Menilik Kebijakan Baru LPDP

28 Jul

opini_aan 13 Juni 2015_menilik kebijakan baru LPDP

Pada 28 April lalu, Lembaga Pengelola Dana Pendidikan (LPDP) mengeluarkan kebijakan baru bagi para peminat beasiswa dari lembaga tersebut. Dua hal yang menonjol dari kebijakan barunya adalah persyaratan tes kesehatan saat mendaftar dan adanya tes berupa on the spot essay writing – bukan di-upload seperti sebelumnya.

Ada pula sejumlah syarat yang terbilang baru, meskipun tidak baru sama sekali. Misalnya, para pelamar yang gagal diberi kesempatan hanya satu kali lagi untuk mendaftar. Jika gagal lagi maka mereka akan di-black list oleh LPDP dan tidak bisa lagi mendaftar selama-lamanya. Sebelumnya aturan mengenai pendaftaran ini adalah bahwa jika pelamar gagal untuk pertama kalinya, ia baru boleh mendaftar enam bulan kemudian. Tidak ada batasan mengenai berapa kali bisa mendaftar.

Aturan-aturan lain yang ditetapkan LPDP dalam pendaftaran beasiswa pendidikan Indonesia (BPI) – nama resmi beasiswa LPDP, memang berubah-ubah sejak didirikannya lembaga tersebut pada 2012 silam. Hal ini bisa dimaklumi mengingat lembaga tersebut adalah institusi baru. Apalagi, pengelola lembaga ini berasal dari tiga kementerian berbeda yakni Kementerian Keuangan, Kementerian Pendidikan, dan Kementerian Agama.

Namun demikian, berbagai kendala yang dihadapi oleh lembaga baru yang merupakan harapan bagi warga Indonesia untuk melanjutkan pendidikan ke jenjang yang lebih tinggi itu, seharusnya tidak merugikan para peminatnya yang nota bene adalah penduduk Indonesia. Apalagi, para profesional yang bergabung dengan LPDP bukanlah sembarang orang. Mereka mempunyai pengalaman di dunia pendidikan, sebagian dari mereka bahkan mengenyam pendidikan di luar negeri dan yang pasti diseleksi dengan ketat saat bergabung dengan lembaga yang mengelola dana abadi berjumlah triliunan rupiah itu.

Lembaga impian?

Saat pertama kali diluncurkan, banyak pihak yang ragu dan pesimis karena lembaga ini. Ia seperti “lembaga impian” bahkan sebagian orang mengatakan lembaga ini seperti “too good to be true”. Namun saat kelonggaran aturan diberlakukan, para peminat pun berbondong-bondong melamar. Mereka memang seperti diberi harapan. Sayangnya, harapan itu tak berlaku bagi semua orang. Ada pihak-pihak yang merasa tidak terwakili harapannya. Di antaranya, mereka yang ingin belajar ke luar negeri tetapi berkemampuan bahasa Inggris pas-pasan atau terbatas. Mereka harus berjuang keras untuk mencapai nilai bahasa Inggris yang dipersyaratkan – yang tidak selalu mudah bagi setiap orang dan LPDP tidak memfasilitasi hal ini. Mereka yang ingin melanjutkan pendidikan di universitas tertentu tetapi tidak bisa mendaftar karena universitas tujuannya tidak ada dalam daftar yang diperbolehkan LPDP. Yang lebih “tragis” adalah mereka yang mencapai usia tertentu, tidak bisa mendaftar BPI karena adanya batasan ‘saklek’ tentang usia pelamar.

Padahal beberapa lembaga pemberi beasiswa lain, yang notabene adalah lembaga asing memberikan kelonggaran untuk persyaratan-persyaratan di atas. Mungkin, manajemen LPDP bisa mempertimbangkan kembali berbagai aturan tersebut agar bisa lebih adil bagi para peminatnya. Bagaimanapun, LPDP adalah harapan bagi penduduk negeri ini yang ingin maju dan lebih berkembang tanpa harus “berutang” kepada negara lain. Karena kita tahu bahwa pemberian beasiswa dari lembaga manapun sebenarnya tidak gratis. Ada proses imbal-balik antara Indonesia dengan negara pemberi beasiswa dalam bentuk projek atau kerja sama lainnya.

Kelonggaran aturan

Dalam pandangan penulis, yang agak krusial dari kebijakan LPDP adalah aturan mengenai usia pelamar. Mengapa LPDP tidak memberikan kelonggaran bagi pelamar yang memang bersemangat untuk melanjutkan sekolah lagi? Jika argumentasinya adalah LPDP diberikan untuk para calon pemimpin negeri ini maka pertanyaannya adalah apakah kita hanya terpaku pada usia saja, untuk mengukur calon pemimpin? Di sisi lain, yang membutuhkan pendidikan lanjutan bukan hanya calon pemimpin, seperti yang menjadi kriteria LPDP. Ada banyak orang Indonesia berpotensi tetapi belum mendapatkan kesempatan untuk mengembangkan dirinya yang perlu “dibantu” dan difasilitasi oleh LPDP.

