Posted by: scholarshiphunter on: Juli 24, 2009
Jika kita ingin mendaftar ke universitas di luar negeri, salah satu cara yang bisa kita lakukan adalah melakukan kontak dengan pihak universitas. Kontak itu bisa dilakukan secara langsung, yaitu saat universitas mengikuti pameran pendidikan (yang saat ini seringkali digelar) atau mengirimkan email ke pihak universitas (uni), tentunya setelah kita mengecek website dari uni yang bersangkutan.
Umumnya, dalam pameran-pameran pendidikan, yang hadir adalah bagian marketing. Memang tugas mereka melakukan promosi uni, sehingga calon mahasiswa tertarik untuk mendaftar ke sana. Biasanya, kalo kita bertanya ini dan itu, pihak uni akan memberikan alamat email dan no kontak yang bisa dihubungi, setelah kita terlihat berminat untuk mendaftar di salah satu jurusan yang mereka miliki. Namun jika si uni tak kunjung mengikuti pameran pendidikan, bagaimana dong? Ya itu tadi, cara kedua… kirim email ke bagian marketing uni..
Apa yang kita tanyakan dalam pameran atau dalam email tersebut? Hmmm… bisa bertanya banyak hal, mulai dari “saya ingin mengetahui mengenai jurusan marketing atau pertanian atau jurusan X di universitas ini”… Lalu tanyakan biaya hidup di kota tempat uni tersebut, mungkin juga tanya mengenai kemungkinan beasiswa…
Kalo via email, bisa kita bertanya mengenai hal-hal yang belum jelas dari website mereka. Misalnya, beberapa uni tidak menyediakan akses ke course outline, sehingga harus ditanyakan.. Tapi ada juga yang sudah lengkap dan detail di website. Nah untuk yang sudah lengkap ini, kita tetap bisa mengirimkan email ke uni, dengan mengatakan.. bahwa kita berminat untuk masuk ke uni tersebut, tapi masih mencari beasiswa, atau sekadar meyakinkan informasi yang kita ingin dapatkan, atau bertanya mengenai kualifikasi dosen yang mereka miliki, dsb. Intinya kirim email dan bertanya…
Di sebagian uni, kita mungkin akan di-refer ke professor atau dosen yang lebih berwenang, tapi di uni lain cukup hanya dilayani oleh bagian marketing saja. Apapun jawaban uni, itu tetaplah bagus.. sebab pengalaman pribadi saya, ada uni yang tak kunjung memberikan balasan, padahal kita bertanya sejak lama.. hehehe.. Mungkin uni ini menilai, saya kurang prospektif hehehe..entahlah. Tapi pengalaman lain, dan lebih banyak, pihak uni akan segera membalas email kita…
Mengapa urusan berkorespondensi dengan uni ini saya tulis panjang lebar di sini? Sebab untuk beasiswa ADS, kontak dengan pihak uni menjadi sebuah point penilaian. Tak peduli apakah kita ambil master by coursework atau by research… Kalo yang PhD tentu saja harus berkontak dulu sebab harus mencari kemungkinan mengenai calon supervisor..
Bagi mereka yang mendaftar master by coursework, menyertakan bukti korespondensi kita dengan pihak Uni, sesederhana apapun bentuknya, merupakan sebuah poin lebih. Pasalnya, tak banyak calon pendaftar yang melakukan kontak dengan uni.. biasanya calon pendaftar berpikir, bahwa mengontak pihak uni-nya nanti-nanti saja, kalo pas mau dipanggil wawancara atau pas sudah pasti keterima beasiswanya…
Padahal… pihak pemberi beasiswa, melihat kesungguhan kita sebagai pelamar, dalam mencari beasiswa. Termasuk di dalamnya, kontak dengan uni. Mengapa? Dengan kita mengontak pihak uni, berarti kita serius dengan keinginan kita kan? Kalo hanya iseng-iseng saja… ngapain cape-cape kirim email ke pihak uni, pake bahasa inggris pula..:) Jadi, penting untuk mencantumkan hasil korespondensi kita dengan pihak uni..
Apalagi, pengalaman saya sendiri, salah satu pertanyaan yang diajukan pihak penguji (saat wawancara) adalah : di uni mana yang sesuai dengan rencana studi kamu? Lalu apakah kamu sudah menanyakan hal tersebut ke uni tersebut? Sejauh mana penelusuranmu terhadap jurusan yang mau kamu pilih itu?
Malah pengalaman seorang teman lain, dia saat wawancara ditanya begini : apakah kamu yakin, dengan kualifikasi kamu itu, uni di Australia akan menerimamu sebagai mahasiswa? Lalu dengan mantap temanku ini menjawab : tentu saja saya yakin, ini saya sudah berkirim email dengan pihak uni dan mendapat jawaban “yes”. Ia sambil menunjukkan email korespondensi dia dengan pihak marketing uni yang kini menjadi tempat dia belajar.
