalu saya coba bertanya kepada teman saya yang tadi, kira-kira saya harus ngomong apa.. Dia bilang, bicara soal rencana riset, funding dan peluang LoA. “orang Jerman mah to the point, jadi langsung saja,” katanya.

Singkat kata, kami bertemu ditemani dua orang lainnya, asisten dia orang Jerman juga dan satu dosen Indonesia yang menjadi mahasiswa dia. Saya merasa seperti disidang hehehe. Dia minta saya memperkenalkan diri, lalu menjelaskan rencana riset saya. Saya mencoba menjelaskan secara global rencana riset saya tentang media dan Islam. Dia juga menjelaskan bahwa dia bukan ahli Indonesia, selama ini dia riset tentang islam dan media di Timur Tengah, tetapi karena saat ini kondisinya stagnan, tak ada salahnya mencoba melihat islam di Indonesia. Saya membatin, pantesan dia pengen ketemu saya…karena dia akan mendapatkan “ilmu” baru.

Saya jelaskan rencana saya. Dia dan asistennya bertanya, riset apa yang sudah pernah saya lakukan terkait dengan rencana riset tersebut. Kami berdiskusi, sedikit berdebat… lalu dia memberikan beberapa saran.

Dia bilang, rencana riset saya seharusnya melewati satu tahapan sebelumnya… dan karena saya agak “keukeuh” bahwa yang ingin saya lakukan adalah ini dan itu… dia bilang, kalo begitu, harus dilakukan riset lainnya. Hal itu harus berjalan bersamaan…memang sedikit complicated, ujarnya. “Tapi ini PhD..jadi pasti complicated” katanya menegaskan. Lalu ia melanjutkan, sekarang terserah kamu.. jika kamu mau berkompromi, saya tunggu 1-2 lembar “revisi” rencana risetmu. Saya bilang, baiklah, saya pikirkan hal tersebut.

Obrolan hampir satu jam itu pun berakhir. Ia minta maaf karena membatasi pertemuan hanya sampai pukul 6 sore karena ia harus memantau pekerjaan mahasiswa dalam projek yang dikerjakan selama dia di Bandung. Buat saya, itu sudah luarbiasa…profesor yang sangat sibuk dan mendapat banyak email dari berbagai belahan dunia, mau menemui saya dan berdiskusi mengenai tema rencana riset saya.

Sekarang saya mulai merancang mengenai saran-saran dia dan juga mempertimbangkan dengan seksama saran dia….mudah-mudahan jika memang bisa klop, saya bisa segera kirim email padanya mengenai hal tersebut. Ini bukan hal yang mudah, tetapi ini bagian dari tahapan yang harus dilalui jika mau S3… Saya berkata dalam hati, “Oooo…gini rasanya ketemu dengan calon supervisor” hehehe…

Catatan penting adalah bahwa sebelum bertemu dengan calon supervisor, siapkan rencana riset kita, siapkan untuk ditanya mengenai diri dan kegiatan kita – tentu saja secara singkat– , ditanya mengenai hal-hal terkait rencana riset kita. Lalu, kita juga harus terbuka dan bersiap dikritik atau diberi masukan oleh calon supervisor tersebut. Memang, dia belum tentu jadi bekerja sama dengan kita tetapi dia biasanya lebih paham tentang bidang yang ingin kita teliti. So, tak ada salahnya mendengarkan dan mempertimbangkan saran-sarannya – jangan langsung menolak.

Selebihnya, saya berdoa memohon yang terbaik, sebab tidak ada yang akan terjadi tanpa izinNya. Jadi setelah pertemuan itu selesai, saya menyadari bahwa itulah yang terbaik bagi saya. Di akhir obrolan dia bertanya mengenai funding yang akan saya perlukan untuk mendukung riset saya dan saya katakan bahwa saya akan melamar beasiswa.

Jadi, yaaa…begitulah…tak seburuk yang saya bayangkan tetapi juga tak semulus yang saya harapkan. Sebenarnya saya tak punya bayangan sama sekali, tapi yaa dijalani saja..:)

Menilik Kebijakan Baru LPDP

28 Jul

opini_aan 13 Juni 2015_menilik kebijakan baru LPDP

Pada 28 April lalu, Lembaga Pengelola Dana Pendidikan (LPDP) mengeluarkan kebijakan baru bagi para peminat beasiswa dari lembaga tersebut. Dua hal yang menonjol dari kebijakan barunya adalah persyaratan tes kesehatan saat mendaftar dan adanya tes berupa on the spot essay writing – bukan di-upload seperti sebelumnya.