Selanjutnya, aturan yang “hanya boleh dua kali mendaftar LPDP” juga terkesan diskriminatif. Jika alasannya adalah masalah kesempatan atau besarnya jumlah penduduk Indonesia, dalam pandangan penulis, justru di situlah masalahnya. Sebagai lembaga kebanggaan negeri ini, LPDP seharusnya memberikan kesempatan seluas-luasnya kepada seluruh masyarakat Indonesia, tak perlu membatasi hanya dua kali mendaftar. Kegagalan seringkali disebabkan oleh banyak faktor, jika pelamar sakit tentu saja saat wawancara yang bersangkutan tidak dalam kondisi fit. Atau misalnya ketika ada kesempatan wawancara, yang bersangkutan berhalangan hadir karena kondisi yang darurat sehingga ia kehilangan kesempatan atau peluang mendapatkan beasiswa.

Di sisi lain, ada kritikan mengenai sejumlah penerima beasiswa yang berasal dari keluarga berada. Kritik tersebut menyebutkan bahwa mereka tak boleh mendapatkan beasiswa karena orangtua mereka mampu membiayai. Dalam hal ini, penulis tidak sependapat dengan argument itu. Karena bagaimanapun yang dinilai adalah kualitas personal, bukan sokongan dana dari orangtuanya. Jika memang sang kandidat layak mendapatkan beasiswa LPDP, ia berhak mendapatkannya meskipun berasal dari keluarga mampu. Hal ini tidak akan mengurangi kesempatan yang lain, sebab persaingan seharusnya mempertimbangkan kualitas diri pelamar, bukan kemampuan finansial orangtuanya semata.

Pada akhirnya, LPDP perlu mengkaji ulang beberapa kebijakannya demi kebaikan bersama. Kemudian, ada baiknya jika setiap perubahan kebijakan dilakukan di awal tahun, bukan di pertengahan tahun saat proses sedang berjalan. Hal ini untuk mengurangi kebingungan para calon pelamar akibat aturan yang sering berubah.***

NOTE : Artikel ini dimuat di Opini Harian Umum Pikiran Rakyat edisi 13 Juni 2015. Baca lebih lanjut

Apakah beasiswa = peningkatan kualitas pendidikan?

8 Jun

Berkesempatan untuk sharing tentang beasiswa dengan banyak mahasiswa, di luar Bandung, menjadi sebuah pengalaman yang menyenangkan bagi saya. Pada Rabu (27 Mei) lalu saya diundang untuk menjadi salah satu pembicara di seminar tentang beasiswa, yang diselenggarakan di Universitas Veteran Bangun Nusantara Sukoharjo. Yang hadir di acara tersebut ratusan mahasiswa dan terselip juga siswa SMA.

Saya diminta membawakan materi mengenai peningkatan kualitas pendidikan melalui beasiswa. Pertanyaannya memang, apakah benar beasiswa bisa menjadi jalan untuk meningkatkan kualitas pendidikan? Jika saya yang ditanya, tentu saja jawabannya, bisa. Karena saya adalah orang yang menyakini bahwa pendidikan adalah salah satu jalan untuk mengubah seseorang. Seperti yang saya kutip dari pernyataan Nelson Mandela, “education is the most powerful weapon to change the world”. Berangkat dari kutipan tersebut, saya memulai pemaparan saya tentang manfaat beasiswa dan cara-cara mendapatkannya.

Beasiswa bisa membantu peningkatan kualitas pendidikan karena mereka yang menerima beasiswa bisa fokus pada kuliahnya. Tak perlu memikirkan biaya pendidikan karena sudah ada yang membayari, begitu juga dengan biaya hidup selama kuliah, biaya fotokopi maupun biaya pembelian buku atau biaya penelitian. Dengan demikian, sang penerima beasiswa bisa lebih berfokus untuk belajar, menggali ilmu dan mengeksplorasi sumber-sumber ilmu yang dipelajarinya. Sebagian beasiswa (ke luar negeri) juga bahkan menanggung biaya hidup keluarga bagi yang sudah berkeluarga.. maka ketenangan saat menimba ilmu menjadi lebih purna karena didampingi keluarga tercinta. Banyak orang meyakini bahwa sekolah ditemani keluarga lebih menenangkan…

Saya membicarakan tentang manfaat sekolah berbeasiswa ke luar negeri. Terutama karena saya sendiri merasakan manfaatnya, saat dulu kuliah di Australia untuk menempuh jenjang S2 (master). Saya tak hanya mendapatkan ilmu di bangku kuliah, tetapi juga ilmu kehidupan saat berinteraksi dengan orang-orang dari berbagai bangsa… belajar tentang tradisi, tentang budaya, tentang bahasa dan juga masakan dari berbagai belahan dunia. Tentu saja, kemampuan bahasa Inggris saya juga meningkat karena saya menerapkannya dalam kehidupan sehari-hari.