Kesimpulannya apa? Berkorespondensilah dengan pihak uni.. bertanya ini dan itu, sebab itu akan memperkaya pemahaman kita.. sekaligus menjadi nilai tambah dalam aplikasi pendaftaran beasiswa kita…
Posted by: scholarshiphunter on: Juli 2, 2009
Belum lama ini ada berita yang cukup menjadi perbincangan di kalangan para penerima beasiswa. yaitu, imbauan agar para mahasiswa yang mendapatkan beasiswa untuk belajar di luar negeri, berhati-hati dengan upaya negara pemberi beasiswa yang kemungkinan ingin mencari data mengenai Indonesia. Dengan kata lain, para penerima beasiswa ini akan menjadi “intelijen pendidikan”… silakan klik di sini : intelijen pendidikan
Menarik mencermati komentar dan tanggapan beberapa teman… ada yang sewot, tapi ada juga yang mengakui adanya kemungkinan tersebut. sementara yang lain mengatakan, mengapa tak menjadi double agent sekalian
Aku berada dalam posisi yang mengakui bahwa peluang para penerima beasiswa — termasuk aku yang saat ini sedang menuntut ilmu di negeri kangguru karena beasiswa dari negara pulau ini — untuk menjadi intelijen pendidikan yang merugikan negara kita, sangat mungkin terjadi… tinggal bagaimana kita menyikapi dan berhati-hati dengan setiap kemungkinan itu.. aku sepakat dengan pendapat yang menyatakan, mengapa kita tak menjadi double agent saja? Kalo mereka — pihak pemberi beasiswa — meminta kita mencari data-data mengenai Indonesia, data-data krusial, maka kita juga bisa mengambil data-data sejenis dari negara tempat kita belajar…
Masalahnya, yang kerap terjadi adalah kita lupa bahwa kita sudah memberikan banyak kepada tempat kita belajar, tetapi saat lulus… kita lupa untuk mengabdikan ilmu kita di negara kita… itu masalah utamanya, menurutku. Bahkan tak sedikit dari para penerima beasiswa ini yang tergiur untuk menetap di negara tempat dia belajar… Lalu di mana bagian pengabdiannya kalo demikian?
aku tak sedang mengecam siapapun, apalagi aku juga punya peluang untuk melakukan hal yang sama — meskipun saat ini belum terpikirkan — tapi aku mengajak untuk memikirkan kembali mengenai kemungkinan-kemungkinan yang ada… Janganlah sewot dengan seruan untuk berhati-hati itu.. tokh pejabat ini tak berkata asal, kok.. dia pasti punya dasar.. bahwa dasarnya dinilai kurang kuat, itu masih bisa diperdebatkan…
seorang temanku pernah bercerita mengenai hal tersebut… jadi buatku tak mengherankan.. temanku ini mengatakan bahwa banyak mahasiswa yang mengerjakan riset, diminta untuk mengungkapkan data-data pertahanan dari perusahaan-perusahaan strategis di Indonesia dalam tesis mereka…. Pilihannya adalah, mengikuti permintaan dosen dan segera menyelesaikan tesis atau menolak dan berisiko terhambat pendidikannya…
semoga aku tak perlu mengalami hal tersebut.. sejauh ini aku mencoba untuk tidak menyerempet ke sana.. aku menyadari bahwa beasiswa ini tak mungkin diberikan secara cuma-cuma, meskipun rasanya sekarang ini ya seperti itu.. kita cuma disuruh belajar saja.. tapi kewaspadaan tetap harus dijaga..:)
Posted by: scholarshiphunter on: Maret 28, 2009
Kabar gembira buat para peminat beasiswa ke Negara-negara Eropa, tahun ini Beasiswa Erasmus Mundus kembali dibuka. Yang menarik, beasiswa ini menambah jumlah penerima beasiswa dari berbagai Negara, dan…. Mulai tahun ini tak hanya bagi pemburu gelar master, tetapi juga PhD.
Beberapa minggu lalu, di kampusku Griffith Uni, ada presentasi dari Uni Eropa dan pelaksana beasiswa Erasmus Mundus. Mereka sengaja datang ke kampusku, sebagai bagian dari promosi kegiatan mereka.. dan juga sosialisasi situs baru mereka, juga program baru yang akan segera dilaksanakan. Karena lokasinya di Australia, maka fokus pembicaraan mereka pun tentu saja seputar beasiswa untuk mahasiswa dan dosen di Australia, khususnya Griffith Uni. Apalagi selama ini sudah terjalin kerja sama yang baik antara Australia dan Uni Eropa dalam bidang pendidikan, khususnya pengiriman mahasiswa antarmereka.
Usai acara, aku dan Dhevi temanku, mendekati salah satu pembicara dan bertanya mengenai peluang Indonesia (mahasiswa Indonesia) untuk mendapatkan beasiswa tersebut, si ibu pembicara ini dengan antusias mengatakan,”Oh.. Indonesia.. kalian bisa daftar..kalian kami juga ada kerja sama khusus dengan Indonesia, jadi peluang buat kalian sangat terbuka. Kunjungi website kami…”
Wahhhh, hati kami langsung berbunga-bunga. Ada kesempatan besar….
Jadi silakan, bagi yang berminat untuk mendaftar beasiswa Erasmus Mundus, baik yang master maupun PhD, bisa mengecek langsung di website nya. Saya sendiri belum mengeksplor banyak mengenai beasiswa, karena dua alas an : pertama, belum ada waktu mengingat tugas kuliah yang sangat banyak.. kedua, kayaknya buat saya belum perlu banget hehehe.. saat ini aja saya baru memulai studi di Griffith dengan beasiswa..
So, silakan klik alamat berikut dan dapatkan informasi seluas-luasnya. http://ec.europa.eu/education/external-relation-programmes/doc72_en.htm
Kalo ada pertanyaan, silakan kirimkan pertanyaan langsung kepada mereka… yang mengelola situs tersebut, mereka pasti mau menjawabnya karena mereka juga sedang gencar-gencarnya promosi..
Posted by: scholarshiphunter on: Maret 28, 2009
Dua minggu lalu, aku berkenalan dengan seorang teman baru.. namanya Thiben, dia orang Malaysia. Kami bercerita mengenai banyak hal, termasuk kesempatan untuk bersekolah di luar negeri. Dia sudah setahun di Brisbane, jadi sudah lebih banyak tahu mengenai ini dan itu di kota ini. Lalu dia bilang, bahwa setelah satu tahun di Brisbane, dia merasa sedang berada di masa depan.
