Serius Mau S3 di Australia?

7 Apr

_txt_australia-mapAkhir-akhir ini saya mendengar orang yang mengatakan kalimat di atas. Saya jadi heran sendiri mendengarnya… memangnya kenapa?

Maksud saya, ada masalah apa dengan sekolah S3 di Australia? Selama ini banyak teman dan kenalan saya kuliah S3 di Australia dan rasanya tidak ada masalah yang sebegitunya hingga harus bertanya “serius?”. Jadi, saya sempat gagal menemukan alasan di balik pertanyaan tersebut.
Lalu saya coba perjelas lagi.. dan saya pun ber-ooooo yang panjang.

Pertanyaan itu rupanya didasari oleh beberapa hal. Pertama, yang bertanya adalah mereka yang menjadi dosen di universitas di Australia dan mendapati bahwa sebagian mahasiswa S3 asal Indonesia, mengalami kesulitan untuk melanjutkan pendidikan di negeri kangguru tersebut. Alasannya adalah para mahasiswa ini mengalami kesulitan untuk menyesuaikan diri dengan lingkungan pendidikan di Australia yang ternyata berbeda dengan di Indonesia. Hal tersebut memberikan implikasi yang beragam dan berpengaruh pada kehidupan pribadi maupun kehidupan akademis sang mahasiswa.

Mendengar hal tersebut, saya pun memaklumi pertanyaan mengenai “serius mau S3 di Australia?” karena memang ada perbedaan sistem pendidikan di Indonesia dengan di Australia. Seperti pernah saya sampaikan di postingan sebelumnya, bahwa untuk S3 di Australi dan mayoritas negara-negara maju (kecuali Amerika), artinya menjadi independent learner. Sejak datang di kampus pertama kali, kita sudah harus mandiri… tak ada teman, hanya ada supervisor dan selebihnya kita belajar sendiri. Artinya kita harus bisa membagi waktu sebaik-baiknya.. membagi waktu untuk belajar, dan juga untuk keluarga (jika kita membawa keluarga ke sana), juga waktu untuk bekerja (bagi sebagian mahasiswa, bekerja berarti dua hal, menambah pundi-pundi atau memang desakan kebutuhan karena dana beasiswa yang diberikan kurang).

Dalam proses belajar itu sendiri, kita benar-benar menjadi independent learner sebab tak ada yang akan menegur kalau kita lalai… Kapan saat berkunjung ke perpustakaan, kita yang mengaturnya sendiri… berapa banyak artikel jurnal yang kita perlukan? Hanya kita yang tahu… berapa lama kita harus berkutat dengan proses pencarian jurnal atau bertemu pakar di bidang yang berkaitan dengan riset kita? Harus kita sendiri yang menentukan… proses belajar sendiri di depan sebuah layar komputer, bisa berarti banyak.. menantang atau justru membosankan. Kita yang menentukan semuanya sendirian…

Ketidakmampuan mengelola waktu untuk belajar dan hal-hal lain, membuat riset S3 menjadi berat dan sulit. Tak heran, banyak pula yang gagal menyelesaikan S3 mereka, gagal men-submit thesis mereka karena berbagai hal, misalnya : terlalu sibuk bekerja, atau memang kewalahan mengatur waktu.

Namun, jangan terlalu khawatir dengan semua itu…banyak juga kok yang sukses men-submit thesis tepat waktu bahkan lebih awal… Semuanya tergantung kita sendiri. Kita yang harus disiplin..kita yang harus menentukan target dan kita yang menjalankannya.

Bagi saya sendiri, proses belajar yang mandiri itu..sudah saya alami dan jalani kala kuliah S2 di Australia. Maksudnya, saya memang belajar dengan pola seperti itu… tidak mungkin menyontek pekerjaan teman meskipun kita kuliah bersama-sama. Karena bidang dan minat kita berbeda. Tugas-tugas yang diberikan dosen bersifat individual sehingga tidak mungkin mencontek. Di sisi lain, tugas-tugas tersebut justru membuat kita sebagai mahasiswa semakin mengetahui passion dan minat kita dalam bidang tertentu.

Yang saya tahu, sistem belajar di luar negeri memang demikian.. sehingga, kalau memang S3 harus menjadi independent learner, inshaAllah tidak terlalu kaget. Pasti tetap perlu penyesuaian tetapi nggak seserem itu deh… So, kalau ada yang bertanya, “Serius Mau S3 di Australia?” jawabnya… “Kenapa enggak?”… Yuk ahhh..semangat!

 

sumber gambar : http://wwp.greenwichmeantime.com/time-zone/australia/

Mengapa Tes TOEFL ITP?

21 Mar

ImageIni mengenai tes TOEFL ITP yang sering ditanyakan oleh banyak orang. Kalau TOEFL paper based sudah tidak boleh digunakan untuk mendaftar kuliah di luar negeri (di negara-negara berbahasa Inggris) lalu untuk apa kita mengambil tes TOEFL ITP, yang sebenarnya adalah TOEFL paper based?

