saat postingan ini dibuat, aku sedang berada di singapura. aku mendapatkan beasiswa untuk short course selama tiga bulan di negeri singa ini. banyak temanku yang mengatakan, “nggak bosen sekolah terus?” hehehe…
pertanyaan itu wajar adanya…sebab aku memang baru saja menyelesaikan studi S2 di Griffith University, Brisbane Australia pada Desember 2010. Lalu balik ke Bandung selama 7 minggu, kemudian berangkat lagi ke Singapura..ya sekarang ini..
jadi praktis di Bandung, aku cuma beberes tempat tinggal (yang masih numpang di rumah ortu hehehe) dan ngurusin berbagai administrasi, mulai dari KTP yang dah mati sejak setahun sebelumnya, perpanjangan SIM A/C, ngurus akte kelahiran anakku dan seterusnya…
nggak sempet berpikir, cari kerjaan baru… soalnya itu tadi, waktunya cuma 7 minggu..dan beberapa minggu awal pastinya aku beristirahat juga..sembari menyesuaikan diri dengan kondisi baru (lagi) setelah dua tahun di negeri kangguru…
Nah balik lagi ke pertanyaan tadi, aku bilang sih, nggak bosen yaa.. soalnya beda. kalo yang di brisbane kan, aku kuliah..bener-bener cari ilmu dari kampus..sementara program yang di singapura ini, hanya short course.. tepatnya Asia Journalism Fellowship (AJF). salah satu syaratnya, kita musti jadi jurnalis… kalo syarat lainnya sih sama aja, musti ngisi aplikasi yang baik dan menarik pihak panitia tentu saja ![]()
Aku adalah angkatan ke-3 dari program AJF ini.. bersamaku ada satu lagi wartawan Indonesia. Tahun ini pesertanya 16 orang, dari 13 negara…(kalo nggak salah itung). Menariknya, semua yang menjadi peserta ini, adalah wartawan di media berbahasa inggris di negaranya masing-masing.. kayaknya cuma aku deh yang medianya berbahasa Indonesia..cieee…
bukan apa-apa, ini membuatku berpikir bahwa ternyata kemampuan berbahasa inggris memang mutlak diperlukan. bagi mereka yang bekerja di media berbahasa inggris, pastinya ikutan program-program kayak gini nggak sesusah yang medianya berbahasa selain inggris kan… soalnya mereka udah biasa nulis dan ngomong in English dengan narasumbernya….
tapi ini juga membuktikan bahwa, kalo kita memang dinilai layak, maka nggak ada yang nggak mungkin kok..
buktinya, ya aku ini… sudahlah aku bukan dari media berbahasa inggris, juga aku niy sebenarnya job seeker alias nggak punya kerjaan.. wong waktu melamar program ini, aku masih berstatus mahasiswa Griffith.. (ngelamarnya di hari terakhir pendaftaran lho..jadi kebayang gimana aku musti berepot-repot ngisi form aplikasi buru-buru, scan dokumen ke kampus, ngirim email sambil harus ngurusin bayiku yang masih dua bulan umurnya hehehe).
tapi tampaknya pihak panitia terkesan dengan aplikasi yang aku berikan plus CV aku… tentu saja, juga karena ada referensi dari dosen maupun mantan bos.
aku sih nggak ngarang-ngarang ya, insya Allah… dosen-dosenku memberikan referensinya betul-betul murni penilaian mereka…sementara mantan bos-bosku memang minta aku yang menulis si referensi itu, tinggal mereka tanda tangan. tapi saat aku kirimkan surat referensi yang aku buat ke mereka, aku bilang ke mereka..please dicek lagi, kalo ada yang nggak sesuai silakan diganti. dan yaa… mereka ternyata ga keberatan dengan referensi yang aku buat itu..
menurutku, itu artinya mereka sepakat dengan aku..bahwa selama aku bekerja di sana, aku memang berusaha memberikan yang terbaik kok
artinya lagi, semua yang kita kerjakan itu insya allah nggak ada yang sia-sia..
jadi inget, seorang teman pernah bilang, ngapain kerja rajin-rajin sementara yang lain malas tetapi gaji kita sama..
aku bilang kepadanya, aku menyukai pekerjaanku dan aku seorang yang selalu bersungguh-sungguh dalam pekerjaanku.. aku percaya Allah tidak tidur.