Berangkat dari pengalaman tersebut, saya mengajak para hadirin untuk mulai mencari beasiswa ke luar negeri, Memulai dari langkah pertama… memikirkan dengan serius, minat belajarnya ke mana… atau kira-kira ke depan mau mengerjakan apa? Karena hal itu menjadi penuntun dalam mencari beasiswa. Misalnya, begini… saat ini sedang kuliah S1 di bidang lingkungan, lalu ingin melanjutkan pendidikan S2 dengan beasiswa, ya harus yang sesuai dengan lingkungan juga.. jangan melompat ke bidang ekonomi atau matematika, misalnya. Mengapa? Sebab salah satu yang diseleksi dalam proses penerimaan beasiswa adalah kesesuaian antara bidang S1 dan rencana S2 kita.. kalau memang sesuai, peluang untuk mendapatkan beasiswa menjadi lebih besar. Tetapi, kalau kita mau pindah bidang, selama kita bisa menjelaskan alasannya secara kuat – yang tentu saja sesuai dengan tujuan pemberian beasiswa – maka tak masalah kita berpindah bidang. Memang banyak orang (termasuk saya) yang S1 dan S2-nya tidak sesuai… jauh beda malah. Tetapi, ada pengalaman kerja yang menjadi “penengah”. Karena itu, poinnya adalah, selama kita bisa menjelaskan alasan pemilihan jurusan tersebut, terutama dikaitkan dengan tujuan pembangunan negeri ini, kita boleh-boleh saja “loncat jurusan”.

Langkah berikutnya adalah mempersiapkan kemampuan bahasa Inggris. Jangan takut duluan dengan syarat bahasa Inggris. Tidak semua beasiswa mensyaratkan bahasa Inggris yang tinggi skornya. Ada yang secukupnya tetapi ada juga yang harus memenuhi skor tertentu. Di sini, kita harus pandai-pandai mengukur kemampuan diri, tetapi bukan menjadi minder atau mundur dari rencana melanjutkan studi.

Setelah itu, kita harus mencari universitas yang sesuai dengan bidang kita…. Hal ini tidak bisa kita gantungkan pada orang tetapi kita harus mencari sendiri. Mendatangi pameran pendidikan, mendatangi agen-agen pendidikan luar negeri untuk mencari informasi atau googling di internet. Saya selalu menyampaikan kepada para peminat beasiswa untuk mencari sendiri informasi mengenai hal tersebut karena hanya kita sendirilah yang tahu kebutuhan studi kita.

Pertanyaan tentang, “sebaiknya saya masuk ke jurusan apa?” atau “apakah saya bisa ambil jurusan A di universitas X” atau “untuk jurusan Y, di universitas manakah yang terbagus?” menjadi kurang relevan karena sistem pendidikan di berbagai negara di dunia berbeda-beda. Sementara pindah jurusan, harus dikaitkan dengan tujuan pemberian beasiswa. So.. rencanakan sebaik-baiknya, tetapi jangan terlalu lama berpikir.. lakukan sambil berpikir… nanti sambil jalan, kita akan menemukan celah atau peluang..

Ngapain aja selama menjadi student PhD (S3) ?

17 Nov

Pekan lalu, saya mendapat email dari seorang teman baik saya. Ia baru saja menyelesaikan studi S3 di negeri kangguru. Saat ini ia tengah berusaha untuk mendaftar program postdoctoral (postdoc) di beberapa universitas di beberapa negara. Masih menunggu kabar sebab peluang untuk bidangnya emang sangat sedikit, tidak seperti bidang science yang banyak memberikan kesempatan untuk postdoc.

Salah satu yang ia lamar, memberikan kesempatan kepadanya untuk wawancara. Jadi mau jadi peserta program postdoc itu, tidak mudah. Seleksinya superketat sebab lowongan hanya tersedia beberapa, sementara peminat lebih banyak. Belum lagi kesesuaian antara bidang yang akan kita tekuni dengan peluang yang ada.