Sebelum membahas mengenai TOEFL ITP, saya ingin menjelaskan mengenai TOEFL secara umum di Indonesia. Orang-orang Indonesia lebih mengenal tes TOEFL untuk kemampuan berbahasa Inggris. Ini dikarenakan hampir semua lembaga pendidikan, pemerintahan dan swasta di Indonesia, saat mensyaratkan kemampuan bahasa Inggris, akan selalu meminta skor TOEFL.

Sebenarnya TOEFL lebih bersifat akademis karena bahasa yang digunakan memang didesain untuk mengetes kemampuan bahasa Inggris seseorang yang akan melanjutkan pendidikan ke jenjang yang lebih tinggi atau hal-hal yang berkaitan dengan pendidikan.Namun di Indonesia, TOEFL digunakan untuk semua kebutuhan bahasa Inggris.Tak heran jika TOEFL sangat populer.

Sejak beberapa tahun silam, TOEFL paper based sudah tidak digunakan lagi untuk level internasional. Keberadaannya diganti oleh TOEFL iBT. Perbedaan keduanya lumayan banyak. Pada TOEFL lama, ada tiga jenis tes, yaitu Listening, Reading dan Structure yang dikerjakan selama dua jam dan bentuk soalnya pilhan ganda. Skornya dari mulai 310-677, dengan rata-rata minimum skor yang diminta 500 atau 550 – tergantung kebutuhan.

Pada TOEFL iBT, skornya adalah 0-120 dengan jenis tes Listening, Reading, Writing dan Speaking. Soalnya dikerjakan secara online di komputer sementara TOEFL lama, seperti namanya, paper based. Biaya tesnya juga berbeda. Di masa lalu, TOEFL international dengan pola lama, biayanya sekitar 1-2 juta ditambah dengan TWE yang merupakan writing. Ini dikarenakan TOEFL paper based belum meliputi writing. Sementara kemampuan speaking tidak dites sama sekali.

Mudah-mudahan penjelasan di atas bisa memberikan sedikit gambaran yang lebih jelas mengenai TOEFL paper based.

Nah, meskipun TOEFL paper based ini tidak lagi digunakan secara internasional, tetapi di Indonesia, TOEFL ini masih lazim digunakan untuk mendaftar ke universitas/perguruan tinggi, maupun untuk melamar pekerjaan. TOEFL yang diminta adalah TOEFL dari lembaga kursus/pelatihan bahasa Inggris. Jadi, TOEFL ini sangatlah beragam variasi tingkat kesulitannya tergantung lembaga kursus/pelatihan bahasa Inggrisnya sendiri sehingga dinamakan TOEFL Prediction Test.

Lalu bagaimana dengan TOEFL ITP? Ini adalah tes yang sejenis dengan TOEFL prediction test. Dikerjakan di kertas, selama dua jam dan soalnya berupa Listening, Reading dan Structure dalam bentuk pilihan ganda. Bedanya, yang mengeluarkan soal TOEFL ITP adalah Educational Testing Service (ETS). Biaya tesnya juga beda, sedikit lebih mahal karena levelnya lebih tinggi. Kegunaan TOEFL ITP, menurut brosur yang dikeluarkan oleh  Indonesian International Education Foundation (IIEF) adalah di antaranya:

  1. Digunakan untuk pendaftaran program short course dan non-degree program di negara-negara berbahasa Inggris.
  2. Digunakan untuk pendaftaran ke program sarjana (S1) dan master di negara-negara yang tidak menggunakan bahasa Inggris sebagai bahasa ibu.
  3. Digunakan untuk pendaftaran dan penempatan dalam program kolaborasi internasional yang menggunakan bahasa Inggris sebagai bahasa pengantarnya.
  4. Untuk mendaftar program beasiswa ke berbagai negara – sebagai seleksi awal.
  5. Untuk tes masuk program berbahasa Inggris yang membutuhkan bukti kemampuan bahasa Inggris akademik di level sarjana (S1) atau diploma.
  6. Untuk memonitor perkembangan kemampuan bahasa Inggris khususnya yang memerlukan kecakapan/keahlian dalam bahasa Inggris akademik.

Cukup jelas ya untuk manfaat TOEFL ITP-nya. Masa berlakunya dua tahun, sejak tes dilaksanakan. Jadi kalau kita tes saat ini, maka dua tahun ke depan, kita tak perlu tes lagi karena masih bisa digunakan untuk berbagai keperluan seperti di atas. Ada juga lembaga yang meminta, paling lama setahun. Itu sangat disesuaikan dengnan kebutuhan lembaga masing-masing.

Oya satu lagi, saya bisa menambahkan bahwa manfaat TOEFL ITP adalah untuk menyiasati beasiswa LPDP. Kalau universitas tempat kita akan belajar di luar negeri meminta skor bahasa inggris yang lebih rendah (misalnya IELTS 6, atau malah 5.5) tetap saja LPDP akan meminta skor TOEFL sebesar 550. Nah, TOEFL ITP ini bisa dipakai.

