Respon Buku ‘I Can Get A Scholarship, Why Can’t You?’

17 Des

Bukunya bagus: disertai motivasi, pengalaman sang pengarang beserta tips dan tricks “berburu” beasiswa. Dari awal sampai akhir buku, panduannya komplit deh buat pemula… :) Saya yang kini tengah berada di tingkat akhir perkuliahan mendapat “peta” untuk “berburu” beasiswa, sehingga tak lagi meraba..”.(mahasiswa tingkat akhir di Unpad)
Bukunya aku terima pagi ini, langsung kubaca sampe habis, bagus banget! Ibuku juga suka. Katanya bahasanya bagus banget sampe ga bisa ditinggal! (mahasiswa S3 di Australia)

Di atas adalah dua contoh ‘pengakuan’ dari para pembaca buku saya yang diterbitkan Oktober 2011 lalu. Setelah itu, saya masih menerima email-email berikutnya yang intinya mengatakan bahwa buku itu bermanfaat dan inspiratif. Alhamdulillah… Memang itulah tujuannya. Saya ingin bisa berbagi dengan lebih banyak orang lain mengenai beasiswa dan sedikit kiat untuk menggapainya.

Kenapa sedikit? Sebab masih banyak informasi lain yang tersebar di mana-mana mengenai cara mencari beasiswa… tapi sebagian orang seringkali tak tahu bagaimana cara memulainya. Dengan membaca buku yang saya tulis itu, saya berharap orang jadi tahu “peta” yang bisa dipilihnya… memulainya bagaimana dan tahap berikutnya seperti apa…

Kalau dibilang lengkap banget, enggak juga kok. Tapi buku itu insya Allah bisa menjadi jalan pembuka… Makanya selalu saya tekankan bahwa informasinya berguna buat pemula… Bukan buat mereka yang sudah pernah dapat beasiswa… Buku itu hanya “cukup lengkap” sebab mencakup banyak hal yang tak hanya soal beasiswa semata tetapi hal-hal yang berkenaan dengan beasiswa.. misalnya soal membawa keluarga, soal memasak di negara tempat belajar dan sebagainya…

Tapi tadi pagi, agak surprise juga menerima email dari seorang istri yang suaminya akan mencari beasiswa ke luar negeri untuk S3. Dia bilang, semula dia bimbang dan ragu, tetapi setelah membaca buku saya…dia jadi lebih mantap untuk menemani suaminya ke luar negeri! Wahhh, nggak nyangka kalo buku ini ternyata bukan Cuma bermanfaat buat yang mau sekolah tetapi juga untuk teman hidupnya… bener-bener di lluar dugaan…

Buku ini, menurut saya juga, pas buat mereka yang sudah kerja selama dua tiga atau lima tahun atau lebih… dan merasa jenuh dengan pekerjaannya tetapi nggak tau mau ngapain… Mau keluar kerja, kayanya nggak berani deh.. nggak bisa wiraswasta.. tapi kerja terus, bosen dan jenuh.. Cuti kerja nggak cukup. Nah mendingan cari beasiswa, jadi bisa menambah kegiatan di luar kerja atau aktivitas rutin lainnya, trus nanti kalo dapat beasiswa…bisa sejenak meninggalkan pekerjaan, tapi gratis :)

Penerbit menjadwalkan acara promosi untuk buku tersebut dengan melakukan roadshow ke berbagai kampus. Saya sih senang2 saja..asalkan jadwalnya pas.. maksudnya bisa diatur antara jadwal rutin saya dengan jadwal road show itu.. Sebab saya memang suka bertemu orang banyak dan berbagi.. jadi acara-acara roadshow itu memang menyenangkan buat saya…..

Acara yang pertama kali, bersamaan dengan ‘launching’ buku itu adalah di Unpad awal November lalu. Meskipun yang hadir tak terlalu banyak tapi para peserta sangat antusias bertanya ini dan itu… Bukunya juga lumayan laris di pameran itu… Kemudian yang kedua, adalah bincang-bincang di udara, di sebuah radio untuk anak muda di Bandung. Menyenangkan juga sebab sudah lamaaaaa sekali saya nggak hadir di acara radio :) respons-nya juga lumayan.. ada beberapa penanya dalam sesi yang kurang dari satu jam tersebut.

Yang terbaru adalah di Poltek Telkom. Saya mengira acaranya seperti di Unpad, talkshow dengan seorang pemandu acara.. ternyata, saya musti ngomong sendirian.. jadi kayak ngasi ceramah gitu.. walahhh saya sempet puyeng juga karena baru tahu setelah tiba di tempat.. dan saya hanya punya waktu sekitar 10 menitan sebelum acara dimulai.. Akhirnya saya berimprovisasi saja hehehe.. Alhamdulillah nggak terlalu mengecewakan, terbukti banyak yang tanya :)

Selanjutnya, kata penerbit, masih ada beberapa acara semacam itu. Selain itu, saya sendiri terbuka untuk diajak hadir dalam acara semacam itu oleh siapapun di manapun, insya Allah. Misalnya ada kampus atau lembaga yang mau mengadakan seminar soal beasiswa, lalu mengundang saya..insya Allah saya bersedia. Saya senang jika bisa berbagi dengan banyak orang di banyak tempat.

Atau ada yang sudah pernah mendapatkan beasiswa ke luar negeri, tapi ketika ditanya banyak hal soal tentang beasiswa nggak punya waktu atau bingung memulainya dari mana untuk menjawab, silakan untuk menyarankan para penanya tersebut agar merujuk ke buku saya ini…:)

..

