Ngapain aja selama menjadi student PhD (S3) ?

17 Nov

Pekan lalu, saya mendapat email dari seorang teman baik saya. Ia baru saja menyelesaikan studi S3 di negeri kangguru. Saat ini ia tengah berusaha untuk mendaftar program postdoctoral (postdoc) di beberapa universitas di beberapa negara. Masih menunggu kabar sebab peluang untuk bidangnya emang sangat sedikit, tidak seperti bidang science yang banyak memberikan kesempatan untuk postdoc.

Salah satu yang ia lamar, memberikan kesempatan kepadanya untuk wawancara. Jadi mau jadi peserta program postdoc itu, tidak mudah. Seleksinya superketat sebab lowongan hanya tersedia beberapa, sementara peminat lebih banyak. Belum lagi kesesuaian antara bidang yang akan kita tekuni dengan peluang yang ada.

Berdasarkan pengalamannya wawancara tersebut, ia pun berbagi tips kepada saya. Ia bilang, mumpung belum mulai studi S3, ada baiknya saya tahuhal-hal yang sebaiknya dipersiapkan…. Supaya kelak, jika memang mau postdoc, sudah lebih siap. Teman saya juga mengatakan bahwa setiap negara punya budaya yang berbeda pendidikan mereka. Jadi belajar di Australia, akan berbeda dengan belajar di Jerman, akan berbeda dengan di UK.

Lalu saya bilang ke dia, boleh nggak tips yang diberikan pada saya, saya share di blog ini. Supaya lebih banyak memberikan manfaat sebab saya tahu di luar sana, banyak yang mencari informasi mengenai studi S3 dan postdoc. Ia mengizinkan.

Ada beberapa hal yang mungkin bisa dijadikan pelajaran untuk semua yang baru akan mulai PhD :

1. Good at research: yang ditunjukkan dengan paper yang diterima di berbagai conference besar di bidang kita. Akan lebih baik kalau sudah dipublikasikan di  jurnal minimal ranking B…. Ingat, jangan hanya mengejar kuantitas, tapi kualitas…Mungkin kita bisa cepat publish, tapi kalau cuma di ranking C or below, cuma akan dianggap rubbish (menurut beberapa seminar yang dia ikuti).

2. Good at teaching: usahakan untuk punya pengalaman menjadi tutor selama PhD…waktu terbaik, mungkin setelah konfirmasi dan setelah submit (jangan di tahun terakhir, sangat berat..karena tahun terakhir kita kerja bab analisis dan discussion…ini bab terberat PhD)….

3. Good at administrative work/community service: Gunakan waktu “luang” yang sangat “sempit” menjadi sesuatu yang bermanfaat untuk orang lain dan kita sendiri….terus terang, ini hal yang sangat berat…khususnya bagi yang sudah berkeluarga dan punya anak….gimana kita tetap punya kewajiban utama mengurus suami dan anak-anak.. Menjadi student S3 sangat berbeda dengan S2 karena segalanya harus kita manage sendiri…supervisor hanya taunya, kita harus bisa selesaikan target yang dikasih. (teman saya yang merupakan ibu dari tiga anak ini aktif sebagai relawan di Red Cross kota setempat, yaitu menjadi penjaga toko second hand milik Red Cross pada hari-hari tertentu dan juga menjadi relawan di salah satu organisasi Islam di negeri tersebut)
4. Good at attract fund: ditunjukkan dengan dapat grant/award, misal travel grant, dan scholarship.

5. Kemampuan riset akan sangat terasah kalau kita juga menggunakan waktu selama S3 untuk mau belajar metode-metode riset dan statistik yang lain/baru…Manfaatnya, kita akan bisa menulis paper dengan metode riset dan statistik yg lebih relevan dan statistik yang lebih rigour…Ingat, untuk bisa publikasi di jurnal rank atas, dibutuhkan analisis statistik yg sangat rigour..karena beberapa uji statistik yang dulu mungkin dianggap cukup, sekarang dianggap kurang kuat.. Selain itu, dengan tau beberapa hal baru yang tidak semua tau, bisa jadi jalan rezeki juga..:) misalnya, bisa jadi modal jadi research assistant , yang artinya mempunyai pekerjaan, atau penghasilan tambahan… lumayan banget kan :)  — note : teman saya menyelesaikan PhD lalu mendapat tawaran untuk menjadi research assistant (selama 1 tahun kontraknya), karena kemampuannya menggunakan beberapa metode statistik baru yang orang lain tidak tahu/belum paham.