“Kita saat ini sedang berada di masa depan. Negara kita adalah Negara berkembang, dan Australia adalah Negara maju. Jika sebuah Negara sudah maju, ia akan stagnan, tak bergerak.. sementara kita developing countries.. masih akan berkembang dan akan menuju developed countries. Nah kita punya kesempatan untuk mengalaminya lebih dulu… kelak kita kembali ke Negara kita, kita akan kembali ke masa lalu… “ ujar Thiben.
Haaa… ide menarik!!!
Jadi saat ini, sejak januari lalu, aku sedang berada di masa depan…
bahwa kelak Indonesia juga akan semaju Australia atau Eropa.. Dan aku punya kesempatan lebih dulu untuk mencicipi kemajuan itu, untuk kelak kalo kembali ke tanah air, harus mengabdikan ilmu dengan sebaik-baiknya sehingga Indonesia bisa lebih cepat menuju kemajuan…
Impian yang indah…kemajuan seringkali disetarakan juga dengan kemakmuran… aku ingin Indonesia menjadi Negara yang makmur karena aku mencintai Indonesia.. apalagi Indonesia punya ppotensi untuk menjadi Negara besar. Tanah Indonesia itu sangat kaya raya.. alamnya, sumber daya alamnya, jumlah penduduknya, masyarakatnya juga pandai-pandai kok… dan yang lebih penting lagi, Indonesia adalah Negara yang beragama…
Masalahnya memang, apakah mereka yang bersekolah keluar negeri ini, baik biaya sendiri maupun dengan beasiswa, menyadari hal tersebut? Bahwa sekolah ke luar negeri, dimaksudkan untuk membantu pengembangan Negara kita… dan tak hanya semata-mata demi kepentingan pribadi…
Thiben bilang,”sekolah di luar negeri seperti kita ini, hanyalah jembatan… jembatan bagi kita untuk mencapai sesuatu yang kita inginkan.. kita buka jaringan seluas-luasnya sekaligus kita mempromosikan diri kita seluas-luasnya… sebab k ita mempunyai kesempatan untuk itu…Nanti, kalo kita pulang ke Negara kita, itu semua akan sangat bermanfaat bagi Negara kita…”
Yup… aku setuju dengan Thiben.. aku sependapat denganmu mengenai peluang sekolah di luar negeri dan apa yang harus kita lakukan selama menimba ilmu di negeri orang…
Semoga semakin banyak orang-orang yang berpikiran jauh ke depan, dan tak hanya mementingkan kepentingan pribadi semata…
Impian bisa saja besar dan tinggi,tetapi selalu harus dimulai dengan langkah pertama.. langkah kecil…
Posted by: scholarshiphunter on: Maret 1, 2009
Bicara mengenai beasiswa, kadang-kadang menyangkut pula dengan urusan ikatan dinas. Iya, banyak instansi yang mengikat karyawannya yang mendapatkan beasiswa atau yang sengaja disekolahkan ke luar negeri, dengan ikatan dinas. Dulu, aku berpikir bahwa yang namanya ikatan dinas itu hanya menjadi kecemasan atau persoalan yang tak mengenakkan bagi karyawan di perusahaan swasta, kayak yang pernah aku alami. namun ternyata, hal itu menjadi “isu nasional” juga bagi para pegawai negeri sipil (PNS).
belum lama ini, sebelum aku berangkat ke Oz, untuk studi, salah seorang temanku yang bekerja di departemen yang berkantor di lapangan banteng, jakarta.. mengungkapkan betapa kagetnya dia saat mengetahui bahwa perjanjian ikatan dinas dirinya (dan teman-temannya yang juga akan berangkat sekolah ke Oz) demikian ketatnya. Dia bilang bahwa keluarga harus hadir dan menjadi saksi atas perjanjian ikatan dinas itu.
aku juga agak terkesima mendengar cerita teman ini. seserius itu..ternyata…:)
jadi ingat, bagaimana aku dulu berargumen, dan tak mau diikat dengan ikatan dinas.. karena menurutku, aku mencari beasiswa sendiri, berjuang sendiri.. bahwa aku bekerja di perusahaanku, dan itu diperhitungkan, yaaa..itu benar adanya. tapi hanya itu saja.. selebihnya aku jatuh bangun sendirian, tanpa perusahaan tahu apa yang aku lakukan selama tiga tahun mencari beasiswa ini…
eh, giliran aku ditrima, dengan segera manajemen perusahaan membuat aturan untuk mengikatku. mending kalo aturannya win-win solution (yang menurut guruku di IALF Jakarta, Nigel Vickers) win-win solution itu ga ada…hehehe dan emang ga ada ternyata heheheh…terbukti pada kasusku lah… paling tidak..
ikatan dinas yang dibuat manajemen kantorku waktu itu sangat menguntungkan perusahaan dan sangat merugikan aku.. karena itu, aku memutuskan untuk resign sajalah… bukan semata karena aku dapet beasiswa, dan ingin mendapatkan pekerjaan yang lebih baik kelak kalo kembali ke tanah air, tapi lebih dikarenakan aku kecewa, mengapa perusahaan tempat aku bekerja selama 11 tahun itu, kok bisa-bisanya bikin aturan seenaknya mengenai karyawannya yang loyal ini …(halahhh…) maka kata temanku, “You love your office, but your ofice doesn’t love you..” hahaha… bener banget…:D
karena itu, bagi para pencari beasiswa, bersiaplah untuk sebuah pilihan di kemudian hari, kala anda mendapatkan kesempatan beasiswa. mungkin sebagian akan berujung pada dilema ikatan dinas yang bikin puyeng… tapi semuanya memang bagian dari risiko.. bagian dari anugrah yang kita terima. di satu sisi, kita dapat beasiswa, di sisi lain ada aturan ikatan dinas yang menunggu..