Berdasarkan pengalamannya wawancara tersebut, ia pun berbagi tips kepada saya. Ia bilang, mumpung belum mulai studi S3, ada baiknya saya tahuhal-hal yang sebaiknya dipersiapkan…. Supaya kelak, jika memang mau postdoc, sudah lebih siap. Teman saya juga mengatakan bahwa setiap negara punya budaya yang berbeda pendidikan mereka. Jadi belajar di Australia, akan berbeda dengan belajar di Jerman, akan berbeda dengan di UK.

Lalu saya bilang ke dia, boleh nggak tips yang diberikan pada saya, saya share di blog ini. Supaya lebih banyak memberikan manfaat sebab saya tahu di luar sana, banyak yang mencari informasi mengenai studi S3 dan postdoc. Ia mengizinkan.

Ada beberapa hal yang mungkin bisa dijadikan pelajaran untuk semua yang baru akan mulai PhD :

1. Good at research: yang ditunjukkan dengan paper yang diterima di berbagai conference besar di bidang kita. Akan lebih baik kalau sudah dipublikasikan di  jurnal minimal ranking B…. Ingat, jangan hanya mengejar kuantitas, tapi kualitas…Mungkin kita bisa cepat publish, tapi kalau cuma di ranking C or below, cuma akan dianggap rubbish (menurut beberapa seminar yang dia ikuti).

2. Good at teaching: usahakan untuk punya pengalaman menjadi tutor selama PhD…waktu terbaik, mungkin setelah konfirmasi dan setelah submit (jangan di tahun terakhir, sangat berat..karena tahun terakhir kita kerja bab analisis dan discussion…ini bab terberat PhD)….

3. Good at administrative work/community service: Gunakan waktu “luang” yang sangat “sempit” menjadi sesuatu yang bermanfaat untuk orang lain dan kita sendiri….terus terang, ini hal yang sangat berat…khususnya bagi yang sudah berkeluarga dan punya anak….gimana kita tetap punya kewajiban utama mengurus suami dan anak-anak.. Menjadi student S3 sangat berbeda dengan S2 karena segalanya harus kita manage sendiri…supervisor hanya taunya, kita harus bisa selesaikan target yang dikasih. (teman saya yang merupakan ibu dari tiga anak ini aktif sebagai relawan di Red Cross kota setempat, yaitu menjadi penjaga toko second hand milik Red Cross pada hari-hari tertentu dan juga menjadi relawan di salah satu organisasi Islam di negeri tersebut)
4. Good at attract fund: ditunjukkan dengan dapat grant/award, misal travel grant, dan scholarship.

5. Kemampuan riset akan sangat terasah kalau kita juga menggunakan waktu selama S3 untuk mau belajar metode-metode riset dan statistik yang lain/baru…Manfaatnya, kita akan bisa menulis paper dengan metode riset dan statistik yg lebih relevan dan statistik yang lebih rigour…Ingat, untuk bisa publikasi di jurnal rank atas, dibutuhkan analisis statistik yg sangat rigour..karena beberapa uji statistik yang dulu mungkin dianggap cukup, sekarang dianggap kurang kuat.. Selain itu, dengan tau beberapa hal baru yang tidak semua tau, bisa jadi jalan rezeki juga..:) misalnya, bisa jadi modal jadi research assistant , yang artinya mempunyai pekerjaan, atau penghasilan tambahan… lumayan banget kan :)  — note : teman saya menyelesaikan PhD lalu mendapat tawaran untuk menjadi research assistant (selama 1 tahun kontraknya), karena kemampuannya menggunakan beberapa metode statistik baru yang orang lain tidak tahu/belum paham.

Kadang ada yang bilang, saya sih nggak akan postdoc… ngapain susah-susah belajar banyak hal saat S3… Masalahnya adalah, kita kadang merasa begitu..tetapi begitu sudah selesai S3 dan melihat ada peluang, kita ingin mendaftar… tapi kurang di sini dan di situ…penyesalan kan biasanya datang belakangan…Maka tak ada salahnya menjalani S3 dengan sebaik-baiknya.. mana tau kelak kita memang serius ingin menjadi peneliti, postdoc adalah salah satu cara untuk memperkuat posisi kita sebagai peneliti atau researcher.

Good luck!

Conditional Letter adalah bentuk penolakan halus?

26 Agu

letter Beberapa bulan lalu, saya ditanya seorang student di IEDUC mengenai makna conditional letter dari universitas di luar negeri. Ia bertanya, bagaimana caranya mendapatkan letter of acceptance (LoA) dan bukan conditional letter saja. Pasalnya, ia pernah datang ke sebuah pameran pendidikan dan mendapat informasi bahwa conditional letter adalah “bentuk penolakan secara halus” dari pihak universitas. Whattt??