Kadang ada yang bilang, saya sih nggak akan postdoc… ngapain susah-susah belajar banyak hal saat S3… Masalahnya adalah, kita kadang merasa begitu..tetapi begitu sudah selesai S3 dan melihat ada peluang, kita ingin mendaftar… tapi kurang di sini dan di situ…penyesalan kan biasanya datang belakangan…Maka tak ada salahnya menjalani S3 dengan sebaik-baiknya.. mana tau kelak kita memang serius ingin menjadi peneliti, postdoc adalah salah satu cara untuk memperkuat posisi kita sebagai peneliti atau researcher.

Good luck!

Conditional Letter adalah bentuk penolakan halus?

26 Agu

letter Beberapa bulan lalu, saya ditanya seorang student di IEDUC mengenai makna conditional letter dari universitas di luar negeri. Ia bertanya, bagaimana caranya mendapatkan letter of acceptance (LoA) dan bukan conditional letter saja. Pasalnya, ia pernah datang ke sebuah pameran pendidikan dan mendapat informasi bahwa conditional letter adalah “bentuk penolakan secara halus” dari pihak universitas. Whattt??

Saya menjelaskan bahwa sepanjang yang saya tahu, tak pernah mendengar bahwa conditional letter adalah bentuk penolakan secara halus dari pihak universitas. Saya tidak mengerti, bagaimana bisa seseorang di sebuah pameran pendidikan, yang pastinya paham urusan pendaftaran ke universitas, mengatakan hal tersebut. Namun saya tidak mau berlarut dalam pertanyaan tersebut. Apalagi yang bertanya pada saya mengenai hal tersebut, awam tentang beasiswa dan tetek bengek terkait dengan beasiswa dan pendaftaran ke universitas.

Saya jelaskan bahwa, di beberapa negara yang membebaskan biaya kuliah, seperti Jerman misalnya, calon mahasiswa akan mendapatkan LoA langsung saat semua persyaratan administrasi sudah terpenuhi. Pasalnya, tidak perlu ada biaya-biaya yang dikeluarkan sehingga LoA bisa diterbitkan. Sementara di negara-negara lain, misalnya Australia, seorang calon mahasiswa baru akan mendapatkan LoA kalau dia sudah membayar biaya kuliah untuk satu semester awal. Nah, sebelum melakukan pembayaran tersebut, status penawaran dari universitas adalah conditional letter alias diterima secara bersyarat. Biasanya, syaratnya ada dua yang menjadi penyebab keluarnya conditional letter, yaitu syarat bahasa Inggris skor IELTS minimal 6.5 atau 7 (di beberapa universitas tertentu) dan masing-masing band tidak ada yang kurang dari 6, serta melakukan pembayaran untuk tuition fee semester pertama. Jika syarat tersebut sudah dipenuhi, maka LoA akan diterbitkan.

Karena itulah, sebagian pemberi beasiswa, membolehkan pelamarnya menyerahkan bukti conditional letter saja pada mereka saat melamar beasiswa – dan bukan LoA. Nah, kalau begini.. dari mana penjelasan bahwa conditional letter adalah bentuk penolakan secara halus?

Memang, ada batasan untuk conditional letter tersebut. Surat ini biasanya hanya berlaku enam bulan dan bisa diperpanjang enam bulan lagi. Jika dalam jangka waktu tersebut belum juga masuk ke universitas tersebut, pelamar harus memulai dari awal lagi proses pendaftaran ke universitas karena conditional letter paling lama bisa bertahan satu tahun saja.

Dengan kondisi tersebut, maka biasanya, para calon mahasiswa akan berjuang sekeras mungkin untuk mendapatkan beasiswa dalam jangka waktu satu tahun itu. Jika tidak, risikonya ya itu tadi.. harus mengulang dari awal proses pendaftaran ke universitas.

Jadi, jangan percaya kalau ada yang bilang conditional letter itu tak berarti, atau penolakan secara halus atau apapun sejenisnya…:) Yuk keep fighting…

sumber gambar :

http://budgeting.thenest.com/conditional-letter-employment-24729.html

Injury Time for Applying Scholarship

18 Jul

Hari ini, tanggal 18 Juli 2014… adalah hari terakhir pendaftaran beasiswa AAS… Baru saja ada perbincangan telpon di kantor IEDUC mengenai hasil tes TOEFL ITP yang belum keluar hari ini padahal menurut jadwal keluar hari ini. Jadi, orang ini tidak bisa mendaftar AAS yang closing hari ini…

Memang hasil tes TOEFL ITP keluar hari ini tapi dikirim dari Jakarta ke Bandung. Jadi kemungkinan akan tiba di Bandung besok atau malah Senin.

Karena saya tahu hal itu bisa disiasati.. saya pun berinisiatif untuk menelpon orang tersebut. Saya menjelaskan bahwa, soft copy-nya saja dulu dikirimkan sambil menjelaskan bahwa hard copy akan dikirimkan hari Senin. Saya yakin AAS bisa menerima penjelasan tersebut. Karena hal itu juga bisa dilakukan untuk tes IELTS. Apalagi di form isiannya kan ditulis pertanyaan, apakah Anda sudah mempunyai skor TOEFL/IELTS? Jika belum, kapan akan melakukan tes?

