Ada nggak hubungannya antara mendapatkan beasiswa ke luar negeri dan keahlian memasak? Sepintas lalu nggak ada hubungannya sama sekali, bahkan terkesan aneh…konyol plus lucu..
Tapi percayalah, keduanya berhubungan erat…:)
Ketika seseorang mendapatkan beasiswa ke luar negeri, artinya dia harus meninggalkan Indonesia, dan bersekolah di negara lain, di manapun di belahan bumi ini. Bisa jadi, hanya dekat-dekat Indonesia, seperti Singapura dan Malaysia, atau sedikit menjauh (dan agak populer) di Australia tetapi bisa jadi harus ke Eropa atau Rusia… Di manapun bersekolah, selama masih di luar negeri, maka ada satu hal yang perlu dipersiapkan, selain persoalan mental, bahasa dan segala macam yang berhubungan dengan studi, yaitu…urusan perut. Kelihatannya sepele yaa.. apalagi, sekarang ini sudah banyak franchise masakan asing di Indonesia.. yang artinya, lidah orang Indonesia sudah tak lagi merasa ‘aneh’ dengan masakan-masakan dari berbagai belahan dunia ini… Bahkan yang sudah mendunia pun tak kalah banyaknya seperti Mc Donald, KFC, Pizza hut dan sebagainya…
Tapi tunggu dulu…
coba kita pikirkan lagi, selain hobi jajan makanan fast food atau makanan eksotik dari berbagai negara, makanan sehari-hari kita apa sih? Sebagian besar kita akan bilang, “nasi”… Naaaaah, di sinilah kemudian muncul sebuah persoalan… Kalau tadinya, saat berada di Indonesia, kita menganggap nasi, sayur asem, sayur lodeh, ikan asin, tempe-tahu, maupun sekadar sambal dan kerupuk sebagai makanan sehari-hari yang bikin bosen… ketika kita berada di luar negeri, semua masakan itu menjadi terasa mahal, sebab jarang ditemui dan mungkin sekali, di beberapa daerah, bahkan tak bisa ditemui…
kalau semula kita mengkonsumsi makanan fast food dari mall atau toserba di pusat kota, sebagai selingan.. maka kelak, ketika berada di luar negeri, kemungkinan kita akan menjadikan fast food sebagai makanan sehari-hari kita… bayangkan, betapa “menderitanya”….
hal ini masih ditambah lagi sebuah catatan, bagi yang muslim… makanan di fast food itu tak semudah di Indonesia yang semuanya halal.. Kita tak perlu berpikir, apakah ayam goreng yang dijual di KFC atau MC D itu boleh kita makan atau tidak… sebab insya Allah, kehalalannya terjamin.. Lha kalo di negeri orang, apalagi di negeri non-Muslim, biarpun ayam atau sapi.. belum tentu itu halal…
Sebagai muslim, kita tak mungkin makan makanan yang tidak halal kan? sebab agama melarang hal tersebut.. jadilah, kita pilih menu ikan (fish), yang bagi sebagian teman juga… nggak mudah mengkonsumsinya.. tak semua orang suka ikan…
Malah, ada beberapa temanku yang lebih selektif lagi, biarpun ada menu ikan.. tapi kalau kira-kira mereka (toko fast food tersebut) menjual menu “ham” alias babi… mereka tak mau membelinya… ini prinsip kehati-hatian dalam menjalankan agama..
Naaaahhh..makin ribet lagi kan, urusan makan ini….
belum lagi kenyataan bahwa untuk membeli makanan di restoran (bahkan yang halal sekalipun), membutuhkan biaya yang tidak sedikit. Kalau harus tiga kali makan dalam sehari dan selalu harus membeli di restoran/toko, berapa biaya yang musti dikeluarkan? kenyataannya…uang beasiswa yang kita terima, biasanya pas-pasan saja.. biarpun cukup tetapi tetap saja, kalau gaya hidupnya seperti itu…ya bakalan kurang uangnya…:)
Karena itu, karena berbagai alasan di atas, solusi terbaik adalah memasak sendiri di rumah…selain biaya lebih murah, lebih bersih, sudah terjamin kehalalannya, juga karena kita bisa membuat masakan apapun yang kita inginkan… hmmmm, tentu saja dengan catatan…kita bisa memasaknya…:)
Tuh, jadi bener kan? ada hubungannya antara beasiswa ke luar negeri dengan keahlian memasak…hehehe
akupun baru menyadari hal tersebut setelah tiba di brisbane… merasakan betapa makanan pokok kita, nasi, begitu sulit didapatkan di sini.. dalam arti, kalau beli mahal.. sudah gitu, aku pernah beli di kampus, nasi goreng katanya, ehhhh…kok nasinya belum mateng…:( temanku ngakak saja ketika mengetahui hal tersebut… dia bilang, “orang sini nggak tahu kali, caranya masak nasi gimana…”
Itu persoalan lain lagi lho.. Bahwa, kalopun ada yang menjual masakan Indonesia atau mirip-mirip masakan Indonesia, belum tentu rasanya sesuai selera kita. Yang ada, kita jadi ngomel sebab sudah keluar uang cukup besar, eh rasa masakannya ngalor ngidul alias nggak keruan…
Beberapa bulan setelah berada di sini, aku juga mulai rajin mencari-cari resep masakan di internet.. alhamdulillah, nemu yang beragam tapi ya gitu..ada beberapa yang musti melalui proses trial and error… sebab tak semua resep masakan di internet itu, bener takarannya.. atau mungkin lebih tepatnya, tak semua resep itu sesuai dengan selera kita..
Aku sih, lebih beruntung sebab suamiku seneng masak.. jadi urusan masak-memasak.. dia yang lebih sering melakukannya.. dan dia juga suka mencoba hal-hal baru, jadi aku tinggal menikmati saja..:D
Tapi itu tadi, nggak selalu suamiku bisa memasak, sebab kadang dia lelah habis kerja atau sebagai istri, kan sekali-kali kepengen masak untuk suami… jadi tetep, bisa masak itu merupakan keahlian yang nggak merugikan kok hehehe
aku sendiri bukan orang yang suka masak, bahkan cenderung tak suka masak.. tapi di sini, apa boleh buat.. harus bisa..
aku berpikir, alangkah menyenangkannya orang yang sejak dulu memang bisa masak… dan hobi masak..
Nah, jadi sambil mencari-cari beasiswa… sekalian juga belajar masak…jadi pas dapat beasiswa, nggak perlu terlalu cemas urusan makan di luar negeri…kalo enggak, jadinya bakalan makan indomie lagi, indomie lagi… bosan kan
selamat mencoba