Buku “I Can Get A Scholarship, Why Can’t You?” Sudah Terbit

24 Nov

Buku dengan sampul di atas, sudah bisa didapatkan di toko buku terdekat di kota Anda. Isinya sangat lengkap dan memandu Anda — para pemula di dunia beasiswa — untuk mendalami seluk beluk yang berkenaan dengan beasiswa….
Harganya Rp 35 ribu per eksemplar.
Semoga bermanfaat..

Menyetarakan Ijazah dari Perguruan Tinggi Luar Negeri

10 Jul

Setelah menyelesaikan pendidikan di luar negeri, baik diploma, sarjana maupun doctor (S-1, S-2 dan S-3) bahkan postdocotoral, sebagai warga negara Indonesia kita diharuskan melakukan penyetaraan ijazah di Kementerian Pendidikan Nasional, tepatnya di Ditjen Akademik Dikti. Aturan ini tidak hanya untuk pegawai negeri sipil (PNS) tetapi untuk semua lulusan perguruan tinggi luar negeri. (Ternyata, penyetaraan ijazah tidak wajib, kecuali dibutuhkan oleh tempat kita bekerja atau digunakan untuk melamar pekerjaan yang kemudian tempat kita melamar kerja itu, mensyaratkan ijazah yang disetarakan. Menurut situs Dikti, penyetaraan ijazah bukanlah sesuatu yang wajib dan dimaksudkan hanya untuk menyesuaikan ijazah dari luar negeri itu, dengan jenjang pendidikan di dalam negeri… jadi nggak wajib kok. Cuma menurut saya, tetep aja, lebih baik disetarakan begitu kembali ke tanah air…mumpung masih fresh :) …di-update 23 Agustus 2011)

Proses penyetaraan ijazah ini cukup mudah, asalkan syarat-syaratnya sudah kita penuhi. Langkah pertama yang harus kita lakukan adalah membuka website beralamat ini :

http://ijazahln.dikti.go.id/v4/

kemudian kita harus mendaftar dengan membuka pilihan “Pendaftaran Pengusul Baru” New Account. Setelah kita isi semua data dengan benar, kita pilih “Tambah”.

Selanjutnya, kita harus kembali lagi ke pilihan “Daftar/Login” dengan kemudian mengisikan username dan password. Berikutnya, kita harus mengisi data pribadi kita sesuai dengan yang tersedia. Siapkan data-data yang diperlukan seperti alamat Universitas kita, tanggal kelulusan, nomor ijazah juga data mengenai pendidikan SMA dan S-1 kita, atau S-2 bagi yang akan menyetarakan ijazah S-3nya. Setelah itu selesai, pastikan kita mengecek lagi data-data yang kita masukkan kemudian setelah selesai, kita klik perintah selanjutnya… dan akan muncul informasi mengenai nomor registrasi kita.

Dengan nomor registrasi inilah, kita mendatangi Kantor Ditjen Akademik di Jalan Pintu Satu Senayan Jakarta, tepatnya di Gedung D di Lingkungan Kementerian Pendidikan Nasiona Jakarta.
Syarat-syarat yang harus kita bawa (ASLI dan FOTOKOPI-nya) adalah :
1. Ijazah yang akan disetarakan (Ijazah yang tidak berbahasa Inggris, Belanda,
Perancis dan Jerman harus diterjemahkan ke dalam bahasa Inggris dan disahkan oleh Kedutaan Besar Negara tempat belajar atau penterjemah resmi).
2. Ijazah jenjang sebelumnya;
3. Transkrip nilai (Transcript of Records selama belajar di luar negeri) harus dalam Bahasa Inggris;
4. Disertasi (untuk S-3) / Tesis (untuk S-2) / Tugas Akhir atau Skripsi (untuk S-1) versi lengkap dibawa serta dan diberikan kepada petugas Ijazah Luar Negeri dan apabila bahasa yang digunakan bukan bahasa Inggris, wajib melampirkan terjemahan dalam bahasa Inggris yang meliputi:
i. Title page
ii. Abstract
iii. Conclusion
5. Pasport dan student visa selama belajar di luar negeri (in-out ke negara tersebut dilampirkan);
6. Pas foto terbaru ukuran 3×4 cm (3 lembar untuk masing-masing ijazah);
7. Nomor registrasi;
8. Surat tugas belajar (wajib bagi PNS);
9. Surat perjanjian dari sponsor (bagi karyawan swasta);

Berapa lama prosesnya setiba kita di Gedung D lantai 7 ini? Hmmm, tergantung yaa.. tergantung dari banyak tidaknya yang datang untuk tujuan yang sama dengan kita; tergantung juga apakah para pendaftar sebelum kita syarat-syaratnya terpenuhi semua atau tidak… Tapi rata-rata per orang akan membutuhkan waktu sekitar 10-20 menit. Jadi kalo kita mengantre sekian orang, dihitung saja. Sebagian orang, datang dengan membawa berkas kurang lengkap, atau pemeriksaannya memang perlu waktu lama sebab universitasnya belum pernah disetarakan sebelumnya dan sebagainya. Karena itu, waktu per orang bisa bervariasi tergantung berbagai hal.