Artinya, kita bisa saja mendaftar AAS tapi belum punya hard copy hasil tes TOEFL/IELTS. Makanya, bisa disiasati. Tapi kalau syarat lain belum lengkap, ya lain soal….

Ternyata setelah saya jelaskan cukup panjang lebar, dia mengaku bahwa bukan semata karena skor TOEFL ITP yang belum keluar saja yang membuat dia galau sehingga tak jadi daftar AAS, tapi karena surat rekomendasi dari dosennya juga belum ada. Dia juga mengatakan bahwa, baru tahu dua hari yang lalu kalau AAS penutupannya hari ini.

Haduhhhhh….

Bukan apa-apa, sejak minggu lalu, saya bertemu lebih dari lima orang yang berkonsultasi mengenai pendaftaran AAS ini, pada last minutes… injury time. Entah apa yang ada dalam benak orang-orang ini, tetapi saat saya membaca aplikasi mereka, atau mendengar pertanyaan mereka.. saya kok jadi agak khawatir bahwa mereka akan kesulitan mengejar deadline yang tinggal beberapa hari lagi…

Mungkin, mereka pikir, ini kan cuma ngisi aplikasi saja.. gampang. Faktanya, saat saya cek isian aplikasi mereka, rata-rata belum menjawab pertanyaan yang dimaksudkan. Betul, mereka mengisi kolom yang disediakan, tetapi sebagian besar jawabannya belum menjawab pertanyaan yang dimaksudkan. Nah, berarti harus direvisi kan.. Itu perlu waktu lagi. Setelah ditulis lagi, harus dicek lagi…

Kalau hasil pengecekan kedua sudah OK, bisa langsung dibereskan tapi kalau belum juga menjawab poin yang diharapkan, berarti ada revisi lagi kan? Perlu waktu lagi juga kan? Kalo sudah kepepet waktunya, akhirnya kirimnya seadanya.. nanti kalo gagal katanya, “ahh saya nggak berhasil”..

Padahal, jika dirunut-runut, ternyata memang persiapan untuk mendaftarnya juga tidak optimal. Akibatnya, hasilnya pun tidak sesuai harapan…

Ini masih ditambah lagi dengan belum siapnya berkas-berkas persyaratan yang lain. Misalnya sertifikat ini dan itu, rekomendasi dosen pembimbing atau rencana studi. Yang semua itu, tidak bisa diselesaikan dalam sehari apalagi semalam…

Kenapa ya? Suka sekali mepet-mepet.. hehehe.. Yang paling parah adalah dampaknya, saat ternyata kita gagal, lalu putus harapan dan tak mau mendaftar lagi dengan alasan, “tahun kemarin saya daftar, tapi gagal…susah banget yaa…”

Ayolahhh, kita introspeksi diri.. saat daftar yang gagal itu, apakah kita sudah berusaha secara optimal mempersiapkan semuanya? Jika tidak, yaaa… wajar saja. Tetapi jika pun sudah mempersiapkan diri jauh-jauh hari, dan juga masih gagal.. kita bisa evaluasi ulang, di mana letak masalahnya.. bisa kok dievaluasi.. meskipun tentunya tidak 100 persen benar, tetapi pasti bisa diketahui penyebab kegagalan tersebut. Lalu perbaiki dan jangan diulang tahun depan..

Pendaftaran beasiswa, umumnya dibuka dalam jangka yang cukup panjang. Antara satu bulan hingga empat bulan. Jadi kalau kita tahu sejak awal pembukaan, langsung persiapkan.. jangan malah berleha-leha karena waktunya panjang, tapi kemudian nanti kaget pas tahu bahwa penutupannya tinggal dua hari lagi..

Jadi, mari.. kita hindari pendaftaran beasiswa pada injury time…:D

Mencari dan Menemukan Supervisor

15 Jul

A-day-in-the-lifePerbedaan sistem pendidikan di Indonesia dan di negara barat, khususnya untuk jenjang S3, membuat banyak calon mahasiswa S3 ke luar negeri kurang memahami langkah demi langkah yang harus mereka tempuh untuk melanjutkan pendidikannya. Salah satu yang paling umum terjadi adalah “bagaimana cara menemukan supervisor”.

Penyebab utamanya adalah karena untuk S3 di Indonesia, calon mahasiswa bisa langsung mendaftar ke universitas tujuan dan jika diterima, akan menjalani proses belajar di kelas selama beberapa waktu. Setelah itu, baru mulai memikirkan mengenai rencana tesisnya, mencari pembimbing dan mulai mengerjakan tahap demi tahap proses penelitian.