mengenai para PNS, kalo mereka diikat dengan ikatan dinas sih, menurutku cukup wajar.. terlepas dari aturan ikatan dinasnya bagaimana, apakah bagus ato terlalu ketat.. karena beasiswa umumnya memang ditujukan bagi para PNS dengan asumsi mereka adalah abdi negara, mereka yang merupakan pelayan masyarakat… jadi mendapat prioritas.. Jadi kemudian wajar saja, jika negara ingin ‘mengikat’ mereka…
Tapi diperusahaan swasta, terbuka banyak opsi..jadi pandai-pandailah untuk mengetahui berbagai opsi yang mungkin bisa kita peroleh — yang sayangnya, saya ga bisa dapatkan.. karena itu tadi, entah di mana yang menjadi sentral permasalahan…
makanya aku memilih resign saja, dan berkonsentrasi penuh dalam belajar.. insya Allah. Soal kelak kalo kembali ke tanah air bagaimana, pikirkan dengan serius nanti saja..:)
Posted by: scholarshiphunter on: Februari 7, 2009
Saat mendengar seseorang akan berangkat ke luar negeri untuk sekolah dengan beasiswa, umumnya kita akan berujar,”wahhh…enak yaa.. saya pengen lho…gimana caranya?” dan pertanyaan sejenisnya… Tapi kemudian setelah mendengar informasi mengenai persyaratan yang harus dipenuhi atau apa yang harus dilakukan untuk mendapatkan beasiswa tersebut.. lalu ungkapan itu hanya menjadi obrolan semata.
Nanti, beberapa hari kemudian atau beberapa bulan kemudian atau setahun kemudian, kita mendengar lagi informasi bahwa ada seseorang atau kenalan kita atau sahabat kita, mendapatkan beasiswa ke luar negeri, lagi-lagi kita akan berkata,”Duh enaknya.. mau dong…”. Lalu kembali bertanya mengenai tips dan trik untuk mendaftar dan mendapatkan beasiswa… Tapi sekali lagi, setelah itu kita tak melakukan apapun.. atau berpikir, bahwa… “kok susah ya syaratnya… “. Dan tak melakukan apapun untuk menggapai atau setidaknya mendekati persyaratan yang diajukan…
Akhirnya, itu yang terjadi… hanya ingin, hanya ingin dan hanya berangan-angan.. di sisi lain, menganggap bahwa diri kita tak mampu mendapatkan hal itu.. jadi untuk apa melakukan ini dan itu? Ato persoalan berikutnya, kita merasa diri kita terlalu sibuk untuk mendaftar, mengikuti persyaratan.. dan jika diperlukan untuk memperbaiki kemampuan bahasa inggris kita, kita pun merasa tak punya cukup waktu.. kita sibuk dengan berbagai urusan…
Kal o sudah demikian, bagaimana mungkin kita bisa mendapatkan beasiswa? Kita sebenarnya tak menginginkan hal itu… Mengapa? Karena kita sama sekali tidak berusaha melakukan sesuatu untuk menggapai keinginan itu agar jadi nyata, atau setidaknya semakin mendekati nyata…
Kalo gitu, apa yang harus dilakukan? Menurut pendapatku, yang harus dipunyai pertama kali adalah niat dan motivasi kita.. apa sebenarnya motivasi dan niat kita mendapatkan beasiswa ? kalo sekadar ingin jalan-jalan ke luar negeri… tolong dipikirkan lagi… karena beasiswa itu diberikan dengan tujuan untuk membantu pembangunan di Indonesia. Meskipun namanya beasiswa, bukan berarti semuanya gratis seratus persen… Mungkin untuk kita, sebagai penerima beasiswa, terasa bahwa beasiswa ini gratis. Padahal nggak begitu.. pemerintah kita harus melakukan perjanjian kerja sama dengan Negara lain, demi mendapatkan beasiswa tersebut. Misalnya memberikan projek pembangunan kepada mereka, atau ada imbalan lain yang intinya adalah uang Negara…
Sebagai generasi muda, sebagai orang yang beragama, apakah kita tega membiarkan uang Negara yang juga artinya uang rakyat – uang yang dipungut dari pajak—kita pakai hanyau ntuk jalan-jalan semata? Kita bukan koruptor kan… kita juga tidak ingin dikatakan merampok uang Negara bukan? Makanya, perbaiki niat dan motivasi kita dalam mencari beasiswa… Niatkan untuk mendapatkan pendidikan yang tinggi, yang lebih baik.. dan akan diamalkan di negeri kita, setelah kita selesai… Tak mesti harus jadi relawan kok, jadi pegawai yang baik… jadi wartawan yang baik, jadi dosen yang baik… yang bermanfaat buat sekeling dan lingkungan kita.. juga merupakan sumbangsih yang berharga buat Negara…
Bahwa kita kemudian mendapatkan bonus, bisa jalan-jalan ke luar negeri… bisa berkenalan dengan berbagai bangsa.. bisa mendapatkan uang tabungan dari hasil beasiswa kita, itu adalah bonus… bukan tujuan utama..
Langkah kedua adalah tekad yang kuat untuk mendapatkan beasiswa ke luar negeri, tekad yang kuat untuk mencari beasiswa… kalo sekadar niat dan motivasi tanpa tekad yang kuat, kita akan kurang bisa bergerak.. Kita akan terkendala dengan berbagai kesibukan harian kita, tapi kalo kita punya tekad yang kuat, maka selanjutnya kita akan membuat skala prioritas … yang memasukkan dalam daftar prioritas utama kita : mencari beasiswa, mengikuti prosedurnya… dan setia pada prosesnya.