Saya menjelaskan bahwa sepanjang yang saya tahu, tak pernah mendengar bahwa conditional letter adalah bentuk penolakan secara halus dari pihak universitas. Saya tidak mengerti, bagaimana bisa seseorang di sebuah pameran pendidikan, yang pastinya paham urusan pendaftaran ke universitas, mengatakan hal tersebut. Namun saya tidak mau berlarut dalam pertanyaan tersebut. Apalagi yang bertanya pada saya mengenai hal tersebut, awam tentang beasiswa dan tetek bengek terkait dengan beasiswa dan pendaftaran ke universitas.

Saya jelaskan bahwa, di beberapa negara yang membebaskan biaya kuliah, seperti Jerman misalnya, calon mahasiswa akan mendapatkan LoA langsung saat semua persyaratan administrasi sudah terpenuhi. Pasalnya, tidak perlu ada biaya-biaya yang dikeluarkan sehingga LoA bisa diterbitkan. Sementara di negara-negara lain, misalnya Australia, seorang calon mahasiswa baru akan mendapatkan LoA kalau dia sudah membayar biaya kuliah untuk satu semester awal. Nah, sebelum melakukan pembayaran tersebut, status penawaran dari universitas adalah conditional letter alias diterima secara bersyarat. Biasanya, syaratnya ada dua yang menjadi penyebab keluarnya conditional letter, yaitu syarat bahasa Inggris skor IELTS minimal 6.5 atau 7 (di beberapa universitas tertentu) dan masing-masing band tidak ada yang kurang dari 6, serta melakukan pembayaran untuk tuition fee semester pertama. Jika syarat tersebut sudah dipenuhi, maka LoA akan diterbitkan.

Karena itulah, sebagian pemberi beasiswa, membolehkan pelamarnya menyerahkan bukti conditional letter saja pada mereka saat melamar beasiswa – dan bukan LoA. Nah, kalau begini.. dari mana penjelasan bahwa conditional letter adalah bentuk penolakan secara halus?

Memang, ada batasan untuk conditional letter tersebut. Surat ini biasanya hanya berlaku enam bulan dan bisa diperpanjang enam bulan lagi. Jika dalam jangka waktu tersebut belum juga masuk ke universitas tersebut, pelamar harus memulai dari awal lagi proses pendaftaran ke universitas karena conditional letter paling lama bisa bertahan satu tahun saja.

Dengan kondisi tersebut, maka biasanya, para calon mahasiswa akan berjuang sekeras mungkin untuk mendapatkan beasiswa dalam jangka waktu satu tahun itu. Jika tidak, risikonya ya itu tadi.. harus mengulang dari awal proses pendaftaran ke universitas.

Jadi, jangan percaya kalau ada yang bilang conditional letter itu tak berarti, atau penolakan secara halus atau apapun sejenisnya…:) Yuk keep fighting…

sumber gambar :
http://budgeting.thenest.com/conditional-letter-employment-24729.html

Injury Time for Applying Scholarship

18 Jul

Hari ini, tanggal 18 Juli 2014… adalah hari terakhir pendaftaran beasiswa AAS… Baru saja ada perbincangan telpon di kantor IEDUC mengenai hasil tes TOEFL ITP yang belum keluar hari ini padahal menurut jadwal keluar hari ini. Jadi, orang ini tidak bisa mendaftar AAS yang closing hari ini…

Memang hasil tes TOEFL ITP keluar hari ini tapi dikirim dari Jakarta ke Bandung. Jadi kemungkinan akan tiba di Bandung besok atau malah Senin.

Karena saya tahu hal itu bisa disiasati.. saya pun berinisiatif untuk menelpon orang tersebut. Saya menjelaskan bahwa, soft copy-nya saja dulu dikirimkan sambil menjelaskan bahwa hard copy akan dikirimkan hari Senin. Saya yakin AAS bisa menerima penjelasan tersebut. Karena hal itu juga bisa dilakukan untuk tes IELTS. Apalagi di form isiannya kan ditulis pertanyaan, apakah Anda sudah mempunyai skor TOEFL/IELTS? Jika belum, kapan akan melakukan tes?

Artinya, kita bisa saja mendaftar AAS tapi belum punya hard copy hasil tes TOEFL/IELTS. Makanya, bisa disiasati. Tapi kalau syarat lain belum lengkap, ya lain soal….

Ternyata setelah saya jelaskan cukup panjang lebar, dia mengaku bahwa bukan semata karena skor TOEFL ITP yang belum keluar saja yang membuat dia galau sehingga tak jadi daftar AAS, tapi karena surat rekomendasi dari dosennya juga belum ada. Dia juga mengatakan bahwa, baru tahu dua hari yang lalu kalau AAS penutupannya hari ini.