Sementara kuliah S3 di luar negeri, di mayoritas negara-negara maju seperti di Eropa dan Australia, sejak awal calon mahasiswa harus sudah mempunyai dosen pembimbing alias supervisor untuk S3-nya itu.
Karenanya, menjadi suatu hal yang wajib untuk mencari dan menemukan supervisor yang sesuai dengan bidang yang akan kita teliti. Yang perlu juga diketahui, mayoritas S3 di luar negeri, sepenuhnya riset. Tidak ada kelas yang harus diikuti sebelumnya sehingga menemukan supervisor yang bersedia menjadi pembimbing riset kita, adalah hal yang wajib.

Jadi sejak hari pertama perkuliahan, kita sudah menjalani proses riset. Kegiatan yang dilakukan selama pendidikan S3 di luar negeri, kurang lebih seperti ini : penelitian dengan berselancar di internet mencari jurnal-jurnal, penelitian di laboratorium (bagi yang memerlukannya, umumnya untuk ilmu pasti sedangkan ilmu sosial tidak pakai laboratorium), bertemu secara berkala dengan supervisor untuk berdiskusi dan membahas perkembangan riset, menghadiri konferensi dan atau seminar internasional maupun yang internal kampus, mengambil data penelitian serta menuliskan tesis.

Proses tersebut dilakukan secara mandiri alias independen. Tidak ada yang akan menyuruh kita melakukan ini dan itu, tetapi tanggung jawab pribadilah yang menjadi ukurannya.

Lalu bagaimana cara menemukan supervisor tersebut? Ada beberapa cara :

1. Membaca banyak jurnal internasional, dengan begitu kita akan tahu mengenai penulisnya. Kita bisa telusuri siapakah dia dan berada di kampus mana. Jika dia orang yang tepat, alias sesuai dengan rencana riset kita, maka kita bisa berkirim email padanya dan meminta kesediaan orang tersebut untuk menjadi supervisor kita.
2. Bertemu di suatu forum internasional atau projek tertentu. Bisa saja, tanpa sengaja kita bertemu dengan seorang pakar di bidang kita, secara langsung. Nah, kita bisa langsung juga bertanya apakah beliau bersedia menjadi supervisor kita? Biasanya proses ini lebih mudah karena kita bertemu langsung sehingga bisa bicara lebih leluasa.

3. Mencari ke universitas yang kita tahu bahwa di universitas tersebut, bidang kita bagus. Misalnya, kita mau riset tentang public policy dan kita tahu bahwa di ANU itu bagus untuk bidang public policy, lalu kita pergi ke website ANU dan mulai mencari pakar di bidang public policy yang sesuai dengan rencana riset kita. Di website universitas, kita bisa menemukan nama-nama pakar beserta bidang keahliannya masing-masing. Kita juga bisa melihat riset atau projek yang pernah dilakukan para pakar tersebut. Di sana juga akan tertulis alamat email jika kita ingin menghubungi. Seperti langkah di nomor 1, kita kirim email ke pakar tersebut dan bertanya kesediaannya, apakah mau menjadi supervisor S3 kita?

4. Cara lain adalah, mendapatkan informasi dari teman yang sedang sekolah di luar negeri, tentang seorang pakar. Bisa saja, kita mendapat info awal dari teman kita. Setelah itu, kita tindak lanjuti dengan mengecek di website untuk mengetahui informasi tersebut benar atau tidak, apakah pakar tersebut memang cocok dengan rencana riset kita. Jika ya, barulah kita kirimkan email kepadanya.

5. Cara yang lain adalah, mengenalnya saat kuliah di kampus tersebut. Seperti yang saya alami. Saya melamar supervisor S3 yang saya tahu bidang kepakarannya, karena saya pernah mengikuti mata kuliah yang dia pegang. Jadi saya pernah menjadi mahasiswanya. Makanya saya tahu persis bidang yang menjadi minatnya. Saya pun kirim email ke beliau, dan menjelaskan bahwa saya pernah kuliah di kelasnya dan sekarang berminat untuk melanjutkan S3 di bidang tersebut, apakah bersedia menjadi supervisor saya?

Persoalannya, bagaimana kita bisa mengirimkan email dan bertanya tentang kesediaan seorang pakar, jika kita tak punya bayangan mau melakukan riset tentang apa. Karena itu, keberadaan rencana riset alias research plan (syukur-syukur research proposal) menjadi HAL yang MUTLAK adanya.