Setia pada proses? Yup… setia pada proses. Karena kita tak tahu, kapan kita akan mendapatkan beasiswa itu.. kita tak tahu, scenario Allah SWT untuk kita saat yang terbaik mendapatkan beasiswa tersebut. Wilayah kita adalah ikhtiar, bukan hasilnya… Nah, kalo ternyata Allah menentukan bahwa baru tahun kelima kita mendapatkan beasiswa tersebut, bukankah berarti setiap tahun kita harus mendaftar beasiswa tersebut… mengikuti prosesnya, sabar menjalani semua tahapannya… dan terus begitu bertahun-tahun, sampai akhirnya kita diterima… mungkin tahun pertama kita daftar, tapi mungkin juga tahun ketiga (seperti aku) atau malah tahun kelima, seperti temanku…Kita tidak tahu…
Tapi di tahun keberapa pun kita diterima, percayalah bahwa itulah yang terbaik… scenario terbaik yang dipilihkan Allah untuk kita… jadi, jalani saja dengan rasa syukur.
Proses apa saja yang perlu kita jalani? Pertama, menyiapkan dokumen untuk pendaftaran, mengetahui saat yang tepat kapan beasiswa itu menerima pendaftaran.. yang itu berarti, kita harus meluangkan waktu cukup banyak untuk mencari informasi mengenai hal tersebut. Kemudian, jika bahasa inggris kita masih kurang, maka kita perlu mengikuti kursus bahasa inggris yang berarti ada biaya yang harus dikeluarkan, atau kita perlu belajar sendiri.. yang berarti harus disiplin waktu dan mengetahui metode belajar yang baik…
Satu catatan penting adalah, kita harus mempersiappkan jauh-jauh hari sebelum pendaftaran kita mulai. Kita tak bisa menunggu waktu pendaftaran tinggal beberapa hari, baru mencari syaratnya apa.. dan memenuhinya.. Inilah yang seringkali membuat kita terlambat untuk mendaftar, sebab syarat-syaratnya tidak terpenuhi…
Jadi, seperti bulan ini Februari.. Jika memang ingin mendaftar untuk ADS 2009 maka persiapan harus dilakukan mulai sekarang meskipun ADS buka pendaftaran Juni-awal September pada setiap tahunnya. Cek apa saja syaratnya, dan siapkan… misalnya skor TOEFL atau skor IELTS, dan surat rekomendasi dari dosen pembimbing kita dulu saat S1, atau harus berkontak dengan universitas yang kita minati… ketiga tahap itu perlu proses, nggak cukup hanya seminggu atau dua minggu sebelumnya…
Tes TOEFL/IELTS di tempat kursus dulu… kalo skornya udah bagus, berarti satu syarat sudah siap. Tapi kalo belum, berarti kita harus –misalnya- kursus… masih ada waktu. Kan bisa meng-upgrade skor bahasa inggris kita dalam beberapa bulan, insya Allah…
Begitu juga jika harus menghubungi dosen pembimbing kita dulu zaman S1, bisa jauh-jauh.. begitu juga berkorespondensi dengan universitas di Australia…
Nanti pas Juni, kita sudah siap untuk mendaftarkannya… Urusan mengisi form aplikasi pun perlu persiapan lho… nggak asal ngisi. Ingatlah bahwa form aplikasi kita merupakan pintu pertama untuk mewujudkan mimpi kita sekolah berbeasiswa di luar negeri….
Jadi inget lagunya Nidji : Laskar Pelangi…
Mimpi adalah kunci, untuk kita menaklukkan dunia
Berlarilah tanpa lelah, sampai engkau meraihnya…
Menarilah dan terus menari, walau dunia tak seindah surge
Bersyukurlah pada Yang Kuasa, cinta kita di dunia…
Posted by: scholarshiphunter on: Februari 1, 2009
ini kisah seorang teman.. mengenai pengalamannya menjalani beasiswa. saat ini dia dan temannya sedang mengikuti pendidikan di salah satu uni di brisbane, australia. kami bertemu belum lama ini dan dia bercerita bagaimana “penantian” untuk mendapatkan dana beasiswa itu…
dia bilang bahwa pencairan dana beasiswa itu, tergantung APBN. yang terjadi kemudian adalah keterlambatan penerimaan dana.. kalo hanya molor satu dua minggu, nggak masalah dong. tapi kalo sampe berbulan-bulan…walahhh…
Nah gara-gara itu pula, temannya yang sesama penerima beasiswa dikti, harus berutang dulu untuk bayar biaya kuliah. contohnya kayak semester ini, paling telat biaya kuliah (tuition fee) itu dibayar februari awal, sementara kabar dari indonesia.. dana beasiswa itu baru akan cair sekitar april! bayangkan….
emang bisa nego ama kampus untuk minta keringanan, tapi ada syarat lain yang diminta, yaitu surat dari kampus mengenai “adalah benar si student ini dijamin oleh kampus tersebut”. parahnya teman ini meminta surat keterangan dari kampusnya (sebuah perguruan tinggi negeri bergengsi di tanah air) sejak november 2008 lalu, sampe awal februari ini belum juga ada… “biasalah, birokrasi di sana…gimana, tau sendiri,” ujar si teman.
jadilah si teman tersebut kalang kabut, cari pinjaman sana sini untuk biaya kuliah. Ga tanggung-tanggung, nilai tuition fee nya itu 10 ribu dolar australia… dengan rate 7300 rupiah per AUD, maka tuition fee itu menjadi sekitar 73 juta rupiah selama satu semester. duit dari mana coba??