Ada pula sejumlah syarat yang terbilang baru, meskipun tidak baru sama sekali. Misalnya, para pelamar yang gagal diberi kesempatan hanya satu kali lagi untuk mendaftar. Jika gagal lagi maka mereka akan di-black list oleh LPDP dan tidak bisa lagi mendaftar selama-lamanya. Sebelumnya aturan mengenai pendaftaran ini adalah bahwa jika pelamar gagal untuk pertama kalinya, ia baru boleh mendaftar enam bulan kemudian. Tidak ada batasan mengenai berapa kali bisa mendaftar.

Aturan-aturan lain yang ditetapkan LPDP dalam pendaftaran beasiswa pendidikan Indonesia (BPI) – nama resmi beasiswa LPDP, memang berubah-ubah sejak didirikannya lembaga tersebut pada 2012 silam. Hal ini bisa dimaklumi mengingat lembaga tersebut adalah institusi baru. Apalagi, pengelola lembaga ini berasal dari tiga kementerian berbeda yakni Kementerian Keuangan, Kementerian Pendidikan, dan Kementerian Agama.

Namun demikian, berbagai kendala yang dihadapi oleh lembaga baru yang merupakan harapan bagi warga Indonesia untuk melanjutkan pendidikan ke jenjang yang lebih tinggi itu, seharusnya tidak merugikan para peminatnya yang nota bene adalah penduduk Indonesia. Apalagi, para profesional yang bergabung dengan LPDP bukanlah sembarang orang. Mereka mempunyai pengalaman di dunia pendidikan, sebagian dari mereka bahkan mengenyam pendidikan di luar negeri dan yang pasti diseleksi dengan ketat saat bergabung dengan lembaga yang mengelola dana abadi berjumlah triliunan rupiah itu.

Lembaga impian?

Saat pertama kali diluncurkan, banyak pihak yang ragu dan pesimis karena lembaga ini. Ia seperti “lembaga impian” bahkan sebagian orang mengatakan lembaga ini seperti “too good to be true”. Namun saat kelonggaran aturan diberlakukan, para peminat pun berbondong-bondong melamar. Mereka memang seperti diberi harapan. Sayangnya, harapan itu tak berlaku bagi semua orang. Ada pihak-pihak yang merasa tidak terwakili harapannya. Di antaranya, mereka yang ingin belajar ke luar negeri tetapi berkemampuan bahasa Inggris pas-pasan atau terbatas. Mereka harus berjuang keras untuk mencapai nilai bahasa Inggris yang dipersyaratkan – yang tidak selalu mudah bagi setiap orang dan LPDP tidak memfasilitasi hal ini. Mereka yang ingin melanjutkan pendidikan di universitas tertentu tetapi tidak bisa mendaftar karena universitas tujuannya tidak ada dalam daftar yang diperbolehkan LPDP. Yang lebih “tragis” adalah mereka yang mencapai usia tertentu, tidak bisa mendaftar BPI karena adanya batasan ‘saklek’ tentang usia pelamar.

Padahal beberapa lembaga pemberi beasiswa lain, yang notabene adalah lembaga asing memberikan kelonggaran untuk persyaratan-persyaratan di atas. Mungkin, manajemen LPDP bisa mempertimbangkan kembali berbagai aturan tersebut agar bisa lebih adil bagi para peminatnya. Bagaimanapun, LPDP adalah harapan bagi penduduk negeri ini yang ingin maju dan lebih berkembang tanpa harus “berutang” kepada negara lain. Karena kita tahu bahwa pemberian beasiswa dari lembaga manapun sebenarnya tidak gratis. Ada proses imbal-balik antara Indonesia dengan negara pemberi beasiswa dalam bentuk projek atau kerja sama lainnya.

Kelonggaran aturan

Dalam pandangan penulis, yang agak krusial dari kebijakan LPDP adalah aturan mengenai usia pelamar. Mengapa LPDP tidak memberikan kelonggaran bagi pelamar yang memang bersemangat untuk melanjutkan sekolah lagi? Jika argumentasinya adalah LPDP diberikan untuk para calon pemimpin negeri ini maka pertanyaannya adalah apakah kita hanya terpaku pada usia saja, untuk mengukur calon pemimpin? Di sisi lain, yang membutuhkan pendidikan lanjutan bukan hanya calon pemimpin, seperti yang menjadi kriteria LPDP. Ada banyak orang Indonesia berpotensi tetapi belum mendapatkan kesempatan untuk mengembangkan dirinya yang perlu “dibantu” dan difasilitasi oleh LPDP.