Pengalamanku sendiri dua bulan lalu, aku hanya perlu waktu sekitar 10 menit… Tapi ternyata, tetep ada berkas yang kurang, yaitu fotokopi bukti in-out Australia di passport. Aku tak membaca informasi dengan seksama, aku pikir hanya perlu fotokopi passport dan visa saja, ternyata ada dalam kurung…”sertakan in-out ke negara tersebut dilampirkan”. Jadinya, aku kemarin sempet ke Gedung B (lokasi koperasi yang menyediakan jasa fotokopi) untuk memfotokopi dua lembar itu… Syarat lainnya, aku dah OK.. bahkan buku katalog Griffith Uni yang aku bawa, dikembalikan oleh ibu pemeriksa, karena katanya GU sudah disetarakan.. Alhamdulillah. Artinya, proses penyetaraan ijazah ini hanya berlangsung 1-2 hari saja…makanya ibu pemeriksa itu berkata,”Dicek di website minggu depan ya”.

Maksudnya, aku harus mengecek ke website Diknas di atas, dengan mencocokkan nomor registrasiku. Makanya, jangan sampai hilang atau lupa nomor registrasi tersebut. Setelah ada informasi bahwa penyetaraan ijazah kita sudah selesai, kita harus kembali lagi ke Diknas untuk mengambil berkas tersebut. Jika tak bisa datang sendiri, bisa dikuasakan dengan menulis surat di atas materai Rp 6.000,00.

Oiya, setelah berkas kita dinyatakan lengkap, ibu pemeriksa akan mencetak selembar kertas keterangan yang kelak digunakan untuk mengambil ijazah hasil penyetaraan itu. Jika diwakilkan, pastikan orang yang mewakili kita juga membawa selembar kertas keterangan itu, selain surat kuasa.

Persoalan muncul ketika kita datang pertama kalinya, disuruh masuk ke ruangan penyetaraan ijazah, dan sebagian kita akan bersikap kayak orang bingung. Sebab tak ada informasi mengenai meja mana yang musti kita tuju, dan sudah di antrean berapa kita ini. Resepsionis di lantai 7 akan memberi kita nomor, tetapi di ruangan yang dituju, tak ada informasi mengenai kegunaan nomor tersebut :P jadilah, kita celingukan atau bertanya ke sebelah kiri dan kanan kita, “bapak nomor berapa?” atau “mbak nomor berapa?” kemudian kita menyesuaikan diri deh… jangan sekali-kali ingin menyerobot, sebab semua orang juga menunggu…

Satu petunjuk yang aku simpulkan adalah, bagi yang baru datang, mau menyetarakan ijazah, maka meja yang dituju adalah meja paling ujung.. paling jauh dari pintu masuk. Sementara meja paling dekat dengan pintu masuk adalah bagi mereka yang akan mengambil ijazah yang sudah disetarakan. Jadi jangan salah yaa…hehehe

Ada satu lagi meja, yakni meja tengah.. aku tak tahu, apa fungsinya dan siapa yang duduk di situ. Ketika aku datang kemarin, meja tersebut kosong. Sempat terjadi kerusakan sistem komputer di meja paling ujung yang waktu itu petugasnya seorang ibu berkerudung, nah beliau kemudian pindah ke meja tengah itu..untuk memeriksa berkas-berkas dari para pengusul.

Bagaimana kalo kita mengalami kesulitan saat akan registrasi online? Jangan khawatir, kita bisa langsung datang ke sini..ke Gedung D lantai 7 ini, tapi yang kita tuju setelah resepsionis adalah komputer di ruangan sebelah ruang penyetaraan ijazah itu. Ada tersedia satu unit komputer yang bisa kita gunakan untuk daftar online… Sebab tanpa kita melakukan pendaftaran online dan mendapatkan nomor registrasi, kita tak akan dilayani oleh petugas di ruang penyetaraan ijazah itu… Kalau ada kesulitan untuk mendaftar online di komputer tersebut, kita bisa bertanya kepada petugas di sana.

Memang tak ada yang khusus menunggui, tapi ada petugas yang bisa kita tanya… Proses registrasi online ini pun hanya sekitar 10 menit kok, kalo dokumen kita lengkap… Karena itu, ada baiknya kita sudah mendaftar online sejak dari rumah.. jadi nggak ribet lagi.. Setelah terdaftar secara online, barulah kita masuk ke dalam ruang penyetaraan ijazah itu, dan menunggu giliran bertemu petugas..

Aku sendiri mengalami kesulitan saat registrasi online di rumah. Karena namaku kan pake tanda apostrofi “’” sehingga ternyata tak bisa dibaca oleh komputernya. Makanya aku datang ke Diknas kemariin dengan membawa masalah… Alhamdulillah, setelah mengulang proses registrasi dibantu oleh petugas, aku bisa terdaftar.. dan menuju ruang penyetaraan ijazah setelah itu.