Di mana bisa daftar TOEFL ITP? Banyak tempat menyelenggarakan tes TOEFL ITP, termasuk di IEDUC Bandung. Yang berbeda dari pelaksanaan tes TOEFL ITP di IEDUC adalah, dilaksanakan di hari Sabtu. Sementara di banyak tempat lain, justru pada hari kerja. Mungkin sebagian orang tak bisa meninggalkan pekerjaannya pada hari kerja, jadi pilihan Sabtu lebih sesuai (aihhhh, sedikit promosi).

Karena soal harus dibeli dari ETS, maka pendaftaran untuk tes TOEFL ITP — di manapun —  harus dilakukan jauh-jauh hari. Saran saya, kalau memang ada niat untuk tes TOEFL ITP segera daftar secepatnya. Biasanya penutupan pendaftaran dilakukan pada seminggu sebelum hari H. Jadi, jangan mepet-mepet yaa.. apalagi biasanya tempatnya terbatas.

sumber gambar : http://theprepbook.com/category/tips/

Antara Sekolah (Lagi) dan Membangun Karier

10 Mar

 Belum lama ini ada diskusi dalam sebuah grup yang saya ikuti mengenai kebimbangan untuk melanjutkan sekolah atau membangun karier di pekerjaan. Memang ini bukanlah pilihan yang mudah. Apalagi, sekolah yang ingin dituju harus diperjuangkan, yaitu dengan mencari beasiswa. Sementara karier, asalkan dijalankan dengan baik, akan mengikuti dengan sendirinya.

Sekali lagi, memang ini bukan pilihan yang mudah. Oya, yang saya maksudkan sekolah di sini adalah, sekolah ke luar negeri dengan beasiswa. Bukan sekolah di dalam negeri, dan bukan dengan biaya sendiri.

Sekolah ke luar negeri dengan beasiswa, memang membutuhkan banyak perjuangan, bahkan mungkin juga pengorbanan. Pertama, kita harus berjuang mendapatkan beasiswa, bersaing dengan ribuan orang peminat lainnya. Kemudian yang kedua kita harus mempersiapkan kemampuan bahasa Inggris kita, setidaknya sesuai dengan syarat minimal yang diminta. Ketiga, sebagian orang terdekat kita – atasan, teman, pasangan, orangtua – mungkin tidak mendukung keinginan kita untuk sekolah lagi dan berpayah-payah mencari beasiswa itu. Keempat, kesibukan pekerjaan yang membuat kita seperti nyaris tak punya waktu untuk berjuang dan bersaing di poin satu dan dua.

Kelima, tidak ada jaminan bahwa kelak, setelah selesai sekolah, kita akan mendapatkan karier dan jabatan yang saat ini kita pegang… Bisa saja, kita tak mendapat kursi sama sekali. Bisa saja, kita ditempatkan di posisi yang sangaaaaattt tidak sesuai dengan pendidikan dan keahlian kita. Bisa jadi juga, kita dianggap orang asing yang akan mengganggu proses kerja dan sistem yang sudah mapan selama ini.. dan sebagainya, dan sebagainya…

Daftar “tantangan” yang lima ini saja sudah bisa membuat langkah kita terhenti. Jadi untuk apa sekolah lagi ke luar negeri, kalau pada akhirnya tak ada jaminan apapun? Apa masih ada untungnya bagi kita untuk sekolah lagi di luar negeri, dengan beasiswa, kalau pada akhirnya kita harus membangun semuanya dari nol lagi?

Tetapi saya adalah orang yang percaya bahwa pendidikan bisa mengubah seseorang menjadi lebih baik. Tentu saja pendidikan yang dijalankan secara baik, bukan pendidikan yang asal-asalan. Nah, sekolah ke luar negeri, bagi saya merupakan salah satu jalan untuk membuka wawasan kita sehingga kita akan menjadi orang yang lebih baik dalam memahami sesuatu.

Tahukah Anda, saat Anda menjadi seorang mahasiswa di luar negeri, Anda akan menjadi nobody – tak peduli apapun jabatan dan kedudukan Anda di Tanah Air, atau di instansi tempat Anda bekerja. Saat pertama kali menginjakkan kaki di tanah asing, Anda bukanlah siapa-siapa. Anda tak dikenal. Anda hanya seorang mahasiswa, sama seperti ratusan atau ribuan mahasiswa lainnya di negara tersebut! Saat itulah, ujian pertama bagi Anda, mampukah Anda menyesuaikan diri dengan kondisi dan lingkungan yang baru dan sama sekali berbeda?

Kemampuan Anda untuk berinteraksi dan menyesuaikan diri, akan menjadi sebuah pengalaman penting yang mudah-mudahan menjadikan Anda lebih bijaksana ke depannya. Lalu, saat menjalani pendidikan di universitas, Anda akan menjalani pengalaman akademis yang berbeda dengan saat kuliah di Tanah Air, semoga itu mendewasakan Anda sekaligus lebih membuka wawasan Anda.

Saat itu pula, Anda akan berkenalan dengan orang-orang di bidang Anda, mempunyai jaringan yang lebih luas dan memahami berbagai budaya dengan lebih baik. Anda menyatu dalam budaya yang selama ini hanya dikenal lewat bacaan atau tontonan, Anda menjadi bagian dari budaya tersebut. Anda berubah!