Selanjutnya, aturan yang “hanya boleh dua kali mendaftar LPDP” juga terkesan diskriminatif. Jika alasannya adalah masalah kesempatan atau besarnya jumlah penduduk Indonesia, dalam pandangan penulis, justru di situlah masalahnya. Sebagai lembaga kebanggaan negeri ini, LPDP seharusnya memberikan kesempatan seluas-luasnya kepada seluruh masyarakat Indonesia, tak perlu membatasi hanya dua kali mendaftar. Kegagalan seringkali disebabkan oleh banyak faktor, jika pelamar sakit tentu saja saat wawancara yang bersangkutan tidak dalam kondisi fit. Atau misalnya ketika ada kesempatan wawancara, yang bersangkutan berhalangan hadir karena kondisi yang darurat sehingga ia kehilangan kesempatan atau peluang mendapatkan beasiswa.

Di sisi lain, ada kritikan mengenai sejumlah penerima beasiswa yang berasal dari keluarga berada. Kritik tersebut menyebutkan bahwa mereka tak boleh mendapatkan beasiswa karena orangtua mereka mampu membiayai. Dalam hal ini, penulis tidak sependapat dengan argument itu. Karena bagaimanapun yang dinilai adalah kualitas personal, bukan sokongan dana dari orangtuanya. Jika memang sang kandidat layak mendapatkan beasiswa LPDP, ia berhak mendapatkannya meskipun berasal dari keluarga mampu. Hal ini tidak akan mengurangi kesempatan yang lain, sebab persaingan seharusnya mempertimbangkan kualitas diri pelamar, bukan kemampuan finansial orangtuanya semata.

Pada akhirnya, LPDP perlu mengkaji ulang beberapa kebijakannya demi kebaikan bersama. Kemudian, ada baiknya jika setiap perubahan kebijakan dilakukan di awal tahun, bukan di pertengahan tahun saat proses sedang berjalan. Hal ini untuk mengurangi kebingungan para calon pelamar akibat aturan yang sering berubah.***

NOTE : Artikel ini dimuat di Opini Harian Umum Pikiran Rakyat edisi 13 Juni 2015. Baca lebih lanjut

Apakah beasiswa = peningkatan kualitas pendidikan?

8 Jun

Berkesempatan untuk sharing tentang beasiswa dengan banyak mahasiswa, di luar Bandung, menjadi sebuah pengalaman yang menyenangkan bagi saya. Pada Rabu (27 Mei) lalu saya diundang untuk menjadi salah satu pembicara di seminar tentang beasiswa, yang diselenggarakan di Universitas Veteran Bangun Nusantara Sukoharjo. Yang hadir di acara tersebut ratusan mahasiswa dan terselip juga siswa SMA.

Saya diminta membawakan materi mengenai peningkatan kualitas pendidikan melalui beasiswa. Pertanyaannya memang, apakah benar beasiswa bisa menjadi jalan untuk meningkatkan kualitas pendidikan? Jika saya yang ditanya, tentu saja jawabannya, bisa. Karena saya adalah orang yang menyakini bahwa pendidikan adalah salah satu jalan untuk mengubah seseorang. Seperti yang saya kutip dari pernyataan Nelson Mandela, “education is the most powerful weapon to change the world”. Berangkat dari kutipan tersebut, saya memulai pemaparan saya tentang manfaat beasiswa dan cara-cara mendapatkannya.

Beasiswa bisa membantu peningkatan kualitas pendidikan karena mereka yang menerima beasiswa bisa fokus pada kuliahnya. Tak perlu memikirkan biaya pendidikan karena sudah ada yang membayari, begitu juga dengan biaya hidup selama kuliah, biaya fotokopi maupun biaya pembelian buku atau biaya penelitian. Dengan demikian, sang penerima beasiswa bisa lebih berfokus untuk belajar, menggali ilmu dan mengeksplorasi sumber-sumber ilmu yang dipelajarinya. Sebagian beasiswa (ke luar negeri) juga bahkan menanggung biaya hidup keluarga bagi yang sudah berkeluarga.. maka ketenangan saat menimba ilmu menjadi lebih purna karena didampingi keluarga tercinta. Banyak orang meyakini bahwa sekolah ditemani keluarga lebih menenangkan…