Satu hal lagi, jangan lupa, “form berkas tamu” dari petugas resepsionis di lantai 1, sebelum lift, harus diparaf juga oleh petugas… soalnya form itu harus kita kembalikan ketika kita meninggalkan gedung D tersebut.
So, gampang-gampang susah untuk menyetarakan ijazah ini hehehe…

Bakalan susah kalo syaratnya belum lengkap dan datang dalam keadaan terburu-buru, tapi bakalan mudah kalo kita sudah siap dengan semua persyaratan….serta siap untuk mengantre..
Oiya, sebaiknya datang pagi deh.. soalnya jam kerjanya cuma jam 9 pagi sampe jam 12 siang dan dilanjutkan jam 13 sampe jam 14 dan hanya Senin sampai Kamis aja. Kalo cuma kita yang datang sih, nggak masalah…tapi ternyata banyak lho yang datang setiap hari.. itu sebabnya terjadi antrean…

Kayak aku waktu itu, karena sesuatu dan lain hal, aku baru tiba di kantor tersebut jam 11 siang… dan ternyata cukup banyak orang sebelum aku.. jadi aku kebagian sekitar jam 12 siang.. pas mau istirahat makan siang. Aku sudah membayangkan, bakalan menunggu sejam soalnya si ibu mau istirahat dulu.. tapi Alhamdulillah, ternyata si ibu nya bersedia menunda makan siangnya… atau mungkin si ibu sedang puasa Senin ya :) Apapun, Alhamdulillah.. aku jauh-jauh datang dari Bandung, bisa langsung diterima… setengah jam kemudian aku beres urusan, termasuk fotokopi passport yang kurang itu…

Ternyata, jadinya SK penyetaraan ijazahku memakan waktu sekitar 7 minggu.. padahal kan katanya Cuma seminggu atau dua minggu. Hehehe..jadi bersabar yaa.. Dan jangan lupa, untuk tahu apakah SK kita sudah selesai diproses atau belum, harus cek di website.. makanya, jangan sampai nggak mencatat nomor register kita saat mendaftar pertama kali.

Lalu, saat kita mengambil SK tersebut, bisa sekalian kita minta legalisir. Tapi kita harus fotokopi sendiri… setelah fotokopi, balik lagi ke meja yang melayani kita mengambil SK tersebut dan menyerahkan fotokopi tersebut. Yang diizinkan hanya lima lembar saja. Jadinya, dua hari kemudian. Tapi kalau kita dari luar kota, ada opsi untuk minta dikirimkan ke alamat kita, tapi harus ngasi ongkos kirim yang jumlahnya,”Nggak tau..kita kirim pakai kilat khusus. Kalau mau masukkan saja uangnya ke dalam amplop ini (diserahkanlah amplop coklat kepadaku), dan tulis alamatnya,” ujar petugasnya. Haduhhh, berapa dong? Ya udah, aku inget, kalo kirim dari bandung-Jakarta pake pos kilat khusus adalah 10 ribu rupiah rata-2. Jadi aku lebihin sedikitlah…sebodo, apa cukup atau enggak, abis nggak nyebutin..dan aku ga mau dibilang nyogok atau sejenisnya… :)

Fellowship untuk Wartawan

1 Jun

Belum lama ini, aku mengikuti Asia Journalism Fellowship (AJF) yang berpusat di Singapura. Kegiatan yang berlangsung selama tiga bulan penuh ini, sungguh menyenangkan.
Kita tak hanya diajak untuk belajar secara serius di dalam kelas workshop, seminar ataupun diskusi tetapi juga mempunyai kesempatan untuk bertemu dengan orang-orang kreatif dan unik di Singapura. Selain itu, kita juga mendapatkan kesempatan untuk mengeksplorasi Singapura dengan cara kita… sebab waktu tiga bulan itu sungguh cukup untuk melakukan banyak hal.
Kalaupun ada hal yang “berat”..itu adalah tugas akhir yang musti dikumpulkan, berbentuk tulisan panjang, bisa berupa feature, report maupun presentasi. Kita memang diminta untuk melakukan penelitian (research) selama tiga bulan tersebut… waktunya, kita sendiri yang atur.. pokoknya, di akhir program kita musti mengumpulkan tugas tersebut.
Tidak ada aturan baku mengenai bagaimana format tugas akhir dari research ini.. pokoknya terserah kita.
Menurut Direktur AJF, PN Balji, “program ini memberikan kesempatan kepada wartawan untuk rileks sejenak dari deadline yang ketat di pekerjaan. tugas research itu adalah keinginan kalian untuk mendalami sesuatu, yang kalau di pekerjaan kalian, pasti tak bisa dilakukan sebab kalian dikejar deadline terus setiap hari”.
Aku adalah angkatan ketiga dari program AJF ini.. jadi program ini terbilang baru.. makanya terus dilakukan pembenahan dan perbaikan program dari tahun ke tahun…
Angkatanku sudah termasuk lumayan enak, sebab sudah ada dua pengalaman sebelumnya…sehingga angkatanku mengalami masa yang nyaman.. tak terlalu ketat dan tak terlalu santai jadwalnya.
seminggu, kadang ada tiga hari acara…tetapi kadang hanya satu atau dua hari… Kalo pas ada seminar, bisa lima hari penuh, tapi itu jarang terjadi…Ini dilakukan, sebab kita harus punya waktu untuk melakukan research..
Selain program yang oke, teman-teman dari berbagai negara di Asia (jumlah peserta rata-rata setiap tahun antara 14-15 orang), juga akomodasi dan uang saku yang memadai. Aku bisa membawa keluargaku untuk tinggal bersamaku, menemaniku selama tiga bulan tersebut…
apartement yang disediakan pun sekelas hotel bintang lima.. lokasinya yang strategis dan dekat ke mana-mana.. serta uang sakunya yang cukup untuk membiaya hidup sekeluargaku :)
kalo yang single atau datang tak membawa keluarga, pastinya uang sakunya berlebih dan bisa menabung… tapi kalo aku, karena bersama suami dan anakku yang masih bayi, aku bersyukur sebab kami tak perlu mengeluarkan uang dari tabungan kami untuk membiayai hidup kami bertiga.. uang saku yang diberikan itu cukup, asalkan diatur dengan baik penggunaannya.
Program ini, menurutku, sangat cocok untuk para wartawan dengan pengalaman kerja sekitar lima tahun ke atas… sebab dalam berbagai kegiatan, kita diminta berbagi pengalaman di negara masing-masing.. Jadi, kalo sudah cukup lama jadi wartawan, kita pun bisa berbagi banyak hal juga…
Cara mendaftarnya cukup mudah kok, nggak pake wawancara pula.. cukup mengirimkan aplikasi yang disediakan di website-nya yakni :