Jadi langkah pertama yang harus dilakukan adalah, menentukan rencana riset dulu, baru menghubungi calon supervisor. Lantas, bagaimana cara membuat research plan? Silakan buka google dan ketik kata kunci “research plan” dan “example” dan atau “sample”. Pasti akan muncul banyak contoh dan versi, silakan baca beberapa dan pilih yang dirasa paling sesuai :)

Umumnya calon supervisor tidak minta research plan yang panjang karena mereka juga tidak punya banyak waktu. Mereka adalah orang-orang yang sibuk. Jadi, 1-3 halaman research plan sudah memadai. Jika mereka memang tertarik dengan rencana riset kita, kemungkinan mereka akan meminta kita memperdalam research plan tersebut… barulah di situ kita lebih detail menggarapnya.
Selamat berburu yaa…:)

sumber gambar:

http://www.findaphd.com/advice/phd-fun/dr-doodles/default.aspx?CartoonId=127

Beasiswa Endeavour Scholarships and Fellowships ke Australia

7 Jun

Image

Jumat lalu, saya menghadiri acara sosialisasi beasiswa Australia yang namanya Endeavour Scholarships and Fellowships (ESF) di salah satu hotel di kawasan Cihampelas, Bandung. Acara tersebut diadakan dua hari berturut-turut di Bandung dengan menyasar tiga perguruan tinggi negeri di kota ini dan untuk umum, itu tadi di hotel tersebut.

Menilik sejarahnya, ESF dimulai pada 2003 tetapi angkatan pertamanya adalah angkatan 2007. Menurut pemateri, Mas Adit, yang merupakan representasi bagian pendidikan Kedutaan Australia di Jakarta, pemilihan Bandung sebagai salah satu tempat untuk melakukan sosialisasi adalah karena dalam sejarah, Bandung mengirimkan peserta terbanyak sejak pertama kalinya. Yaitu 13 orang. Sejak 2007, sudah total 3.305 beasiswa ESF yang diberikan dan 180-nya berasal dari Indonesia.

Adit menjelaskan bahwa beasiswa ESF ini dibuka bagi 125 negara di seluruh dunia, jadi bukan hanya ditujukan untuk orang Indonesia saja. Ini berbeda dengan Australia Awards Scholarship (AAS) yang diberikan khusus bagi warga negara Indonesia. Jadi, persaingan untuk memperoleh ESF ini cukup ketat.

Syarat lain yang membedakan ESF dengan AAS adalah, untuk mendapatkan ESF kita sebagai pelamar harus sudah mendapatkan Letter of Acceptance (LoA) atau conditional letter minimal, dari institusi tempat kita akan belajar. Sementara di AAS, kita melamar untuk beasiswanya dulu, baru setelah mendapatkan beasiswa AAS, pihak AAS akan membantu untuk mendaftar ke universitas.

Nah, karena syarat yang harus sudah diterima di institusi/lembaga pendidikan di Australia, makanya kemampuan bahasa Inggris menjadi mutlak adanya. Syarat skor IELTS adalah 6.5 dan tidak ada yang di bawah 6 untuk masing-masing Listening, Reading, Writing dan Speakingnya.

Ada empat jenis beasiswa dan fellowship yang ditawarkan dalam program ESF ini :

  1. Postgraduate scholarship (untuk jenjang S2 dan S3)
  2. Vocational Education & Training scholarship ( untuk pendidikan kejuruan setara S1/TAFE)
  3. Research Fellowship
  4. Executive Fellowship

Untuk yang nomor 3 dan 4, kategorinya adalah short course.

Menurut Adit, tidak ada quota spesifik dari sisi jumlah, bidang studi maupun negara asal. “Jadi diberikan berdasarkan prestasi (merit based)”, ujarnya. Tujuan dari pemberian ESF ini adalah untuk pengembangan riset dan profesi sehingga para penerimanya bisa belajar sesuatu yang dibutuhkannya di Australia.

Karena itu pula, beasiswa dan fellowship ini tidak membiayai fieldwork yang dilakukan di Indonesia. Bahkan uang stipend pun tidak diberikan saat fieldwork dilakukan. Artinya, lakukan seluruh studi di Australia.

Ngomong-ngomong tentang stipend, bikin ngiler lho. Beasiswa ini untuk program S2 dan S3, memberikan living allowance sebesar AUD 3 ribu per bulan. Itu belum termasuk settlement allowance, asuransi, tiket pesawat dan biaya untuk menghadiri berbagai konferensi. Untuk perbandingan, tahun lalu beasiswa AAS memberikan living allowance   sebesar UAD 2.100.

Hanya saja, untuk visa baik pribadi maupun keluarga, ESF tidak mengurusnya. Jadi harus diurus sendiri. Berbeda dengan AAS yang visanya sudah diurus sehingga sangat memudahkan. Tetapi di luar itu semua, kelebihan yang dimiliki ESF adalah ‘tanpa batas usia’ alias siapapun di usia berapapun dibolehkan untuk melamar beasiswa ini. Selain itu, tidak ada aturan ikatan dinas, atau harus kembali ke negara asal. Tetapi memang disarankan untuk kembali ke negara asal setelah menyelesaikan studi.