Saya membicarakan tentang manfaat sekolah berbeasiswa ke luar negeri. Terutama karena saya sendiri merasakan manfaatnya, saat dulu kuliah di Australia untuk menempuh jenjang S2 (master). Saya tak hanya mendapatkan ilmu di bangku kuliah, tetapi juga ilmu kehidupan saat berinteraksi dengan orang-orang dari berbagai bangsa… belajar tentang tradisi, tentang budaya, tentang bahasa dan juga masakan dari berbagai belahan dunia. Tentu saja, kemampuan bahasa Inggris saya juga meningkat karena saya menerapkannya dalam kehidupan sehari-hari.

Berangkat dari pengalaman tersebut, saya mengajak para hadirin untuk mulai mencari beasiswa ke luar negeri, Memulai dari langkah pertama… memikirkan dengan serius, minat belajarnya ke mana… atau kira-kira ke depan mau mengerjakan apa? Karena hal itu menjadi penuntun dalam mencari beasiswa. Misalnya, begini… saat ini sedang kuliah S1 di bidang lingkungan, lalu ingin melanjutkan pendidikan S2 dengan beasiswa, ya harus yang sesuai dengan lingkungan juga.. jangan melompat ke bidang ekonomi atau matematika, misalnya. Mengapa? Sebab salah satu yang diseleksi dalam proses penerimaan beasiswa adalah kesesuaian antara bidang S1 dan rencana S2 kita.. kalau memang sesuai, peluang untuk mendapatkan beasiswa menjadi lebih besar. Tetapi, kalau kita mau pindah bidang, selama kita bisa menjelaskan alasannya secara kuat – yang tentu saja sesuai dengan tujuan pemberian beasiswa – maka tak masalah kita berpindah bidang. Memang banyak orang (termasuk saya) yang S1 dan S2-nya tidak sesuai… jauh beda malah. Tetapi, ada pengalaman kerja yang menjadi “penengah”. Karena itu, poinnya adalah, selama kita bisa menjelaskan alasan pemilihan jurusan tersebut, terutama dikaitkan dengan tujuan pembangunan negeri ini, kita boleh-boleh saja “loncat jurusan”.

Langkah berikutnya adalah mempersiapkan kemampuan bahasa Inggris. Jangan takut duluan dengan syarat bahasa Inggris. Tidak semua beasiswa mensyaratkan bahasa Inggris yang tinggi skornya. Ada yang secukupnya tetapi ada juga yang harus memenuhi skor tertentu. Di sini, kita harus pandai-pandai mengukur kemampuan diri, tetapi bukan menjadi minder atau mundur dari rencana melanjutkan studi.

Setelah itu, kita harus mencari universitas yang sesuai dengan bidang kita…. Hal ini tidak bisa kita gantungkan pada orang tetapi kita harus mencari sendiri. Mendatangi pameran pendidikan, mendatangi agen-agen pendidikan luar negeri untuk mencari informasi atau googling di internet. Saya selalu menyampaikan kepada para peminat beasiswa untuk mencari sendiri informasi mengenai hal tersebut karena hanya kita sendirilah yang tahu kebutuhan studi kita.

Pertanyaan tentang, “sebaiknya saya masuk ke jurusan apa?” atau “apakah saya bisa ambil jurusan A di universitas X” atau “untuk jurusan Y, di universitas manakah yang terbagus?” menjadi kurang relevan karena sistem pendidikan di berbagai negara di dunia berbeda-beda. Sementara pindah jurusan, harus dikaitkan dengan tujuan pemberian beasiswa. So.. rencanakan sebaik-baiknya, tetapi jangan terlalu lama berpikir.. lakukan sambil berpikir… nanti sambil jalan, kita akan menemukan celah atau peluang..

Ngapain aja selama menjadi student PhD (S3) ?

17 Nov

Pekan lalu, saya mendapat email dari seorang teman baik saya. Ia baru saja menyelesaikan studi S3 di negeri kangguru. Saat ini ia tengah berusaha untuk mendaftar program postdoctoral (postdoc) di beberapa universitas di beberapa negara. Masih menunggu kabar sebab peluang untuk bidangnya emang sangat sedikit, tidak seperti bidang science yang banyak memberikan kesempatan untuk postdoc.