http://www.ajf.sg/

kita kirimkan, dan menunggu informasi apakah kita diterima atau tidak.
Memang, ada saat “merepotkan” ketika kita terpilih dan harus mengirimkan beberapa aplikasi tambahan untuk keperluan visa kerja, kartu perpustakaan dan tes kesehatan.. tapi percayalah, semua itu sesuai dengan pengalaman dan hal-hal yang akan kita peroleh di Singapura…
Jadi, aku mengajak para wartawan Indonesia mencoba melamar program ini dan merasakan manfaatnya…

Bedanya Master by coursework dan Master by research

16 Mar

Salah satu pilihan untuk melanjutkan kuliah ke luar negeri adalah master by coursework atau by research. Kita sebagai calon mahasiswa yang menentukan, mau kuliah yang mana. Pilihan ini diambil sejak awal, begitu kita mendaftarkan diri. Lalu apa bedanya antara yang pertama dengan yang kedua ini?

Master by coursework adalah kuliah S2 yang materinya adalah perkuliahan biasa. Mahasiswa harus memilih beberapa subject (mata kuliah) selama satu semester, ikut perkuliahan di kelas, mengerjakan tugas atau mengikuti ujian akhir semester. Jadi seperti kuliah S1 di Indonesia… Hampir sama persis.

Master by research adalah kuliah S2 tetapi tidak ada kelas, hanya penelitian saja. Untuk itu mahasiswa harus memilih supervisor (pembimbing) untuk pelaksanaan kuliah ini. Jadi kuliah ini tak akan ada kegiatan masuk kelas dan mengerjakan tugas atau mengikuti ujian akhir semester. Kalau penelitiannya berhubungan dengan laboratorium, ya berarti kegiatannya hanya seputar research di komputer (internet) untuk browsing jurnal, bertemu supervisor untuk berdiskusi dan pergi ke laboratorium. Pada research ini, ada kegiatan pengambilan data yang bisa dilakukan di mana saja sesuai dengan tema penelitian.

Biasanya yang mengambil kuliah master by research adalah para peneliti atau dosen. Sebab mereka akan melanjutkan dengan S3 yang memang isinya adalah penelitian. Sementara master by coursework diambil oleh para praktisi atau para fresh graduate. Kalo praktisi mengambil perkuliahan ini dengan alasan, ingin menambah ilmu dengan cara mengikuti kelas… bertemu dosen dan teman-teman baru.. jadi ada suasana yang berbeda. Sementara para fresh graduate biasanya memang tak ada pengalaman penelitian, jadi agak sulit untuk mengambil master by research.

Ada lagi yang namanya minor thesis atau honours, jadi namanya master by coursework with minor thesis (atau with honours). Artinya, ada kegiatan perkuliah yang musti diikuti, tetapi ada porsi untuk melakukan penelitian juga. Seperti yang saya alami. Saya mengambil master by coursework with honours di Griffih University Australia. Saya kuliah selama 3 semester dan kemudian pada semester ke-4 saya menulis thesis, jadi melakukan penelitian dan menuliskannya. saya harus mencari supervisor untuk itu…

Tetapi teman saya di universitas yang sama, beda jurusan.. mengambil master with honours, kuliahnya 2 semester dan penelitiannya 2 semester. Jadi soal berapa lama penelitiannya, tergantung jurusannya masing-masing. Tapi intinya adalah master dengan minor thesis (honours) adalah gabungan (mix) antara kuliah dan penelitian. Apa tujuannya? Ini untuk memberikan “bekal” kepada mahasiswa seandainya dia kelak mau melanjutkan S3.. sebab salah satu syarat S3 adalah “punya pengalaman research”.