Haduhhhhh….

Bukan apa-apa, sejak minggu lalu, saya bertemu lebih dari lima orang yang berkonsultasi mengenai pendaftaran AAS ini, pada last minutes… injury time. Entah apa yang ada dalam benak orang-orang ini, tetapi saat saya membaca aplikasi mereka, atau mendengar pertanyaan mereka.. saya kok jadi agak khawatir bahwa mereka akan kesulitan mengejar deadline yang tinggal beberapa hari lagi…

Mungkin, mereka pikir, ini kan cuma ngisi aplikasi saja.. gampang. Faktanya, saat saya cek isian aplikasi mereka, rata-rata belum menjawab pertanyaan yang dimaksudkan. Betul, mereka mengisi kolom yang disediakan, tetapi sebagian besar jawabannya belum menjawab pertanyaan yang dimaksudkan. Nah, berarti harus direvisi kan.. Itu perlu waktu lagi. Setelah ditulis lagi, harus dicek lagi…

Kalau hasil pengecekan kedua sudah OK, bisa langsung dibereskan tapi kalau belum juga menjawab poin yang diharapkan, berarti ada revisi lagi kan? Perlu waktu lagi juga kan? Kalo sudah kepepet waktunya, akhirnya kirimnya seadanya.. nanti kalo gagal katanya, “ahh saya nggak berhasil”..

Padahal, jika dirunut-runut, ternyata memang persiapan untuk mendaftarnya juga tidak optimal. Akibatnya, hasilnya pun tidak sesuai harapan…

Ini masih ditambah lagi dengan belum siapnya berkas-berkas persyaratan yang lain. Misalnya sertifikat ini dan itu, rekomendasi dosen pembimbing atau rencana studi. Yang semua itu, tidak bisa diselesaikan dalam sehari apalagi semalam…

Kenapa ya? Suka sekali mepet-mepet.. hehehe.. Yang paling parah adalah dampaknya, saat ternyata kita gagal, lalu putus harapan dan tak mau mendaftar lagi dengan alasan, “tahun kemarin saya daftar, tapi gagal…susah banget yaa…”

Ayolahhh, kita introspeksi diri.. saat daftar yang gagal itu, apakah kita sudah berusaha secara optimal mempersiapkan semuanya? Jika tidak, yaaa… wajar saja. Tetapi jika pun sudah mempersiapkan diri jauh-jauh hari, dan juga masih gagal.. kita bisa evaluasi ulang, di mana letak masalahnya.. bisa kok dievaluasi.. meskipun tentunya tidak 100 persen benar, tetapi pasti bisa diketahui penyebab kegagalan tersebut. Lalu perbaiki dan jangan diulang tahun depan..

Pendaftaran beasiswa, umumnya dibuka dalam jangka yang cukup panjang. Antara satu bulan hingga empat bulan. Jadi kalau kita tahu sejak awal pembukaan, langsung persiapkan.. jangan malah berleha-leha karena waktunya panjang, tapi kemudian nanti kaget pas tahu bahwa penutupannya tinggal dua hari lagi..

Jadi, mari.. kita hindari pendaftaran beasiswa pada injury time…:D

Mencari dan Menemukan Supervisor

15 Jul

A-day-in-the-lifePerbedaan sistem pendidikan di Indonesia dan di negara barat, khususnya untuk jenjang S3, membuat banyak calon mahasiswa S3 ke luar negeri kurang memahami langkah demi langkah yang harus mereka tempuh untuk melanjutkan pendidikannya. Salah satu yang paling umum terjadi adalah “bagaimana cara menemukan supervisor”.

Penyebab utamanya adalah karena untuk S3 di Indonesia, calon mahasiswa bisa langsung mendaftar ke universitas tujuan dan jika diterima, akan menjalani proses belajar di kelas selama beberapa waktu. Setelah itu, baru mulai memikirkan mengenai rencana tesisnya, mencari pembimbing dan mulai mengerjakan tahap demi tahap proses penelitian.

Sementara kuliah S3 di luar negeri, di mayoritas negara-negara maju seperti di Eropa dan Australia, sejak awal calon mahasiswa harus sudah mempunyai dosen pembimbing alias supervisor untuk S3-nya itu.
Karenanya, menjadi suatu hal yang wajib untuk mencari dan menemukan supervisor yang sesuai dengan bidang yang akan kita teliti. Yang perlu juga diketahui, mayoritas S3 di luar negeri, sepenuhnya riset. Tidak ada kelas yang harus diikuti sebelumnya sehingga menemukan supervisor yang bersedia menjadi pembimbing riset kita, adalah hal yang wajib.