Dan aku mendapatkan “hasil” keyakinan itu, saat aku musti melamar beasiswa ini dan itu… aku menulis apa yang aku kerjakan.. dan inilah hasilnya, alhamdulillah.. Mungkin kantorku waktu itu tidak menghargai pekerjaanku, bosku tidak melihat pekerjaanku dan teman-temanku meremehkan aku..tapi aku bekerja menurut hati nurani saja.. alhamdulillah, semua ada hasilnya kok meskipun tidak instant…
haduhhh, jadi ngelantur lagi…
balik ke soal sekolah yang nggak bosen-bosen, aku merasakan sekolah atau short course membuka cakrawala berpikirku.. bertemu banyak orang baru, dan tidak terus menerus dikejar deadline.. tidak melulu berpikir “apa niy yang bisa jadi berita”… tapi berpikir untuk mengisi otak sendiri sehingga menganalisis segala sesuatu dengan lebih baik..insya Allah..
aku sudah tak muda lagi kalo dari usia. saat ini usiaku sudah 38 tahun, aku punya anak bayi berusia 6.5 bulan saat ini dan aku juga mempunyai suami dengan pekerjaan sebagai wiraswasta…yang penghasilannya tidak tetap. kami belum punya rumah, apalagi mobil dan segala macem layaknya keluarga lain… tapi suamiku mendorong aku untuk ambil program ini dan dia bersedia menemaniku meskipun usahanya yang baru mulai jalan lagi, dia tinggalkan lagi…
aku menghargai dorongannya..dan berterima kasih karenanya…
lalu apa yang aku cari, kalo begitu? hmmmm pertanyaan yang sulit..tapi sesungguhnya aku hanya menjalani yang ada di depan mata.. dulu aku melamar program ini dan diterima, lalu aku belum dapat pekerjaan, lalu suamiku mengizinkan.. bahkan dia menemaniku bersama bayiku.. so aku ambillah kesempatan ini…
aku percaya, semua yang diniatkan dengan baik, insya Allah berhasil baik juga…
jadi, tak ada alasan untuk tidak bersekolah apapun kondisinya.. tentu saja mesti ada kompromi-kompromi yang aku yakin bisa dibicarakan..bisa didiskusikan.. tentu juga ada sedikit pengorbanan untuk ini dan itu.. seperti aku, misalnya, jadi belum punya pekerjaan..sebab harus berangkat lagi setelah kembali dari brisbane.. atau suamiku juga harus meninggalkan usahanya lagi, tapi kami berdua sudah mendiskusikannya..dengan segala risiko yang bisa kami prediksikan..selebihnya, kami serahkan pada Allah SWT..
soo… ayo sekolah
Setelah menanti sekian lama, akhirnya Ibu menulis lagi. Inysa Allah tulisan yg sangat inspiratif bu. Bu mau minta bantuannya jika tidak keberatan boleh saya lihat contoh surat rekomendasi yg ibu buat. ini email saya bu budi.finance@gmail.com
Terima kasih,
Budi
hehehe…jadi ge-er niy..ada yang menanti-nanti
surat rekomendasi yang mana niy? yang saya buat untuk ex bos saya ya?
insya allah saya kirim secepatnya..