Hasil Sekolah

12 Feb

Ketika aku masih di Brisbane, sebagian temanku berkata bahwa mereka minta ilmunya, kalo ntar aku balik ke Indonesia. Aku selalu mengatakan bahwa sebenarnya, kuliah di dalam atau di luar negeri hampir sama saja.. bedanya di luar negeri, bahasa yang dipake bukan bahasa Indonesia…:)
kalo mengenai ilmunya, kayaknya hampir sama aja deh.. tapi mungkin aku keliru..sebab aku tak pernah kuliah S2 di Indonesia..tetapi menurut seorang temanku yang dosen di salah satu perguruan tinggi swasta di Indonesia, hampir sama saja.. hanya memang di luar negeri, atau setidaknya di kampusku (yang aku tau pasti) semuanya serba online.. kehidupan kampus ditopang oleh teknologi yang sudah maju dan dimanfaatkan. Misalnya, untuk daftar mata kuliah yang akan kita ambil, kita hanya perlu mengecek kapan jadwal kita dan dilakukan bisa dari rumah, via internet.. jadi nggak perlu susah payah ke kampus… begitu juga dengan nilai yang diberikan dosen, umumnya bisa dilihat di internet, di situs khusus yang didesain untuk membantu proses belajar mengajar. semua pengumuman, bahan kuliah dan segala hal yang terkait dengan perkuliahan bisa diperoleh secara online/via internet…dan juga email kampus. jadi sebagai mahasiswa, kita harus selalu rajin mengecek email kita dan juga portal kita…
kalo sampe kita tak mengecek, alamat ketinggalan informasi dan itu kadang bisa berakibat fatal..
di kelas sendiri, semuanya nyaris individual.. kita boleh jadi tak kenal teman sekelas kita, meskipun kita kuliah selama satu semester..
salah satu penyebabnya adalah, kehadiran di kampus tidak wajib.. kalopun ada yang mewajibkan, biasanya untuk kuliah anak-anak S1… Jikapun kuliah S2 diwajibkan masuk kelas, maka prosentasinya hanya 10 persen saja.. yang 90 persen adalah mengerjakan tugas-tugas..
Mungkin hal yang paling berbeda adalah proses mengerjakan tugas-tugas tersebut.. di kampusku, yang namanya plagiarism sangatlah diharamkan…dan bisa ketahuan, sebab ada software yang bisa digunakan untuk mengecek itu.. Jadi, jangan sekali-sekali mengambil risiko untuk melakukannya..
Kalau begitu, apa yang signifikan dari hasil pendidikan di luar negeri? menurutku adalah, pengalaman hidup…
setiap orang, dalam persepsi, mempunyai dua kemungkinan dalam menyikapi sesuatu yang dialaminya..yakni, menjadi lebih baik, atau menjadi lebih buruk. Nah, sama juga dengan sekolah di luar negeri ini… Kita bisa menjadi orang yang lebih baik, lebih arif dan lebih bijak sepulang dari luar negeri, atau justru sebaliknya, menjadi orang yang lebih buruk sebab memandang “rendah” orang lain atau merasa yang dilakukannya lebih hebat ketimbang orang lain di tanah air.
mengapa menjadi lebih bijak dan lebih arif? karena pengalaman hidup yang luar biasa di luar negeri… misalnya, mulai dari perbedaan cuaca, perbedaan sistem transportasi, cara berkomunikasi hingga jenis pekerjaan…
aku sendiri, merasa menjadi lebih bijak, dalam melihat pekerjaan orang lain. Ketika di brisbane, aku melihat betapa orang-orang dihargai bukan karena pekerjaannya atau jabatannya, tetapi memang karena manusia layak mendapat perlakuan yang terhormat…
jadi, merupakan pemandangan yang tidak aneh di sana, ketika melihat seorang kasir di swalayan besar melayani seorang pekerja yang bajunya belepotan cat, dengan ramah… tak terlihat muka sinis atau meremehkan…
sebaliknya, orang yang di Indonesia atau di negaranya punya posisi bagus atau berpengaruh, ketika sekolah di luar negeri, toh menjadi “tak berdaya”… mereka, kalo mau bekerja, ya bekerja kasar… menjadi cleaning service, pelayan restoran atau pembantu rumah tangga. Kenalannya seorang temanku, orang Columbia, adalah manajer di perusahaannya, tetapi ketika di brisbane, dia menjadi cleaning service…:)
tak mengapa.. sebab gajinya sama saja, atau hampir sama saja, di manapun kita bekerja. selain itu, memang tidak ada pekerjaan yang hina.. semuanya bagus dan terhormat asalkan halal…
Dari pengalaman pribadiku, maka sekolah ke luar negeri itu lebih kepada mengubah wawasan kita, terutama dalam sekolah kehidupan…tak melulu secara akademik..
Karena itu, sebelum berangkat untuk sekolah di luar negeri, bersiaplah dengan segalanya…jangan berharap situasinya sama dengan kondisi kita di tanah air..apapun posisi kita, kondisi kita dan kelebihan kita.. sebab di sana, di negeri yang jauh, kita menjadi seorang yang tak dikenal.. maka itu menjadi sebuah kesempatan untuk proses belajar yang baik, jika kita ingin menjadi orang yang lebih baik setelahnya…wallahu alam.

ayo sekolah….