Salah satu yang ia lamar, memberikan kesempatan kepadanya untuk wawancara. Jadi mau jadi peserta program postdoc itu, tidak mudah. Seleksinya superketat sebab lowongan hanya tersedia beberapa, sementara peminat lebih banyak. Belum lagi kesesuaian antara bidang yang akan kita tekuni dengan peluang yang ada.

Berdasarkan pengalamannya wawancara tersebut, ia pun berbagi tips kepada saya. Ia bilang, mumpung belum mulai studi S3, ada baiknya saya tahuhal-hal yang sebaiknya dipersiapkan…. Supaya kelak, jika memang mau postdoc, sudah lebih siap. Teman saya juga mengatakan bahwa setiap negara punya budaya yang berbeda pendidikan mereka. Jadi belajar di Australia, akan berbeda dengan belajar di Jerman, akan berbeda dengan di UK.

Lalu saya bilang ke dia, boleh nggak tips yang diberikan pada saya, saya share di blog ini. Supaya lebih banyak memberikan manfaat sebab saya tahu di luar sana, banyak yang mencari informasi mengenai studi S3 dan postdoc. Ia mengizinkan.

Ada beberapa hal yang mungkin bisa dijadikan pelajaran untuk semua yang baru akan mulai PhD :

1. Good at research: yang ditunjukkan dengan paper yang diterima di berbagai conference besar di bidang kita. Akan lebih baik kalau sudah dipublikasikan di  jurnal minimal ranking B…. Ingat, jangan hanya mengejar kuantitas, tapi kualitas…Mungkin kita bisa cepat publish, tapi kalau cuma di ranking C or below, cuma akan dianggap rubbish (menurut beberapa seminar yang dia ikuti).

2. Good at teaching: usahakan untuk punya pengalaman menjadi tutor selama PhD…waktu terbaik, mungkin setelah konfirmasi dan setelah submit (jangan di tahun terakhir, sangat berat..karena tahun terakhir kita kerja bab analisis dan discussion…ini bab terberat PhD)….

3. Good at administrative work/community service: Gunakan waktu “luang” yang sangat “sempit” menjadi sesuatu yang bermanfaat untuk orang lain dan kita sendiri….terus terang, ini hal yang sangat berat…khususnya bagi yang sudah berkeluarga dan punya anak….gimana kita tetap punya kewajiban utama mengurus suami dan anak-anak.. Menjadi student S3 sangat berbeda dengan S2 karena segalanya harus kita manage sendiri…supervisor hanya taunya, kita harus bisa selesaikan target yang dikasih. (teman saya yang merupakan ibu dari tiga anak ini aktif sebagai relawan di Red Cross kota setempat, yaitu menjadi penjaga toko second hand milik Red Cross pada hari-hari tertentu dan juga menjadi relawan di salah satu organisasi Islam di negeri tersebut)
4. Good at attract fund: ditunjukkan dengan dapat grant/award, misal travel grant, dan scholarship.

5. Kemampuan riset akan sangat terasah kalau kita juga menggunakan waktu selama S3 untuk mau belajar metode-metode riset dan statistik yang lain/baru…Manfaatnya, kita akan bisa menulis paper dengan metode riset dan statistik yg lebih relevan dan statistik yang lebih rigour…Ingat, untuk bisa publikasi di jurnal rank atas, dibutuhkan analisis statistik yg sangat rigour..karena beberapa uji statistik yang dulu mungkin dianggap cukup, sekarang dianggap kurang kuat.. Selain itu, dengan tau beberapa hal baru yang tidak semua tau, bisa jadi jalan rezeki juga..:) misalnya, bisa jadi modal jadi research assistant , yang artinya mempunyai pekerjaan, atau penghasilan tambahan… lumayan banget kan:)  — note : teman saya menyelesaikan PhD lalu mendapat tawaran untuk menjadi research assistant (selama 1 tahun kontraknya), karena kemampuannya menggunakan beberapa metode statistik baru yang orang lain tidak tahu/belum paham.

Kadang ada yang bilang, saya sih nggak akan postdoc… ngapain susah-susah belajar banyak hal saat S3… Masalahnya adalah, kita kadang merasa begitu..tetapi begitu sudah selesai S3 dan melihat ada peluang, kita ingin mendaftar… tapi kurang di sini dan di situ…penyesalan kan biasanya datang belakangan…Maka tak ada salahnya menjalani S3 dengan sebaik-baiknya.. mana tau kelak kita memang serius ingin menjadi peneliti, postdoc adalah salah satu cara untuk memperkuat posisi kita sebagai peneliti atau researcher.