Semua itu, saat Anda kelak selesai studi, akan membuat Anda menjadi pribadi yang berbeda dan lebih baik, mudah-mudahan. Semua itu, yang diperoleh di bangku kuliah maupun di luar kuliah, saya yakin bermanfata bagi masa depan karier Anda. Yuppp, mungkin Anda harus memulai dari awal lagi, tetapi percayalah, itu tak akan lama. Hanya perlu sedikit waktu untuk menyesuaikan diri sembari menunjukkan – dengan rendah hati, tentu saja – kualitas diri Anda. Setelah itu, insha Allah Anda akan melejit lagi di posisi yang mungkin tak terbayangkan sebelumnya.Di sini saya tidak bicara tentang materi, tetapi lebih ke kualitas diri….

Jadi, silakan mempertimbangkan… akan berjuang untuk sekolah lagi dengan beasiswa, atau tetap di sini dengan karier Anda? Tak ada pilihan yang salah atau benar selama Anda tahu semua konsekuensinya…. Ini benar-benar sebuah pilihan pribadi…

Memang Tak Ada Beasiswa yang Gratis Kok….

3 Feb

free-lunch-anyoneSaya tergelitik untuk membuat tulisan ini setelah melihat postingan di halaman FB seorang teman. Ia mengutip pendapat seseorang juga sambil menunjukkan link-nya… tapi saya kok nggak bisa menemukan tulisan yang dimaksud. Jadi ingin sharing juga pemikiran saya sendiri…
Sejak lama, saya menyadari bahwa sebenarnya beasiswa itu tidak gratis. Eittt, jangan kecewa dulu.. baca sampai selesai ya :D

Beasiswa, memang gratis…bahkan seperti yang saya terima lewat skema beasiswa ADS (sekarang AAS namanya). Saya dibiayai semuanya… tiket pulang-pergi, biaya hidup di Australia, biaya kuliah tentu saja, ada juga biaya settlement yang jumlahnya lumayan, asuransi selama studi, dan jika memerlukan bantuan akademik untuk mendukung studi, asalkan ada alasan kuatnya, juga akan diberikan. Selain itu, urusan visa sangatlah mudah, tak hanya visa untuk diri sendiri tetapi juga visa untuk keluarga yang akan diajak menemani studi di sana.

Modal kita sebagai pelamar beasiswa adalah sedikit kemampuan bahasa Inggris dan kemampuan untuk menjelaskan dengan baik rencana studi kita (dalam form aplikasi dan juga dalam wawancara). Tentu saja, untuk bisa lolos dalam seleksi beasiswa, kita harus mampu meyakinkan bahwa kita memang layak dipilih.

Banyak beasiswa yang memberikan skema seperti ADS/AAS, di berbagai negara. Saya tidak bisa menyebutkannya satu per satu, tetapi sangat banyak….

Nah, kalau begitu, mengapa dikatakan kalau beasiswa sebenarnya tidak gratis?no_free_lunch1

Karena beasiswa ke berbagai negara itu, meskipun diberikan oleh negara-negara lain – bukan oleh pemerintah Indonesia secara langsung – tetapi sesungguhnya beasiswa itu dibiayai oleh pemerintah Indonesia. Untuk mendapatkan kuota beasiswa dari berbagai negara, negeri kita Indonesia memberikan berbagai proyek atau setidaknya ada kerja sama dengan negara-negara pemberi beasiswa itu. Artinya, beasiswa tersebut tidak gratis… Karena jika pemerintah Indonesia tidak melakukan kerja sama atau memberikan proyek-proyek tersebut maka beasiswa itu tidak akan diberikan.

Artinya lagi, pemerintah Indonesia secara tidak langsung membuka jalan bagi pemberian beasiswa tersebut. Karena itu, mendapatkan beasiswa adalah sebuah keberuntungan bagi penerimanya… tetapi jangan lupa, di sisi yang lain, menerima beasiswa juga berarti berutang kepada negara. Pasalnya, Anda harus mengabdikan ilmu anda seusai mendapatkan pendidikan di negara tujuan belajar Anda…. Bukan hanya beasiswa yang diberikan oleh pemerintah Indonesia secara langsung (seperti LPDP dan Dikti) tetapi semua beasiswa yang diberikan oleh negara manapun. Anda berutang kepada negeri ini… maka kembalilah ke negeri ini usai menempuh pendidikan Anda… berbaktilah untuk negeri ini di bidang Anda masing-masing…

Kalau Anda berpikir bahwa beasiswa adalah untuk diri Anda sendiri, maka Anda keliru besar. Beasiswa tak akan diberikan kepada mereka yang hanya memikirkan dirinya sendiri… setidaknya, tidak akan diberikan kepada mereka yang menjawab aplikasi form beasiswa, dengan mementingkan diri sendiri semata… Anda harus punya nasionalisme, harus punya idealisme, Anda juga harus bisa menjelaskan peran Anda bagi komunitas/lingkungan atau sekitar Anda (tempat kerja, tempat akan bekerja), Anda pun diharapkan bisa memetakan masalah di bidang Anda sekaligus mencarikan solusinya…

Lalu apa untungnya beasiswa untuk Anda, jika banyak beban yang diberikan? Yaaa… Anda bisa keluar negeri gratis, belajar di luar negeri gratis, bisa jalan-jalan gratis saat libur kuliah, mendapatkan teman di luar negeri, menambah wawasan sehingga bisa menjadi orang yang lebih bijaksana… bukankah itu semua keuntungan?