8 Feb

saat postingan ini dibuat, aku sedang berada di singapura. aku mendapatkan beasiswa untuk short course selama tiga bulan di negeri singa ini. banyak temanku yang mengatakan, “nggak bosen sekolah terus?” hehehe…
pertanyaan itu wajar adanya…sebab aku memang baru saja menyelesaikan studi S2 di Griffith University, Brisbane Australia pada Desember 2010. Lalu balik ke Bandung selama 7 minggu, kemudian berangkat lagi ke Singapura..ya sekarang ini..
jadi praktis di Bandung, aku cuma beberes tempat tinggal (yang masih numpang di rumah ortu hehehe) dan ngurusin berbagai administrasi, mulai dari KTP yang dah mati sejak setahun sebelumnya, perpanjangan SIM A/C, ngurus akte kelahiran anakku dan seterusnya…
nggak sempet berpikir, cari kerjaan baru… soalnya itu tadi, waktunya cuma 7 minggu..dan beberapa minggu awal pastinya aku beristirahat juga..sembari menyesuaikan diri dengan kondisi baru (lagi) setelah dua tahun di negeri kangguru…
Nah balik lagi ke pertanyaan tadi, aku bilang sih, nggak bosen yaa.. soalnya beda. kalo yang di brisbane kan, aku kuliah..bener-bener cari ilmu dari kampus..sementara program yang di singapura ini, hanya short course.. tepatnya Asia Journalism Fellowship (AJF). salah satu syaratnya, kita musti jadi jurnalis… kalo syarat lainnya sih sama aja, musti ngisi aplikasi yang baik dan menarik pihak panitia tentu saja :)
Aku adalah angkatan ke-3 dari program AJF ini.. bersamaku ada satu lagi wartawan Indonesia. Tahun ini pesertanya 16 orang, dari 13 negara…(kalo nggak salah itung). Menariknya, semua yang menjadi peserta ini, adalah wartawan di media berbahasa inggris di negaranya masing-masing.. kayaknya cuma aku deh yang medianya berbahasa Indonesia..cieee…
bukan apa-apa, ini membuatku berpikir bahwa ternyata kemampuan berbahasa inggris memang mutlak diperlukan. bagi mereka yang bekerja di media berbahasa inggris, pastinya ikutan program-program kayak gini nggak sesusah yang medianya berbahasa selain inggris kan… soalnya mereka udah biasa nulis dan ngomong in English dengan narasumbernya….
tapi ini juga membuktikan bahwa, kalo kita memang dinilai layak, maka nggak ada yang nggak mungkin kok..
buktinya, ya aku ini… sudahlah aku bukan dari media berbahasa inggris, juga aku niy sebenarnya job seeker alias nggak punya kerjaan.. wong waktu melamar program ini, aku masih berstatus mahasiswa Griffith.. (ngelamarnya di hari terakhir pendaftaran lho..jadi kebayang gimana aku musti berepot-repot ngisi form aplikasi buru-buru, scan dokumen ke kampus, ngirim email sambil harus ngurusin bayiku yang masih dua bulan umurnya hehehe).
tapi tampaknya pihak panitia terkesan dengan aplikasi yang aku berikan plus CV aku… tentu saja, juga karena ada referensi dari dosen maupun mantan bos.
aku sih nggak ngarang-ngarang ya, insya Allah… dosen-dosenku memberikan referensinya betul-betul murni penilaian mereka…sementara mantan bos-bosku memang minta aku yang menulis si referensi itu, tinggal mereka tanda tangan. tapi saat aku kirimkan surat referensi yang aku buat ke mereka, aku bilang ke mereka..please dicek lagi, kalo ada yang nggak sesuai silakan diganti. dan yaa… mereka ternyata ga keberatan dengan referensi yang aku buat itu..
menurutku, itu artinya mereka sepakat dengan aku..bahwa selama aku bekerja di sana, aku memang berusaha memberikan yang terbaik kok :) artinya lagi, semua yang kita kerjakan itu insya allah nggak ada yang sia-sia..
jadi inget, seorang teman pernah bilang, ngapain kerja rajin-rajin sementara yang lain malas tetapi gaji kita sama..
aku bilang kepadanya, aku menyukai pekerjaanku dan aku seorang yang selalu bersungguh-sungguh dalam pekerjaanku.. aku percaya Allah tidak tidur.
Dan aku mendapatkan “hasil” keyakinan itu, saat aku musti melamar beasiswa ini dan itu… aku menulis apa yang aku kerjakan.. dan inilah hasilnya, alhamdulillah.. Mungkin kantorku waktu itu tidak menghargai pekerjaanku, bosku tidak melihat pekerjaanku dan teman-temanku meremehkan aku..tapi aku bekerja menurut hati nurani saja.. alhamdulillah, semua ada hasilnya kok meskipun tidak instant…
haduhhh, jadi ngelantur lagi…
balik ke soal sekolah yang nggak bosen-bosen, aku merasakan sekolah atau short course membuka cakrawala berpikirku.. bertemu banyak orang baru, dan tidak terus menerus dikejar deadline.. tidak melulu berpikir “apa niy yang bisa jadi berita”… tapi berpikir untuk mengisi otak sendiri sehingga menganalisis segala sesuatu dengan lebih baik..insya Allah..
aku sudah tak muda lagi kalo dari usia. saat ini usiaku sudah 38 tahun, aku punya anak bayi berusia 6.5 bulan saat ini dan aku juga mempunyai suami dengan pekerjaan sebagai wiraswasta…yang penghasilannya tidak tetap. kami belum punya rumah, apalagi mobil dan segala macem layaknya keluarga lain… tapi suamiku mendorong aku untuk ambil program ini dan dia bersedia menemaniku meskipun usahanya yang baru mulai jalan lagi, dia tinggalkan lagi…
aku menghargai dorongannya..dan berterima kasih karenanya…
lalu apa yang aku cari, kalo begitu? hmmmm pertanyaan yang sulit..tapi sesungguhnya aku hanya menjalani yang ada di depan mata.. dulu aku melamar program ini dan diterima, lalu aku belum dapat pekerjaan, lalu suamiku mengizinkan.. bahkan dia menemaniku bersama bayiku.. so aku ambillah kesempatan ini…
aku percaya, semua yang diniatkan dengan baik, insya Allah berhasil baik juga…
jadi, tak ada alasan untuk tidak bersekolah apapun kondisinya.. tentu saja mesti ada kompromi-kompromi yang aku yakin bisa dibicarakan..bisa didiskusikan.. tentu juga ada sedikit pengorbanan untuk ini dan itu.. seperti aku, misalnya, jadi belum punya pekerjaan..sebab harus berangkat lagi setelah kembali dari brisbane.. atau suamiku juga harus meninggalkan usahanya lagi, tapi kami berdua sudah mendiskusikannya..dengan segala risiko yang bisa kami prediksikan..selebihnya, kami serahkan pada Allah SWT..
soo… ayo sekolah :)