Jadi sejak hari pertama perkuliahan, kita sudah menjalani proses riset. Kegiatan yang dilakukan selama pendidikan S3 di luar negeri, kurang lebih seperti ini : penelitian dengan berselancar di internet mencari jurnal-jurnal, penelitian di laboratorium (bagi yang memerlukannya, umumnya untuk ilmu pasti sedangkan ilmu sosial tidak pakai laboratorium), bertemu secara berkala dengan supervisor untuk berdiskusi dan membahas perkembangan riset, menghadiri konferensi dan atau seminar internasional maupun yang internal kampus, mengambil data penelitian serta menuliskan tesis.

Proses tersebut dilakukan secara mandiri alias independen. Tidak ada yang akan menyuruh kita melakukan ini dan itu, tetapi tanggung jawab pribadilah yang menjadi ukurannya.

Lalu bagaimana cara menemukan supervisor tersebut? Ada beberapa cara :

1. Membaca banyak jurnal internasional, dengan begitu kita akan tahu mengenai penulisnya. Kita bisa telusuri siapakah dia dan berada di kampus mana. Jika dia orang yang tepat, alias sesuai dengan rencana riset kita, maka kita bisa berkirim email padanya dan meminta kesediaan orang tersebut untuk menjadi supervisor kita.
2. Bertemu di suatu forum internasional atau projek tertentu. Bisa saja, tanpa sengaja kita bertemu dengan seorang pakar di bidang kita, secara langsung. Nah, kita bisa langsung juga bertanya apakah beliau bersedia menjadi supervisor kita? Biasanya proses ini lebih mudah karena kita bertemu langsung sehingga bisa bicara lebih leluasa.

3. Mencari ke universitas yang kita tahu bahwa di universitas tersebut, bidang kita bagus. Misalnya, kita mau riset tentang public policy dan kita tahu bahwa di ANU itu bagus untuk bidang public policy, lalu kita pergi ke website ANU dan mulai mencari pakar di bidang public policy yang sesuai dengan rencana riset kita. Di website universitas, kita bisa menemukan nama-nama pakar beserta bidang keahliannya masing-masing. Kita juga bisa melihat riset atau projek yang pernah dilakukan para pakar tersebut. Di sana juga akan tertulis alamat email jika kita ingin menghubungi. Seperti langkah di nomor 1, kita kirim email ke pakar tersebut dan bertanya kesediaannya, apakah mau menjadi supervisor S3 kita?

4. Cara lain adalah, mendapatkan informasi dari teman yang sedang sekolah di luar negeri, tentang seorang pakar. Bisa saja, kita mendapat info awal dari teman kita. Setelah itu, kita tindak lanjuti dengan mengecek di website untuk mengetahui informasi tersebut benar atau tidak, apakah pakar tersebut memang cocok dengan rencana riset kita. Jika ya, barulah kita kirimkan email kepadanya.

5. Cara yang lain adalah, mengenalnya saat kuliah di kampus tersebut. Seperti yang saya alami. Saya melamar supervisor S3 yang saya tahu bidang kepakarannya, karena saya pernah mengikuti mata kuliah yang dia pegang. Jadi saya pernah menjadi mahasiswanya. Makanya saya tahu persis bidang yang menjadi minatnya. Saya pun kirim email ke beliau, dan menjelaskan bahwa saya pernah kuliah di kelasnya dan sekarang berminat untuk melanjutkan S3 di bidang tersebut, apakah bersedia menjadi supervisor saya?

Persoalannya, bagaimana kita bisa mengirimkan email dan bertanya tentang kesediaan seorang pakar, jika kita tak punya bayangan mau melakukan riset tentang apa. Karena itu, keberadaan rencana riset alias research plan (syukur-syukur research proposal) menjadi HAL yang MUTLAK adanya.

Jadi langkah pertama yang harus dilakukan adalah, menentukan rencana riset dulu, baru menghubungi calon supervisor. Lantas, bagaimana cara membuat research plan? Silakan buka google dan ketik kata kunci “research plan” dan “example” dan atau “sample”. Pasti akan muncul banyak contoh dan versi, silakan baca beberapa dan pilih yang dirasa paling sesuai :)

Umumnya calon supervisor tidak minta research plan yang panjang karena mereka juga tidak punya banyak waktu. Mereka adalah orang-orang yang sibuk. Jadi, 1-3 halaman research plan sudah memadai. Jika mereka memang tertarik dengan rencana riset kita, kemungkinan mereka akan meminta kita memperdalam research plan tersebut… barulah di situ kita lebih detail menggarapnya.
Selamat berburu yaa…:)

sumber gambar:
http://www.findaphd.com/advice/phd-fun/dr-doodles/default.aspx?CartoonId=127

Beasiswa Endeavour Scholarships and Fellowships ke Australia

7 Jun

Image

Jumat lalu, saya menghadiri acara sosialisasi beasiswa Australia yang namanya Endeavour Scholarships and Fellowships (ESF) di salah satu hotel di kawasan Cihampelas, Bandung. Acara tersebut diadakan dua hari berturut-turut di Bandung dengan menyasar tiga perguruan tinggi negeri di kota ini dan untuk umum, itu tadi di hotel tersebut.