Kalau Anda bertanya keuntungan materi…memang tak bisa secara langsung begitu Anda selesai studi — meskipun beberapa orang bisa mendapatkannya karena bisa kuliah sembari bekerja di sana. Anda bisa mengabdi di negeri ini selama 1-2 tahun, kemudian barulah mengepakkan sayap untuk mengembangkan diri lebih baik lagi yang berarti juga (mudah-mudahan) kemudahan dan keuntungan secara material… Tetapi percayalah, yang Anda dapatkan saat mengabdikan diri kepada negeri ini, akan dibayar setimpal… Tuhan tidak tidur.. Hanya kita yang kadangkala tak cukup membuka mata..

Jadi, beasiswa itu tidak gratis yaa…:)

sumber foto :
1. http://rangspeakyourmind.wordpress.com/2011/02/21/the-principle-of-equivalent-exchange-how-our-lives-revolve-around-it-no-this-is-not-physics/
2. http://dorrys.com/free-lunch/

Inkonsistensi LPDP

9 Jan

Melanjutkan “curhat” saya kepada LPDP…saya ingin menyoroti mengenai inkonsistensi LPDP dalam beberapa hal. Terkait dengan pendaftaran yang saya lakukan, saya tidak mengerti mengapa alasan penolakan pada saya, yang pertama dan yang kedua, tidak sama?

Logikanya, saat saya ditolak yang pertama kali.. urusan usia juga sudah masuk di sana. Tetapi kenyataannya hal tersebut tidak dijelaskan sama sekali.. Hanya dikatakan bahwa skor IELTS saya belum memenuhi syarat sementara kampus tujuan saya mensyaratkan skor IELTS 6.5 tanpa ada yang kurang dari 6. Makanya, saya pun berjuang untuk memperbaikinya… sama sekali tak terlintas dalam benak saya bahwa masalah usia yang “injury time” ini akan menjadi alasan penolakan yang kedua.

Inkonsistensi lain, dalam beberapa kesempatan, pihak LPDP mengatakan bahwa semua pelamar harus memilih satu dari sekian daftar universitas yang ada di list LPDP. Kenyataannya, mereka yang mendapat Letter of Acceptance (LoA) atau conditional letter dari universitas yang tidak masuk dalam daftar tersebut, tetap mendapat kesempatan untuk dipanggil wawncara alias lolos seleksi administratif.

Yang lainnya, pernah dijelaskan bahwa bagi mereka yang mendapat beasiswa ini dan harus berangkat segera sementara proses dengan LPDP belum selesai (untuk urusan kontrak dengan LPDP) maka pihak LPDP akan memberikan reimbursement kepada mereka. Kenyataannya yang saya dengar sekarang tidaklah demikian. Tidak ada reimbursement sebelum program pengayaan (yang di dalamnya ada proses tanda tangan kontrak).

Pengunduran program pengayaan yang dilakukan untuk mereka yang dinyatakan lolos wawancara pun ditunda-tunda tanpa pemberitahuan yang pasti. Seolah LPDP tak siap dengan semua yang terjadi, melakukan evaluasi secara mendadak dan hasilnya diberitahukan secara mendadak pula. Padahal, sekolah ke luar negeri tak bisa serba mendadak. Proses pendaftaran ke universitas, proses pengurusan visa, mencari akomodasi dsb, bukanlah perkara yang bisa selesai dalam semalam atau beberapa hari.

Semua kondisi itu membuat sebagian orang merasa kecewa sehingga antipati kepada lembaga tersebut. Saat ini sudah muncul keluhan bahkan caci maki karenanya. Padahal, harapan besar ada di lembaga ini. Lembaga yang diharapkan memberikan kesempatan yang sama kepada mereka yang bersungguh-sungguh ingin melanjutkan pendidikan ke luar negeri dan kelak kembali ke Indonesia untuk membangun negeri ini di bidangnya masing-masing. Jangan sampai semua ketidakpastian ini membuat orang tak lagi percaya kepada LPDP.

Saya sendiri, menganggap yang saya alami saat ini sebagai bagian dari proses keberhasilan yang tertunda — bagian dari takdir. Bahwa rezeki beasiswa saya, mungkin, bukan dari LPDP. Saya juga akan berusaha mencari jalan lain untuk mendapatkan beasiswa S3 saya.. apalagi conditional letter yang saya terima saat ini hanya berlaku enam bulan – sudah saya perpanjang dari sebelumnya. Maksudnya, saya juga harus bergerak cepat meskipun saat ini belum terlalu pasti juga, langkah mana yang akan saya lakukan.