Untuk tahun ini, ESF akan ditutup pada 30 Juni 2014. Keterangan lebih lanjut silakan dicek di sini www.aei-gov.au/endeavour

Keterangan foto :

https://aei.gov.au/Scholarships-and-Fellowships/Pages/default.aspx

Tanya Jawab dalam Diskusi Beasiswa Awal dan Akhir Mei

4 Jun

Image Pada Mei lalu, saya menjadi pembicara dalam dua acara sharing session mengenai beasiswa. Yang pertama, acara ini diselenggarakan di IEDUC Bandung. Acara digelar pada Sabtu 3 Mei 2014 lalu. Saya meng-create acara tersebut karena ingin berbagi kepada student IEDUC mengenai beasiswa. Kebetulan ada tawaran dari kenalan saya yang alumni Erasmus Mundus untuk sharing mengenai beasiswa tersebut. Jadilah saya buat acara “diskusi beasiswa” selama dua jam. Jam pertama, saya sharing mengenai beasiswa secara umum, hidup di luar negeri dan juga beasiswa master dan PhD program. Sesi kedua diisi oleh teman saya, mbak Nita, yang alumni Erasmus Mundus itu.

Acara kedua yang saya hadiri sebagai pembicara adalah di Poltekpos Indonesia, yang berada di kawasan Sarijadi Bandung. Saya diundang dalam acara “kuliah umum” mengenai studi ke luar negeri pada 26 Mei lalu. Niat panitia begitu mulia, ingin menularkan semangat mencari beasiswa untuk sekolah ke luar negeri kepada para mahasiswa di sana. Mereka yang ikut acara ini ada yang angkatan akhir tetapi ada juga yang dari angkatan awal. Saya diundang bersama rekan saya, pak Roni, yang merupakan alumni DAAD ke Jerman. Lagi-lagi, saya kebagian sesi pertama di acara tersebut.

Nah, saya tidak ingin bercerita mengenai acara tersebut karena seperti layaknya acara diskusi atau seminar, ada dua sesi. Yaitu pemberian materi dan Tanya jawab. Nah, yang saya ingin sharing ada pertanyaan para peserta di acara tersebut. Mudah-mudahan ini bisa membantu menjawab rasa ingin tahu teman-teman para pemburu beasiswa, yang tidak berkesempatan hadir di acara tersebut.

  1. Katanya tadi, baru tahun ketiga mendapat beasiswa, lalu saat tahun pertama dan tahun kedua gagal, apa yang ibu lakukan? Apakah benar-benar fokus mencari beasiswa atau bagaimana?

Jawab :

Saya melamar beasiswa dalam posisi sebagai karyawan. Saya dulu wartawan. Jadi saat saya gagal tahun pertama dan kedua, ya saya tetap bekerja sambil terus mencari informasi dan cara bagaimana untuk lolos beasiswa. Jadi saya tidak terpaku dengan kegagalan. Saya justru mempelajari penyebab kegagalan saya. Menganalisis kegagalan tersebut dan menjadikan pelajaran bahwa nanti kalau saya daftar berikutnya, saya tak boleh mengulangi kesalahan-kesalahan tersebut. Saya sempat down juga, tapi tidak lama-lama. Saya bangkit lagi karena saya memelihara motivasi untuk sekolah lagi. Memang tidak mudah, tapi harus dilakukan.

  1. Berapa biaya yan dikeluarkan untuk mempersiapkan bahasa Inggris?

Jawab :

Saya lebih suka mengatakan uang yang dikeluarkan itu adalah investasi, bukan biaya. Jadi hal tersebut tidak menjadi beban. Saya dulu juga student di IEDUC. Saya survei sebelum mendapatkan tempat kursus, saya tidak punya cukup banyak uang untuk kursus di tempat yang mahal. Dulu saya tidak tahu, binatang apa itu IELTS. Saat saya hadir di sebuah acara pameran pendidikan, saya bertemu pertama kali dengan IEDUC dan saya ditawari untuk ikut program Ramadhan Package (Rampack) yang biayanya jauh lebih murah dari harga regular. Jadi saya ikut. Bahasa Inggris saya tidak bagus jadi saya harus kursus karena saya ingin sekolah ke luar negeri. Itu semua saya anggap investasi. Kalau berapa angkanya, tergantung kemampuan bahasa Inggris kita. Yang pasti kita harus tes ielts internasional, biayanya sekitar Rp 2,3 juta sampai Rp 2,5 juta. Lalu untuk kursus, tergantung programnya. Bisa dilihat di brosur yang dibagikan tadi. Berapa lama belajarnya? Juga tergantung kemampuan bahasa Inggris kita. Kalau dalam kasus saya, saya memberikan anggaran sekitar sepertiga gaji saya bolehlah buat investasi bahasa Inggris…

3. Tadi disebutkan mengenai kegiatan sebagai volunteer. Saya tertarik. Di mana bisa menjadi volunteer? Apakah harus di luar negeri atau di Bandung ini kita bisa memulainya?