birokrasi menjadi persoalan serius di negeri kita… orang sekolah di luar negeri, janjinya dibiayai.. dan memang jumlahnya lumayan gede lho…beasiswa dikti ini.. hampir sama dengan beasiswa ADS yang aku terima. bedanya, kalo beasiswa ADS, semuanya sudah terencana.. sudah tertata dengan cukup baik, ga ada urusan puyeng ama duit kuliah dsb.. sementara beasiswa dikti ini kudu menunggu pencairan dana yang per semester…itupun telat pula.. karena seperti dibilang tadi.. tergantung APBN.
udah gitu, konon, menurut si teman ini, pengumuman penerimaan beasiswa dikti ini pun mepet dengan saat daftar ulang ke uni… jadinya itu tadi, kalang kabut. masih cerita teman yang tadi, dia hanya punya waktu 2 minggu untuk mengurus visa sampai beli tiket sebelum berangkat… cuma dua minggu.. kebayang kan, gimana lari-larinya mencari semua itu…:D
untuk mengurus visa kan, salah satunya harus tes kesehatan, dan itu kalo salah pilih rumah sakit untuk tes juga bisa runyam urusannya…
aku crita ini bukan bermaksud menakut-nakuti..justru share informasi, agar para peminat beasiswa dikti ini lebih bersiap dengan segala kemungkinan.. bersiap dengan beberapa strategi…
nggak cuma perang yang perlu strategi lho
tapi semua kesulitan itu, sesuailah dengan keuntungan yang diperoleh. karena setiap proses beasiswa, pasti ada keuntungan dan kesulitannya…
so, maju terus pantang mundur…:D
Posted by: scholarshiphunter on: Januari 30, 2009
alhamdulillah, aku sudah tiba di Brisbane.. sejak 17 januari 2009. di kota ini, aku akan menuntut ilmu selama dua tahun ke depan insya allah… akhirnya sampai juga di sini..
bahkan sampai hari ini, dua pekan sejak kedatanganku di kota cantik ini, aku masih bertanya-tanya… benarkah aku akan melanjutkan sekolahku? benarkah aku dapat beasiswa ini? benarkah aku sekarang berada di luar negeri? terdengar norak dan wagu yaaa… tapi itulah yang aku rasakan….
membayangkan betapa tiga tahun penuh penantian, tiga tahun terus menerus mencari, tiga tahun terus menerus mencoba.. hmmmm, aku tak tahu bagaimana mungkin aku bisa menjalani semuanya.. saat ini, ketika menengok ke belakang, aku mengerti mengapa orang bilang aku ini keukeuh.. hehehe
alhamdulillah… aku bisa sampai di sini. sama sekali bukan kerja instant, bukan sesuatu yang mudah. ketika aku mendapatkan kabar bahwa aku diterima beasiswa ADS, saat surat itu sampai ke tanganku, minggu kedua februari 2008, aku masih harus menjalani masa pelatihan bahasa inggris, yang kemudian aku harus ujian IELTS lagi.. selama enam bulan training, juga penuh dengan lika-liku.. tiap pekan PP jakarta-Bandung, mengunjungi suami tercinta di bandung setiap jumat siang dan kembali ke jakarta pada ahad sore. kemudian pekerjaan yang aku senangi harus aku tinggallkan.. aku menjadi redaktur halaman ekbis syariah dan ekbis global.. suatu yang sejak lama aku inginkan, dan aku hanya menjalaninya tiga bulan saja sebab itu tadi…harus ikut training..
di training bahasa ini juga (EAP ADS) aku masih harus berjuang untuk memperoleh nilai IELTS minimal 6.5 kalo kurang dari itu, harus mengulang.. udah mah deg-degan mengulangnya, pake biaya sendiri pula.. jadi tantangan belum berakhir meskipun sudah menjadi awardee ADS scholarship…
setelah itu, aku juga harus melepaskan status kekaryawananku di perusahaan tempat aku bekerja selama 11 tahun lebih! perusahaan yang menurutku tak sekadar untuk mencari nafkah tetapi juga menjadi ladang amal… apa boleh buat, pilihan itu aku ambil sebab manajemen perusahaan tak mendukungku.. entahlah. aku mungkin terlalu ge-er, menganggap diriku ini aset perusahaan, nyatanya perusahaan hanya menganggapku tak lebih dari buruh biasa.. ya sudahlah.. aku memilih resign…
aku yakin rezeki Allah begitu luas di bumi ini..aku percaya Allah sudah mengatur segalanya. tapi kalo aku harus kehilangan harga diri, harus diinjak-injak manajemen perusahaan.. hmmm, aku tak bisa… saat aku memutuskan untuk resign, dan kemudian aku menyelesaikan training enam bulan itu, masih ada sisa waktu tiga bulan berikutnya sebelum aku berangkat ke Brisbane. apa kegiatanku? secara financial, aku tak menghasilkan uang.. aku tak bekerja lagi..