Good luck!

Conditional Letter adalah bentuk penolakan halus?

26 Agu

letter Beberapa bulan lalu, saya ditanya seorang student di IEDUC mengenai makna conditional letter dari universitas di luar negeri. Ia bertanya, bagaimana caranya mendapatkan letter of acceptance (LoA) dan bukan conditional letter saja. Pasalnya, ia pernah datang ke sebuah pameran pendidikan dan mendapat informasi bahwa conditional letter adalah “bentuk penolakan secara halus” dari pihak universitas. Whattt??

Saya menjelaskan bahwa sepanjang yang saya tahu, tak pernah mendengar bahwa conditional letter adalah bentuk penolakan secara halus dari pihak universitas. Saya tidak mengerti, bagaimana bisa seseorang di sebuah pameran pendidikan, yang pastinya paham urusan pendaftaran ke universitas, mengatakan hal tersebut. Namun saya tidak mau berlarut dalam pertanyaan tersebut. Apalagi yang bertanya pada saya mengenai hal tersebut, awam tentang beasiswa dan tetek bengek terkait dengan beasiswa dan pendaftaran ke universitas.

Saya jelaskan bahwa, di beberapa negara yang membebaskan biaya kuliah, seperti Jerman misalnya, calon mahasiswa akan mendapatkan LoA langsung saat semua persyaratan administrasi sudah terpenuhi. Pasalnya, tidak perlu ada biaya-biaya yang dikeluarkan sehingga LoA bisa diterbitkan. Sementara di negara-negara lain, misalnya Australia, seorang calon mahasiswa baru akan mendapatkan LoA kalau dia sudah membayar biaya kuliah untuk satu semester awal. Nah, sebelum melakukan pembayaran tersebut, status penawaran dari universitas adalah conditional letter alias diterima secara bersyarat. Biasanya, syaratnya ada dua yang menjadi penyebab keluarnya conditional letter, yaitu syarat bahasa Inggris skor IELTS minimal 6.5 atau 7 (di beberapa universitas tertentu) dan masing-masing band tidak ada yang kurang dari 6, serta melakukan pembayaran untuk tuition fee semester pertama. Jika syarat tersebut sudah dipenuhi, maka LoA akan diterbitkan.

Karena itulah, sebagian pemberi beasiswa, membolehkan pelamarnya menyerahkan bukti conditional letter saja pada mereka saat melamar beasiswa – dan bukan LoA. Nah, kalau begini.. dari mana penjelasan bahwa conditional letter adalah bentuk penolakan secara halus?

Memang, ada batasan untuk conditional letter tersebut. Surat ini biasanya hanya berlaku enam bulan dan bisa diperpanjang enam bulan lagi. Jika dalam jangka waktu tersebut belum juga masuk ke universitas tersebut, pelamar harus memulai dari awal lagi proses pendaftaran ke universitas karena conditional letter paling lama bisa bertahan satu tahun saja.

Dengan kondisi tersebut, maka biasanya, para calon mahasiswa akan berjuang sekeras mungkin untuk mendapatkan beasiswa dalam jangka waktu satu tahun itu. Jika tidak, risikonya ya itu tadi.. harus mengulang dari awal proses pendaftaran ke universitas.

Jadi, jangan percaya kalau ada yang bilang conditional letter itu tak berarti, atau penolakan secara halus atau apapun sejenisnya…:) Yuk keep fighting…

sumber gambar :
http://budgeting.thenest.com/conditional-letter-employment-24729.html

Injury Time for Applying Scholarship

18 Jul

Hari ini, tanggal 18 Juli 2014… adalah hari terakhir pendaftaran beasiswa AAS… Baru saja ada perbincangan telpon di kantor IEDUC mengenai hasil tes TOEFL ITP yang belum keluar hari ini padahal menurut jadwal keluar hari ini. Jadi, orang ini tidak bisa mendaftar AAS yang closing hari ini…

Memang hasil tes TOEFL ITP keluar hari ini tapi dikirim dari Jakarta ke Bandung. Jadi kemungkinan akan tiba di Bandung besok atau malah Senin.