Marahkah saya pada LPDP dengan semua inkonsistensi itu? Saya tidak marah..Bahwa saya penasaran, iya… Bahwa saya ingin bisa berargumen mengenai persyaratan mereka, iya.. Tapi saya tidak marah..untuk apa?

Saya tahu bahwa LPDP lembaga baru.. LPDP masih terus bebenah. Hanya saja, alangkah baiknya jika LPDP tak mengumbar berbagai janji yang membuat harapan banyak orang melambung tetapi kemudian tak mampu ditepati… akan lebih baik jika LPDP selalu menginformasikan perubahan apapun yang dilakukan dalam proses seleksi yang terus berlanjut. Toh meng-upload informasi baru tidaklah sulit dengan kemajuan teknologi saat ini. Apalagi LPDP pun memanfaatkan kecanggihan teknologi itu dalam proses seleksinya.

Satu lagi, pengalaman saya saat mendaftar berbagai program beasiswa yang disediakan lembaga lain adalah, kekurangan sedikit syarat admininstratif ternyata tak mengurangi kesempatan seseorang yang dianggap potensial untuk mendapatkan beasiswa (sebagai catatan : saya adalah penerima beasiswa ADS untuk program master; saya pernah menjadi kandidat terpilih untuk Humphrey Program di Fulbright). Contohnya, IPK kurang dari yang disyaratkan, tetap ada peluang untuk diterima setelah mempertimbangkan faktor lain yang dianggap lebih dominan. Saat kemampuan bahasa Inggris kurang sedikit tetapi syarat lain terpenuhi, pelamar tetap dipanggil untuk wawancara.Saya kenal beberapa orang yang syarat administratifnya kurang tapi tetap berangkat ke negara tujuan mereka.

Sebaliknya dengan LPDP, saya melihat ‘kekakuan’ penerapan aturan. Tak perlu berlindung di balik sistem karena sistem pun yang membuat adalah manusia. Lagipula, perubahan aturan kan tidak harus serta merta diterapkan seketika saat keputusan itu dibuat…selayaknya ada proses penyesuaian. Akan lebih bijak jika aturan-aturan atau keputusan-keputusan baru ditetapkan setelah ada sosialisasi terlebih dulu sehingga tak merugikan mereka yang sudah dalam proses pendaftaran/penerimaan beasiswa.

Aahhh…saya jadi terlalu banyak bicara yaa…tapi semoga curhat saya dianggap sebagai kritik membangun untuk LPDP.

   

Ada Apa dengan LPDP?

9 Jan

Saya adalah salah satu dari ribuan orang di Indonesia yang bergembira dengan kehadiran LPDP, dengan berbagai alasan. Pertama, karena saya menulis blog tentang beasiswa sejak 2007 2008 silam, yang tentunya isinya mendukung orang-orang yang ingin sekolah ke luar negeri dengan beasiswa. Kedua, saya sudah menulis buku tentang beasiswa “I Can Get a Scholarship, Why Can’t You?” yang isinya memotivasi orang untuk bersemangat dan tak mudah menyerah saat mencari beasiswa. Buku ini juga telah mempertemukan saya dengan banyak orang dari berbagai wilayah di Indonesia, melalui seminar atau diskusi beasiswa yang diadakan di banyak tempat, maupun secara tidak langsung melalui email-email yang dikirimkan para pembaca buku ini kepada saya. Ketiga, saya adalah inisiator seminar beasiswa dua tahun berturut-turut yang diselenggarakan di Bandung dengan jumlah hadirin lebih dari 100 orang di setiap seminarnya. Keempat, saya juga tengah mencari beasiswa untuk rencana studi S3 saya.

Karena itu, saya selalu dengan senang hati mempromosikan LPDP baik melalui blog ini, maupun secara langsung kepada orang-orang yang saya temui. Intinya, LPDP adalah salah satu harapan untuk mendapatkan beasiswa ke luar negeri karena selama ini persaingan beasiswa dari lembaga asing sudah cukup ketat…. Maka kehadiran LPDP yang notabene adalah lembaga milik pemerintah Indonesia menjadi sebuah angin segar sekaligus kabar bahagia bagi orang-orang seperti saya. Apalagi, saya mendengar banyak kisah menarik berkaitan dengan LPDP ini, seperti yang pernah saya postingkan di blog ini juga. Jadi saya semakin merasa “berkewajiban” untuk mendukung LPDP yang didirikan dengan niat mulia bagi bangsa ini.

Namun, setelah yang saya alami sendiri… Saya jadi bertanya-tanya, ada apa dengan LPDP? Saya ingin berbagi sedikit pengalaman saya, bukan untuk semata-mata menggugat LPDP tetapi terutama karena ingin agar lembaga ini, bisa segera berbenah, memperbaiki diri sehingga tak akan kehilangan kepercayaan dari banyak pihak.