aku hanya memenuhi permintaan teman untuk menulis artikel, aku juga coba ikutan beberapa lomba menulis.. aku tak lagi berpenghasilan, setelah 11 tahun aku mendapatkan gajiku sendiri. ini juga bukan hal yang mudah… alhamdulillah, suamiku mendukung aku 100 persen.. meskipun kami sempat mengalami masa sulit keuangan.. aku tak berpenghasilan, sementara usaha suamiku bulan itu sepi.. praktis kami mengandalkan uang tabungan kami.. tapi alhamdulillah, kami berdua sepakat untuk tak menjadikannya sebagai masalah.. kami jalani semuanya dengan hati yang lapang, insya Allah.. Dan semua itu berbuah, bulan berikutnya suamiku menerima order yang lumayan… bahkan lebih banyak dari yang diperkirakan. Bukankah, jika kita percaya Allah, maka Dia akan membalasnya dengan yang jauh berlipat… subhanallah…
di saat menganggur itu, aku melakukan pekerjaan ibu rumah tangga… mencuci pakaian, membersihkan rumah, memasak dan belajar memasak.. dan sebagainya… ternyata semua itu berguna, sebab di brisbane ini aku harus mengerjakan semuanya sendiri.. apalagi masak, memang memasak merupakan keahlian penting tinggal di luar negeri, sebab kalo beli makanan di luar, selain menunya sangat tidak indonesia
juga harganya tinggi.. bisa-bisa uang stipend abis untuk makan yang tidak mengenyangkan itu…
makanya, saat menjelang keberangkatan.. aku terus saja merasa exciting… bahkan hingga beberapa hari saat baru tiba di brisbane, aku masih termangu-mangu… apakah ini benar? apakah ini bukan mimip? penantian itu berbuah manis…
kini, tantangan lain menanti.. aku harus belajar menyesuaikan diri dengan lingkungan baru.. aku juga harus membiasakan diri untuk mendengarkan bahasa inggris, dan menggunakannya sehari-hari.. biarpun IELTSnya sesuai permintaan universitas, tetep aja.. untuk ngomong sehari-hari mah perlu membiasakan diri..
Hidup di negeri orang, bukanlah hal mudah.. apalagi di saat awal. semuanya serba baru,serba berbeda dengan Indonesia.. ketika beberapa hari lalu aku merasakan kakiku sakit karena kebanyakan jalan (di Brisbane ini, semuanya ditempuh dengan naek bus ato jalan kaki…, pilihannya kalo naek bus lama nunggu, sementara kalo jalan kaki, dampaknya kaki pegel…), dan mengenang betapa kami ( aku dan dua temanku yang sama-sama dari Indonesia) harus berjuang, menghapal rute bus, menempuh perjalanan ke mana-mana dengan jalan kaki yang lumayan, minimal lima menit.. tapi bisa jadi jalan kaki sampe 30 menitan..sembari memanggul tas ransel yang berat berisi buku, makanan, jaket, payung, kamera dsb…, di bawah terik matahari… (saat itu sering kangen becak dan ojek hehehe), kami menyadari bahwa penantian selama beberapa tahun itu memang ada gunanya.
aku menunggu tiga tahun untuk mendapatkan beasiswa ADS ini.. tiap tahun daftar, tapi baru tahun ketiga dipanggil tes dan lolos. sementara temanku, yumna, dari jogja, dia lebih lama lagi, lima tahun! menunggu lima tahun… kemudian aku bilang padanya,”inilah rahasianya…mengapa kita harus menunggu sekian tahun untuk mendapatkan beasiswa, sebab sekolah ke luar negeri tak cuma sekadar sekolah, tetapi juga belajar kehidupan.” temanku mengiyakan…
yaaa… sekolah ke luar negeri tak semata belajar di dalam kampus, tetapi juga belajar mengenai kehidupan itu sendiri. belajar beradaptasi, belajar menghadapi berbagai kesulitan yang sama sekali berbeda dan baru… itulah gunanya penantian kami selama ini.. Tuhan Maha Mengetahui yang terbaik untuk hamba-Nya..
“mungkin kalo aku trima beasiswa ini tiga tahun lalu, aku nggak akan siap dengan berbagai kondisi di kota ini,” ujarku kepada yumna. Ia mengiyakan…Ahhh, rencana Allah memang Maha Sempurna…
Posted by: scholarshiphunter on: Desember 14, 2008
Apa yang bisa kita lakukan dengan skor IELTS yang kurang dari 6.5? Banyak lho… Para pemburu beasiswa, seringkali “terperangkap” dalam frame bahwa untuk sekolah ke luar negeri, haruslah yang bergelar master ato PhD. Harus punya gelar saat pulang ke tanah air… Gengsi dong, kalo ditanya, sekolah apa di luar negeri? Gelarnya apa?
Padahal, banyak jalan untuk pergi ke luar negeri, meskipun skor bahasa Inggris kita kurang dari syarat standar. Misalnya, kalo IELTS kita 6 maka kita bisa pergi ke Jepang atau negara-negara yang tidak berbahasa Inggris sebagai bahasa utamanya, tapi menggunakan bahasa Inggris untuk pengantar kuliahnya.. ya negara macam Jepang itulah…
Bahkan jika IELTS kita hanya 5.5, kita bisa mengambil kursus singkat selama satu bulan, ato paling lama tiga bulan. Jangan salah, banyak kursus yang juga berbeasiswa lho.. Di antaranya adalah ke Belanda dan Australia. Umumnya, kalau kita sudah punya pengalaman sekolah (kursus) di luar negeri, persyaratan bahasa Inggris akan diperlonggar. Ini namanya jalan memutar…
Ya, apa boleh buat.. kalo niat kita ingin sekolah ke luar negeri dengan beasiswa, mustinya kita sanggup menjalani semua prosesnya kan? Nah, jalan memutar ini bisa menjadi salah satu alternatif.. Daripada frustrasi dan kehilangan semangat berburu beasiswa gara-gara mentok di bahasa Inggris yang skornya nggak naek2 meskipun dah berulang kali kursus… (ato emang ada yang salah dengan metode belajar bahasanya.. hehehe, jadi musti dievaluasi juga dong metode belajarnya….)