Menilik sejarahnya, ESF dimulai pada 2003 tetapi angkatan pertamanya adalah angkatan 2007. Menurut pemateri, Mas Adit, yang merupakan representasi bagian pendidikan Kedutaan Australia di Jakarta, pemilihan Bandung sebagai salah satu tempat untuk melakukan sosialisasi adalah karena dalam sejarah, Bandung mengirimkan peserta terbanyak sejak pertama kalinya. Yaitu 13 orang. Sejak 2007, sudah total 3.305 beasiswa ESF yang diberikan dan 180-nya berasal dari Indonesia.

Adit menjelaskan bahwa beasiswa ESF ini dibuka bagi 125 negara di seluruh dunia, jadi bukan hanya ditujukan untuk orang Indonesia saja. Ini berbeda dengan Australia Awards Scholarship (AAS) yang diberikan khusus bagi warga negara Indonesia. Jadi, persaingan untuk memperoleh ESF ini cukup ketat.

Syarat lain yang membedakan ESF dengan AAS adalah, untuk mendapatkan ESF kita sebagai pelamar harus sudah mendapatkan Letter of Acceptance (LoA) atau conditional letter minimal, dari institusi tempat kita akan belajar. Sementara di AAS, kita melamar untuk beasiswanya dulu, baru setelah mendapatkan beasiswa AAS, pihak AAS akan membantu untuk mendaftar ke universitas.

Nah, karena syarat yang harus sudah diterima di institusi/lembaga pendidikan di Australia, makanya kemampuan bahasa Inggris menjadi mutlak adanya. Syarat skor IELTS adalah 6.5 dan tidak ada yang di bawah 6 untuk masing-masing Listening, Reading, Writing dan Speakingnya.

Ada empat jenis beasiswa dan fellowship yang ditawarkan dalam program ESF ini :

  1. Postgraduate scholarship (untuk jenjang S2 dan S3)
  2. Vocational Education & Training scholarship ( untuk pendidikan kejuruan setara S1/TAFE)
  3. Research Fellowship
  4. Executive Fellowship

Untuk yang nomor 3 dan 4, kategorinya adalah short course.

Menurut Adit, tidak ada quota spesifik dari sisi jumlah, bidang studi maupun negara asal. “Jadi diberikan berdasarkan prestasi (merit based)”, ujarnya. Tujuan dari pemberian ESF ini adalah untuk pengembangan riset dan profesi sehingga para penerimanya bisa belajar sesuatu yang dibutuhkannya di Australia.

Karena itu pula, beasiswa dan fellowship ini tidak membiayai fieldwork yang dilakukan di Indonesia. Bahkan uang stipend pun tidak diberikan saat fieldwork dilakukan. Artinya, lakukan seluruh studi di Australia.

Ngomong-ngomong tentang stipend, bikin ngiler lho. Beasiswa ini untuk program S2 dan S3, memberikan living allowance sebesar AUD 3 ribu per bulan. Itu belum termasuk settlement allowance, asuransi, tiket pesawat dan biaya untuk menghadiri berbagai konferensi. Untuk perbandingan, tahun lalu beasiswa AAS memberikan living allowance   sebesar UAD 2.100.

Hanya saja, untuk visa baik pribadi maupun keluarga, ESF tidak mengurusnya. Jadi harus diurus sendiri. Berbeda dengan AAS yang visanya sudah diurus sehingga sangat memudahkan. Tetapi di luar itu semua, kelebihan yang dimiliki ESF adalah ‘tanpa batas usia’ alias siapapun di usia berapapun dibolehkan untuk melamar beasiswa ini. Selain itu, tidak ada aturan ikatan dinas, atau harus kembali ke negara asal. Tetapi memang disarankan untuk kembali ke negara asal setelah menyelesaikan studi.

Untuk tahun ini, ESF akan ditutup pada 30 Juni 2014. Keterangan lebih lanjut silakan dicek di sini www.aei-gov.au/endeavour

Keterangan foto :

https://aei.gov.au/Scholarships-and-Fellowships/Pages/default.aspx

Ikuti

Kirimkan setiap pos baru ke Kotak Masuk Anda.

Bergabunglah dengan 79 pengikut lainnya.