Semula saya tidak ingin mendaftar LPDP karena saya lihat bidang studi yang saya minati tak tercantum di dalam daftar. Begitu juga universitas yang saya minati tak ada di dalam daftar. Tapi kemudian, saya mendengar cerita langsung dari salah seorang penerima beasiswa ini bahwa “daftar saja…” maka saya pun mendaftar. Menyiapkan semua persyaratan… Lalu mendaftarlah saya sekitar bulan Oktober 2013… saya submit semua syarat, bahasa Inggris, surat referensi, bahkan saya sudah dapat conditional letter dari kampus tujuan.

Sebagai penyelenggara seminar, saya pun berkenalan dengan salah satu direktur LPDP sehingga saya punya akses lebih baik dibandingkan orang lain – yang melamar beasiswa ini. Karenanya, saat saya tahu bahwa saya tidak lolos dalam seleksi administratif, saya pun berkirim email padanya untuk mencari tahu. Jawabannya: skor bahasa inggris saya ada yang belum memenuhi syarat. IELTS saya memang sudah 6.5 overall tapi ada yang masih di bawah 6.0. Saya agak ingin protes kala itu karena saya tahu banyak yang IELTS-nya bahkan belum 6.5 tapi dipanggil untuk wawancara. Tapi baiklah, saya pun berjuang untuk memperbaikinya.

Saya melakukan tes internasional IELTS lagi. Tetapi masalah baru muncul. Ternyata saya tidak bisa daftar ulang, saya tidak bisa memperbaiki skor IELTS saya. Hingga akhir Desember saya mendapat kabar kalau saya bisa mendaftar lagi. Hari ini, muncul pengumumannya. Lagi-lagi saya tidak lolos. Padahal semua syarat administratif sudah saya penuhi. Bahkan saya sudah menyiapkan surat dari calon supervisor saya mengenai peringkat kampus saya di jurusan yang saya minati – yang meskipun tidak masuk dalam daftar LPDP, tetapi untuk jurusan saya peringkatnya masuk 150 besar dunia.

Lagi-lagi, saya mengirimkan email permohonan penjelasan kepada salah satu direktur LPDP yang saya kenal itu. Setelah menunggu beberapa jam, jawabannya pun muncul. Beliau mengatakan bahwa usia saya kelebihan 10 bulan dari syarat pendaftaran yang seharusnya.

Saya heran karena saya tidak mengalami penolakan saat mendaftar. Sementara rekan saya yang usianya memang melebihi batas yang disyaratkan LPDP, langsung ditolak oleh sistem saat dia mendaftar pertama kali. Kedua, usia saya saat ini masih 40 tahun.. sesuai seperti yang disyaratkan LPDP di pengumumannya bahwa maksimal berusia 40 tahun untuk pelamar program S3. Benar, akhir Januari 2014 ini usia saya akan 41 tahun, tetapi sebelum itu.. usia saya kan masih 40 tahun yang artinya secara administratif saya masih punya kesempatan dan hak untuk mendapat beasiswa ini – meskipun bisa dikatakan ini adalah “injury time” bagi saya.

Saat saya tanyakan kembali kepada beliau, jawabnya : secara sistem memang demikian. Bahkan ada yang ditolak karena kelebihan hari, Jadi yang dihitung adalah bulan.

Sebenarnya saya tidak puas dengan jawaban itu. Tapi saya juga tahu beliau sibuk. Jadi saya bilang kalau saya berterima kasih untuk penjelasan itu.

Inilah uneg-uneg atau curcol saya : (1) ketika apply pertama kali LPDP, kalau memang batas pendaftaran adalah sebelum berusia 40 tahun, maka seharusnya saat saya daftar pertama kali, saya langsung ditolak oleh sistem. Kenyataannya saya masih bisa daftar, yang artinya memang saya masih dianggap berusia 40 tahun – sesuai dengan syarat yang tertulis di website LPDP mengenai syarat pelamar program S3 dan sesuai dengan penafsiran umum bahwa usia kita adalah di tahun berjalan.  (2) Saya ditolak pada pendaftaran pertama, karena IELTS saya… tetapi tidak ada penjelasan mengenai usia yang kelebihan sekian bulan… Ini aneh sebab saya mendaftar di tahun yang sama.. yaitu tahun 2013. Seperti saya katakan, saya lahir di akhir Januari 1973 sehingga usia saya pun masih sama. (3) Saat pendaftaran yang kedua, dikatakan bahwa saya ditolak sistem karena usia saya lebih 10 bulan dari yang disyaratkan. Tetapi mengapa saat saya melakukan ‘pembatalan pendaftaran’ dan kembali mengisi aplikasi pendaftaran, tak dikatakan oleh sistem kalau saya melampaui batas usia yang disyaratkan?

Ada inkonsistensi dalam alasan penolakan ini. Karena itu saya bertanya, ada apa dengan LPDP?

Cerita Pemenang beasiswa LPDP

4 Des

Melihat rekan seperjuangan dalam mencari beasiswa mendapat keberhasilan, saya ikut berbahagia. Teman yang kali ini lolos mendapatkan beasiswa adalah salah seorang yang beberapa bulan yang lalu tak yakin bahwa dirinya akan berhasil memperoleh beasiswa ini… malah, dia ragu dengan beasiswa ini meskipun sudah menuliskan surat ke calon supervisornya bahwa dirinya akan mendapatkan beasiswa dari pemerintah.