Aku menyarankan ini bukan tanpa alasan. Ada beberapa temanku yang mengalaminya. Mereka sudah ikut kursus, trus ikut test internasional IELTS, ehh…skornya 5.5. Mau kuliah master, yaaaa… belum sampe nilainya. Kalo kuliah S-1, skor IELTS cuma 5.5 emang…
Lalu teman-temanku itu pun mencari beasiswa untuk kursus… dapat. Merekapun berangkat ke luar negeri dengan skor tersebut. Sepulang dari kursus tersebut, semangat mereka justru lebih terpompa.. karena sudah merasakan keindahan dan serunya tinggal di luar negeri, yang umumnya adalah negara-negara maju…
Mereka bergiat mencari beasiswa untuk jenjang yang lebih tinggi, yakni master ato PhD dengan pengalaman kursus tersebut. Pada umumnya mereka berhasil, dua temanku sekarang sedang kuliah master di Jepang dan Skotlandia, dengan cara seperti itu.
Yang lebih penting adalah, meskipun IELTS mereka masih 5.5 mereka bisa kuliah master… Ternyata, kursus dua bulan atau tiga bulan di luar negeri, yang menggunakan bahasa pengantar bahasa Inggris, memberikan benefit bagi pendaftaran program master. Umumnya, pihak universitas menganggap bahwa dengan mereka tinggal di luar negeri selama tiga bulan atau dua bulan, kemampuan bahasa Inggrisnya meningkat dengan sendirinya, jadi tak perlu lagi punya skor IELTS 6.5.
Jadi, jangan putus harapan… yang penting adalah bagaimana kita berikhtiar mewujudkannya. Lagipula, beasiswa itu banyak sekali…bukan hanya ADS, chevening dan Stuned… Pihak kampus juga seringkali memberikan beasiswa, lembaga-lembaga tertentu juga memberikan beasiswa. Yang terpenting motivasi kita yang kuat dan ikhtiar kita untuk mewujudkan motivasi itu…
Realisasinya? bisa cepat bisa lama.. karena realisasi bukan bagian kita, bukan wilayah kekuasaan kita tetapi Allah yang berhak menetapkan apakah kita mendapat beasiswa tahun ini atau empat tahun yang akan datang..
Mewujudkan impian apapun dibutuhkan usaha. Impian mempunyai kekuatan yang sangat besar, hanya ketika diperkuat oleh penelitian, pembelajaran dan usaha. Jika kita menjalani prosesnya, kita akan mencapai tujuan kita (Gene Perret).
Posted by: scholarshiphunter on: Desember 1, 2008
Sebagai perempuan Indonesia, yang dididik untuk senantiasa menjadi istri yang baik, dengan menjadi ibu rumah tangga yang baik, bisa mengurus anak dengan baik dan seterusnya… sebagian perempuan di negeri ini mungkin berpikir berkali-kali ketika ingin melanjutkan sekolah, apalagi musti cari beasiswa ke luar negeri. Gimana ngatur waktunya? Udah punya anak mah repot mau sekolah lagi… kira-kira itu pertanyaan yang muncul kemudian..
Benar banget, untuk mencari beasiswa ke luar negeri, kita emang kudu punya nilai bahasa Inggris tertentu.. minimal, TOEFL 500 atau IELTS 5.0, syukur-syukur lebih tinggi dari itu. Ada temanku yang bilang, “enak ya kamu.. belum nikah, jadi bisa leluasa mencari ilmu, kalo dah nikah susah.” Itu kalimat disampaikan saat aku masih lajang, belum menikah. Lalu, ketika aku sudah menikah dan belum punya anak, teman-temanku pada bilang,”Kamu sih biarpun dah nikah tapi kan belum punya anak.. jadi nggak repot kayak kita ini. Haduhhh, ngurus anak masih kecil-kecil..repot.” jadi, sambung mereka, boro-boro mau daftar beasiswa, untuk kursus bahasa inggris atau belajar bahasa inggris aja udah susah banget…..
OK,.. aku memang belum punya anak. Tapi aku bisa crita mengenai beberapa teman yang aku kenal ketika aku mengikuti EAP di IALF Jakarta selama enam bulan kemarin. Ternyata, sebagian dari teman-temanku itu sudah menjadi ibu rumah tangga sejak lama. Ada yang punya anak dua orang, tiga orang bahkan ada yang anaknya empat orang. Aku tak bicara para suami, yang aku bicarakan adalah teman-teman perempuan. Mereka itu adalah seorang pekerja di sebuah instansi/lembaga swadaya masyarakat/departemen, mereka juga mencari beasiswa (yang akhirnya mereka dapatkan) dan mereka juga seorang ibu bagi anak-anak mereka, tentu saja istri bagi suami mereka.
Bahkan, ada temanku yang mendapatkan beasiswa tahun lalu, tapi karena dia melahirkan (saat wawancara beasiswa, dia lagi hamil tua), dia pun mengikuti EAP-nya tahun berikutnya. Jadi, saat mengikuti EAP, anaknya baru berusia enam bulan. Malah ada lagi yang saat masuk mengikuti EAP, ia baru saja melahirkan sebulan sebelumnya.
Ini adalah sebuah perjuangan… jadi pada akhirnya, bukan soal tidak bisa atau bisa, tetapi pada pertanyaan, apakah kita mau atau tidak?
Aku hanya ingin menggarisbawahi bahwa sekolah lagi saat kita punya anak, saat anak kita masih bayi atau baru lahir atau malah saat anak kita sudah empat orang… semuanya mungkin-mungkin saja… Nggak ada yang nggak mungkin. Tinggal motivasi diri kita apa, kemampuan kita untuk memenej waktu.. dan juga kesediaan kita untuk berkorban dalam banyak hal, tentu saja.
Aku sendiri, belajar banyak dari teman-temanku itu. Mereka tak nampak seperti orang yang kelelahan atau kecapean.. aku salut pada semangat belajar mereka yang tinggi, tapi tetap bisa menjadi ibu bagi anak-anak mereka, sebagian dari mereka malah menjadi ibu yang cukup baik…
Komentar Terakhir