makasi juga
waduhhhh bu baru nemu blog ini nihhh inspiring bgt,,,aku 22 tahun baru menikah D3 UI ,S1 ak lanjutin di swasta krna kebentur kerja n biaya dari dlu pgn bgt lanjut sekola di luar negeri huaaaaaaa kayaknya impian doang TOEFL pas2 an dll ngap ngapan ngadepin macetnya jakarta pgn bgt nerusin sekolah diluar negeri harap mau bagi2 resep y bu ^_____^
(salut bgt ma tulisan ini aku juga suami wiraswasta gak tentu penghasilannya kami ingin bgt PR di asussy sedang mau menjalani tes IELTS minggu depan harap doakan suamiku y bu hehehehehe baru kenal minta doa) adakah tips2 biar dapet skor 7 untuk IELTS huaaaaaaa pgn bgt denger cerita2 ibu sekola di luar pasti asikkkkk n menanntang ^_____* salam kenalllll
hi Dinda..makasi kunjungannya..
semoga test IELTS suaminya sukses yaa..
silakan dicek di blog ini, insya Allah banyak arsip yang bisa dimanfaatkan…:)
salam kenal kembali…
Assalammualaikum mba,
Salam kenal ^_^
Tulisan mba bikin saya jadi tambah semangat buat berburu beasiswa. Saya mau tanya mba, waktu mba dapet beasiswa Griffith university itu dari lembaga pemberi beasiswa atau dari universitasnya langsung ya mba? Berdasarkan pengalaman mba, kira-kira untuk mencari beasiswa lebih mudah mencari beasiswa dari lembaga pemberi beasiswa (seperti aminef, british council, dll) atau dari universitasnya langsung mba?
Terima kasih informasinya mba.
Hi Vica,
saya dapat beasiswa ADS, baru kemudian cari sekolahnya. Kalo beasiswa dari universitasnya, biasanya nggak full..cuma tuition fee nya aja, sementara living cost nggak ditanggung. soal lebih mudah yang mana, tergantung banyak hal.. hanya saja, kalo kita punya dana cukup, akan lebih mudah untuk dapatkan beasiswa yang tidak meng-cover full biaya kuliah dan biaya hidup..
kalo saya dulu, nggak punya duit untuk biaya kuliah dan biaya hidup, jadi musti dapetin beasiswa dulu (yang beasiswanya meng-cover seluruh kebutuhan) baru berpikir cari sekolahnya hehehe…
tapi prosesnya bisa berjalan bareng..daftar sekolah sembari cari beasiswa, ato cari beasiswa sembari daftar sekolah…
semoga info nya membantu yaa
assalamu alaikum.. senang sekali menemukan dan membaca tulisan2 ibu di blog ini, kebetulan saat ini saya sedang menjadi scholarshiphunter juga… sangat inspiratif, apalagi artikel Ayo Sekolah ini… membuat saya terpacu.
Awalnya saya mengira penulis blog ini adalah laki2, karena kaum adam yg biasanya punya banyak waktu luang untuk menulis blog, wow.. ternyata perempuan perkasa… salut!!!
niat baik untuk sekolah lagi memang harus tetap membara
salam kenal
salam kenal kembali Elida..
nggak cuma menulis blog, nama saya memang sering dikira nama laki2 hehehe..
selamat berjuang yaa… tetap semangat
Jeng Aan, selamat ya, never ending scholarship. Asik dah. Boleh intip CV anda yang sudah jadi, kalau bolehs kalian nanti nyontek. Saya sudah 37 tahun dan tulsian Anda menggugah saya untuk tidak berputus asa nyari beasiswa. Makasih banyak dan maju terus!!
ps. Kayaknya Anda harus tulis satu bagian khusus soal bagaimana hamil dan punya bayi selama sekolah di LN deh. Saya penasaran soal ini
Insya Allah saya kirim CV saya ke Anda secepatnya ya..
soal pengalaman hamil dan melahirkan, silakan anda cek ke blog saya yang satunya lagi… sabadunya.wordpress…
saya bikin beberapa tulisan tentang hal tersebut di sana
makasi juga kunjungannya ya…