Ceritanya tidaklah mudah. Berliku dan terjal… Saya bukan hendak menakuti, sebab saya mengikuti perjalanannya dalam mendapatkan beasiswa tersebut. Ada “kemudahan” yang diperolehnya tetapi ada bagian yang dia harus berjuang sendiri, hanya Allah yang tahu jungkir baliknya dia untuk memenangkan beasiswa ini.

Saya ingin berbagi kisah, tentu saja versi saya sebab kalau versi dia, akan berbeda cerita. Saya berbagi kisah ini untuk menyemangati tak hanya orang lain tetapi juga diri sendiri. (sedikit curhat: saya juga sedang berjuang mendapatkan beasiswa untuk melanjutkan sekolah ke jenjang S3).
“Selama ini saya membaca kisah yang menyeramkan dan menakutkan mengenai proses beasiswa LPDP, jadi saya membayangkan hal-hal seperti itu saat wawancara. Tetapi ternyata, tidak seseram itu kok,” kata dia saat berbagi kisah dengan para pencari beasiswa LPDP di IEDUC Bandung.

Jadi, kisah ini pun tidak akan ditulis menyeramkan atau menakuti…hehehe
Ia sudah memulai perjuangannya untuk melanjutkan sekolah S3 sejak delapan bulan sebelum mendapatkan kesempatan mengikuti pelatihan bahasa Inggris yang diselenggarakan Pemprov Jawa Barat. Jadi, ia memang sudah punya niat untuk melanjutkan sekolah. Ketika Pemprov Jabar mempunyai program “300 doktor untuk lima tahun” dan ia tersaring salah satu kandidatnya, maka hal ini seperti sebuah kelancaran jalan baginya.

Tetapi, ikhtiarnya tak hanya berhenti di situ. Ia terus mengontak calon supervisor di beberapa universitas di beberapa negara yang bersedia menjadi pembimbingnya, dan ia juga mengatakan bahwa untuk biaya studi, ia akan dibiayai oleh Depkeu RI – sekalipun ia baru berencana mendaftar LPDP.

Proses kontak calon supervisor pun tak mudah. Ada yang bilang tertarik. Ada yang kurang merespons. Ada juga yang memberinya sinyal positif tapi berulang kali sang calon supervisor memintanya merevisi research proposal yang dibuatnya. Salah satu yang diminta adalah “state of the art” … perlu waktu lama untuk membuat ini sebab tak semua universitas meminta ini sehingga tak mudah juga untuk membuatnya. Googling pun tak banyak membantu sebab selera sang calon supervisor berbeda :)

Bolak-balik ke ITB – kampusnya yang dulu, konsultasi dengan mantan dosen atau kenalan dosen, sambil terus mempersiapkan bahasa Inggrisnya serta mendaftar LPDP. Ketika akhirnya sang calon supervisor mengiyakan, ia pun mendapat LoA dengan permintaan skor IELTS hanya 6. Tapi apa daya, LPDP berbeda syarat administratifnya. Skor IELTSnya sudah 6,5 tapi ada yang kurang dari 6, sehingga dianggap belum memenuhi syarat. Maka ia pun mengambil tes TOEFL ITP dengan skor melebihi syarat LPDP. Jadilah dia dipanggil wawancara.

Proses wawancara pun berlangsung cukup panjang. Wawancara ini dilakukan, persis seperti yang saya duga, sebagai proses konfirmasi. Para interviewer membaca dengan seksama aplikasi kita dan menanyakan banyak hal tersebut dengan isi aplikasi tersebut. Jadi harus konsisten, kalau menulis A saat mengisi aplikasi, maka saat ditanya pun harus menjawab A. Jangan sampai interviewer berpikir bahwa bukan kitalah yang mengisi aplikasi tersebut. “Proses wawancara sekitar satu jam totalnya karena tiga interviewer per orangnya sekitar 20 menit,” katanya.

Wawancara menanyakan hal-hal yang ditulis di aplikasi. “Selama tiga hari sebelum wawancara, saya kurang tidur karena menghapalkan kata per kata dalam essay saya,” ujarnya.

Semua itu menghasilkan hal yang menggembirakan. Dua hari kemudian, ia menerima informasi bahwa ia mendapatkan beasiswa tersebut – mimpinya untuk sekolah di Jerman pun akan segera terwujud. “Saya harus mengikuti program 10 hari untuk pemantapan, di kopassus,” kata dia. Selain itu ia juga harus menandatangani semacam kontrak dengan LPDP. Jika tak mau tanda tangan, berarti tak jadi dapat beasiswa LPDP.

Pelajaran yang bisa saya catat adalah bahwa semua proses memang harus dilalui, kadang prose situ menyakitkan tetapi kita harus terus setia dengan proses tersebut. Pasti sekarang ini banyak rekannya yang bilang, “senangnya… selamat ya, hebat ya…” Tapi tahukah mereka perjuangannya untuk mendapatkan “hadiah” ini?

So, keep moving yuk…:)

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

Bergabunglah dengan 52 pengikut lainnya.