Jawab :

Saya ingin share pengalaman ya, menjadi volunteer (relawan) itu tidak hanya memberikan manfaat bagi kita tetapi juga mempengaruhi keberhasilan kita dalam mendapatkan beasiswa. Saat saya wawancara Fulbright, keterlibatan saya sebagai volunteer di sebuah NGO kesehatan dipertanyakan, karena dianggap tidak ada hubungannya. Tapi saya sampaikan, saya berkontribusi dengan membantu mempublikasikan kegiatan, mengkoordinir para wartawan untuk meliput kegiatan NGO tersebut dan membuat siaran pers jika diperlukan. Nah, kalau mau memberikan nilai tambah dalam CV Anda, jadilah relawan di mana saja. Kalau mau, saya bisa tawarkan untuk bergabung dengan Syamsi Dhuha Foundation (SDF) tempat saya menjadi relawan di sana. Tapi kalaupun tidak, apapun kegiatan sosial yang kita lakukan bisa saja. Saat ini banyak kelompok yang memberi makan pada orang-orang di jalanan, nah ikut itu bisa juga. Tak selalu harus ada sertifikat sebagai bukti, tapi yang pasti kita tidak boleh berbohong. Kegiatan sosial sekecil apapun tetapi bernilai, selama kita jujur dan memang melakukannya.

4.Saya suka minder dengan kemampuan bahasa Inggris, saya ingin kuliah di luar negeri tetapi kemudian mengalami kegagalan seperti tadi. Adakah tips untuk mengatasi kegagalan?

Jawab :

Saat saya gagal, saya bukannya tidak mengalami kekecewaan atau down. Saya mengalaminya juga tapi saya tidak berlama-lama dengan kegagalan tersebut. Saya harus bangkit sebab saya ingin sekolah ke luar negeri tapi saya tidak punya uang. Makanya motivasinya harus terus dijaga. Saya selalu berusaha berada di lingkungan yang punya motivasi dan keinginan yang sama. Bertemu sesama pejuang beasiswa membuat motivasi ini terjaga. Saat mendengar seorang teman berangkat ke luar negeri dengan beasiswa, say ajadi makin terpacu.. kalau orang lain bisa, mengapa saya tidak bisa. Jadi berkumpullah dengan teman-teman yang punya impian yang sama. Kedua, bergabung dengan komunitas tertentu, misalnya ada milis beasiswa di yahoogrup, ada juga motivasi beasiswa di FB. Ikutlah di sana. Banyak informasi sekaligus bisa memotivasi.

5. Apa bedanya kuliah di Indonesia dan di luar negeri?

Jawab :

Beda sekali. Yang terutama saya rasakan adalah lingkungan akademis di luar negeri, sangatlah mendukung. Saya kuliah di Australia, saya merasakan betapa sistem pendidikan di kampus saya sedemikian mendukung mahasiswa untuk melakukan studi sebaik-baiknya. Mengerjakan tugas tidak lagi berbasis buku tetapi jurnal dan akses ke jurnal sangatlah luas. Menyenangkan sekali. Itu yang saya rindukan juga saat saya kembali ke Indonesia. Di sini, perpustakaannya terbatas. Akses ke jurnal juga terbatas. Kemudian, kuliah pertama sangatlah penting, sebab dosen sudah menjelaskan semua tugas selama satu semester, aturan main dan sebagainya. Beda dengan di sini, kuliah pertama justru mahasiswa pada tidak masuk. Masih pada liburan hehehe… Kalau di sana, sebaliknya. Kuliah pertama penuh, kuliah berikutnya, mahasiswa yang datang bisa dihitung dengan jari.. Saya dulu membuat rencana, minggu ke sekian harus sudah mulai mengerjakan tugas, supaya bisa diperiksa bahasa Inggrisnya oleh editor di perpustakaan. Bisa saya perbaiki dan saya bisa mendapatkan nilai bagus. Kalau mengerjakan mepet-mepet, tidak mungkin bisa. Kemudian dosen tidak pernah mencari-cari mahasiswa, justru mahasiswalah yang aktif bertemu dosen dan berdiskusi. Perbedaan lainnya, semua serba online mulai dari pinjam buku di perpustakaan, mendaftar mata kuliah, bahkan ada forum diskusi di akun yang kita miliki.@@

 

Serius Mau S3 di Australia?