Karena saya tahu hal itu bisa disiasati.. saya pun berinisiatif untuk menelpon orang tersebut. Saya menjelaskan bahwa, soft copy-nya saja dulu dikirimkan sambil menjelaskan bahwa hard copy akan dikirimkan hari Senin. Saya yakin AAS bisa menerima penjelasan tersebut. Karena hal itu juga bisa dilakukan untuk tes IELTS. Apalagi di form isiannya kan ditulis pertanyaan, apakah Anda sudah mempunyai skor TOEFL/IELTS? Jika belum, kapan akan melakukan tes?

Artinya, kita bisa saja mendaftar AAS tapi belum punya hard copy hasil tes TOEFL/IELTS. Makanya, bisa disiasati. Tapi kalau syarat lain belum lengkap, ya lain soal….

Ternyata setelah saya jelaskan cukup panjang lebar, dia mengaku bahwa bukan semata karena skor TOEFL ITP yang belum keluar saja yang membuat dia galau sehingga tak jadi daftar AAS, tapi karena surat rekomendasi dari dosennya juga belum ada. Dia juga mengatakan bahwa, baru tahu dua hari yang lalu kalau AAS penutupannya hari ini.

Haduhhhhh….

Bukan apa-apa, sejak minggu lalu, saya bertemu lebih dari lima orang yang berkonsultasi mengenai pendaftaran AAS ini, pada last minutes… injury time. Entah apa yang ada dalam benak orang-orang ini, tetapi saat saya membaca aplikasi mereka, atau mendengar pertanyaan mereka.. saya kok jadi agak khawatir bahwa mereka akan kesulitan mengejar deadline yang tinggal beberapa hari lagi…

Mungkin, mereka pikir, ini kan cuma ngisi aplikasi saja.. gampang. Faktanya, saat saya cek isian aplikasi mereka, rata-rata belum menjawab pertanyaan yang dimaksudkan. Betul, mereka mengisi kolom yang disediakan, tetapi sebagian besar jawabannya belum menjawab pertanyaan yang dimaksudkan. Nah, berarti harus direvisi kan.. Itu perlu waktu lagi. Setelah ditulis lagi, harus dicek lagi…

Kalau hasil pengecekan kedua sudah OK, bisa langsung dibereskan tapi kalau belum juga menjawab poin yang diharapkan, berarti ada revisi lagi kan? Perlu waktu lagi juga kan? Kalo sudah kepepet waktunya, akhirnya kirimnya seadanya.. nanti kalo gagal katanya, “ahh saya nggak berhasil”..

Padahal, jika dirunut-runut, ternyata memang persiapan untuk mendaftarnya juga tidak optimal. Akibatnya, hasilnya pun tidak sesuai harapan…

Ini masih ditambah lagi dengan belum siapnya berkas-berkas persyaratan yang lain. Misalnya sertifikat ini dan itu, rekomendasi dosen pembimbing atau rencana studi. Yang semua itu, tidak bisa diselesaikan dalam sehari apalagi semalam…

Kenapa ya? Suka sekali mepet-mepet.. hehehe.. Yang paling parah adalah dampaknya, saat ternyata kita gagal, lalu putus harapan dan tak mau mendaftar lagi dengan alasan, “tahun kemarin saya daftar, tapi gagal…susah banget yaa…”

Ayolahhh, kita introspeksi diri.. saat daftar yang gagal itu, apakah kita sudah berusaha secara optimal mempersiapkan semuanya? Jika tidak, yaaa… wajar saja. Tetapi jika pun sudah mempersiapkan diri jauh-jauh hari, dan juga masih gagal.. kita bisa evaluasi ulang, di mana letak masalahnya.. bisa kok dievaluasi.. meskipun tentunya tidak 100 persen benar, tetapi pasti bisa diketahui penyebab kegagalan tersebut. Lalu perbaiki dan jangan diulang tahun depan..

Pendaftaran beasiswa, umumnya dibuka dalam jangka yang cukup panjang. Antara satu bulan hingga empat bulan. Jadi kalau kita tahu sejak awal pembukaan, langsung persiapkan.. jangan malah berleha-leha karena waktunya panjang, tapi kemudian nanti kaget pas tahu bahwa penutupannya tinggal dua hari lagi..

Jadi, mari.. kita hindari pendaftaran beasiswa pada injury time…:D

Ikuti

Kirimkan setiap pos baru ke Kotak Masuk Anda.

Bergabunglah dengan 92 pengikut lainnya