7 Apr

_txt_australia-mapAkhir-akhir ini saya mendengar orang yang mengatakan kalimat di atas. Saya jadi heran sendiri mendengarnya… memangnya kenapa?

Maksud saya, ada masalah apa dengan sekolah S3 di Australia? Selama ini banyak teman dan kenalan saya kuliah S3 di Australia dan rasanya tidak ada masalah yang sebegitunya hingga harus bertanya “serius?”. Jadi, saya sempat gagal menemukan alasan di balik pertanyaan tersebut.
Lalu saya coba perjelas lagi.. dan saya pun ber-ooooo yang panjang.

Pertanyaan itu rupanya didasari oleh beberapa hal. Pertama, yang bertanya adalah mereka yang menjadi dosen di universitas di Australia dan mendapati bahwa sebagian mahasiswa S3 asal Indonesia, mengalami kesulitan untuk melanjutkan pendidikan di negeri kangguru tersebut. Alasannya adalah para mahasiswa ini mengalami kesulitan untuk menyesuaikan diri dengan lingkungan pendidikan di Australia yang ternyata berbeda dengan di Indonesia. Hal tersebut memberikan implikasi yang beragam dan berpengaruh pada kehidupan pribadi maupun kehidupan akademis sang mahasiswa.

Mendengar hal tersebut, saya pun memaklumi pertanyaan mengenai “serius mau S3 di Australia?” karena memang ada perbedaan sistem pendidikan di Indonesia dengan di Australia. Seperti pernah saya sampaikan di postingan sebelumnya, bahwa untuk S3 di Australi dan mayoritas negara-negara maju (kecuali Amerika), artinya menjadi independent learner. Sejak datang di kampus pertama kali, kita sudah harus mandiri… tak ada teman, hanya ada supervisor dan selebihnya kita belajar sendiri. Artinya kita harus bisa membagi waktu sebaik-baiknya.. membagi waktu untuk belajar, dan juga untuk keluarga (jika kita membawa keluarga ke sana), juga waktu untuk bekerja (bagi sebagian mahasiswa, bekerja berarti dua hal, menambah pundi-pundi atau memang desakan kebutuhan karena dana beasiswa yang diberikan kurang).

Dalam proses belajar itu sendiri, kita benar-benar menjadi independent learner sebab tak ada yang akan menegur kalau kita lalai… Kapan saat berkunjung ke perpustakaan, kita yang mengaturnya sendiri… berapa banyak artikel jurnal yang kita perlukan? Hanya kita yang tahu… berapa lama kita harus berkutat dengan proses pencarian jurnal atau bertemu pakar di bidang yang berkaitan dengan riset kita? Harus kita sendiri yang menentukan… proses belajar sendiri di depan sebuah layar komputer, bisa berarti banyak.. menantang atau justru membosankan. Kita yang menentukan semuanya sendirian…

Ketidakmampuan mengelola waktu untuk belajar dan hal-hal lain, membuat riset S3 menjadi berat dan sulit. Tak heran, banyak pula yang gagal menyelesaikan S3 mereka, gagal men-submit thesis mereka karena berbagai hal, misalnya : terlalu sibuk bekerja, atau memang kewalahan mengatur waktu.

Namun, jangan terlalu khawatir dengan semua itu…banyak juga kok yang sukses men-submit thesis tepat waktu bahkan lebih awal… Semuanya tergantung kita sendiri. Kita yang harus disiplin..kita yang harus menentukan target dan kita yang menjalankannya.

Bagi saya sendiri, proses belajar yang mandiri itu..sudah saya alami dan jalani kala kuliah S2 di Australia. Maksudnya, saya memang belajar dengan pola seperti itu… tidak mungkin menyontek pekerjaan teman meskipun kita kuliah bersama-sama. Karena bidang dan minat kita berbeda. Tugas-tugas yang diberikan dosen bersifat individual sehingga tidak mungkin mencontek. Di sisi lain, tugas-tugas tersebut justru membuat kita sebagai mahasiswa semakin mengetahui passion dan minat kita dalam bidang tertentu.

Yang saya tahu, sistem belajar di luar negeri memang demikian.. sehingga, kalau memang S3 harus menjadi independent learner, inshaAllah tidak terlalu kaget. Pasti tetap perlu penyesuaian tetapi nggak seserem itu deh… So, kalau ada yang bertanya, “Serius Mau S3 di Australia?” jawabnya… “Kenapa enggak?”… Yuk ahhh..semangat!

 

sumber gambar : http://wwp.greenwichmeantime.com/time-zone/australia/

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

Bergabunglah dengan 68 pengikut lainnya.