Hubungan beasiswa dan memasak

24 Apr

Ada nggak hubungannya antara mendapatkan beasiswa ke luar negeri dan keahlian memasak? Sepintas lalu nggak ada hubungannya sama sekali, bahkan terkesan aneh…konyol plus lucu..
Tapi percayalah, keduanya berhubungan erat…:)

Ketika seseorang mendapatkan beasiswa ke luar negeri, artinya dia harus meninggalkan Indonesia, dan bersekolah di negara lain, di manapun di belahan bumi ini. Bisa jadi, hanya dekat-dekat Indonesia, seperti Singapura dan Malaysia, atau sedikit menjauh (dan agak populer) di Australia tetapi bisa jadi harus ke Eropa atau Rusia… Di manapun bersekolah, selama masih di luar negeri, maka ada satu hal yang perlu dipersiapkan, selain persoalan mental, bahasa dan segala macam yang berhubungan dengan studi, yaitu…urusan perut. Kelihatannya sepele yaa.. apalagi, sekarang ini sudah banyak franchise masakan asing di Indonesia.. yang artinya, lidah orang Indonesia sudah tak lagi merasa ‘aneh’ dengan masakan-masakan dari berbagai belahan dunia ini… Bahkan yang sudah mendunia pun tak kalah banyaknya seperti Mc Donald, KFC, Pizza hut dan sebagainya…

Tapi tunggu dulu…
coba kita pikirkan lagi, selain hobi jajan makanan fast food atau makanan eksotik dari berbagai negara, makanan sehari-hari kita apa sih? Sebagian besar kita akan bilang, “nasi”… Naaaaah, di sinilah kemudian muncul sebuah persoalan… Kalau tadinya, saat berada di Indonesia, kita menganggap nasi, sayur asem, sayur lodeh, ikan asin, tempe-tahu, maupun sekadar sambal dan kerupuk sebagai makanan sehari-hari yang bikin bosen… ketika kita berada di luar negeri, semua masakan itu menjadi terasa mahal, sebab jarang ditemui dan mungkin sekali, di beberapa daerah, bahkan tak bisa ditemui…
kalau semula kita mengkonsumsi makanan fast food dari mall atau toserba di pusat kota, sebagai selingan.. maka kelak, ketika berada di luar negeri, kemungkinan kita akan menjadikan fast food sebagai makanan sehari-hari kita… bayangkan, betapa “menderitanya”….
hal ini masih ditambah lagi sebuah catatan, bagi yang muslim… makanan di fast food itu tak semudah di Indonesia yang semuanya halal.. Kita tak perlu berpikir, apakah ayam goreng yang dijual di KFC atau MC D itu boleh kita makan atau tidak… sebab insya Allah, kehalalannya terjamin.. Lha kalo di negeri orang, apalagi di negeri non-Muslim, biarpun ayam atau sapi.. belum tentu itu halal…
Sebagai muslim, kita tak mungkin makan makanan yang tidak halal kan? sebab agama melarang hal tersebut.. jadilah, kita pilih menu ikan (fish), yang bagi sebagian teman juga… nggak mudah mengkonsumsinya.. tak semua orang suka ikan…
Malah, ada beberapa temanku yang lebih selektif lagi, biarpun ada menu ikan.. tapi kalau kira-kira mereka (toko fast food tersebut) menjual menu “ham” alias babi… mereka tak mau membelinya… ini prinsip kehati-hatian dalam menjalankan agama..
Naaaahhh..makin ribet lagi kan, urusan makan ini….

belum lagi kenyataan bahwa untuk membeli makanan di restoran (bahkan yang halal sekalipun), membutuhkan biaya yang tidak sedikit. Kalau harus tiga kali makan dalam sehari dan selalu harus membeli di restoran/toko, berapa biaya yang musti dikeluarkan? kenyataannya…uang beasiswa yang kita terima, biasanya pas-pasan saja.. biarpun cukup tetapi tetap saja, kalau gaya hidupnya seperti itu…ya bakalan kurang uangnya…:)

Karena itu, karena berbagai alasan di atas, solusi terbaik adalah memasak sendiri di rumah…selain biaya lebih murah, lebih bersih, sudah terjamin kehalalannya, juga karena kita bisa membuat masakan apapun yang kita inginkan… hmmmm, tentu saja dengan catatan…kita bisa memasaknya…:)

Tuh, jadi bener kan? ada hubungannya antara beasiswa ke luar negeri dengan keahlian memasak…hehehe
akupun baru menyadari hal tersebut setelah tiba di brisbane… merasakan betapa makanan pokok kita, nasi, begitu sulit didapatkan di sini.. dalam arti, kalau beli mahal.. sudah gitu, aku pernah beli di kampus, nasi goreng katanya, ehhhh…kok nasinya belum mateng…:( temanku ngakak saja ketika mengetahui hal tersebut… dia bilang, “orang sini nggak tahu kali, caranya masak nasi gimana…”

Itu persoalan lain lagi lho.. Bahwa, kalopun ada yang menjual masakan Indonesia atau mirip-mirip masakan Indonesia, belum tentu rasanya sesuai selera kita. Yang ada, kita jadi ngomel sebab sudah keluar uang cukup besar, eh rasa masakannya ngalor ngidul alias nggak keruan…

Beberapa bulan setelah berada di sini, aku juga mulai rajin mencari-cari resep masakan di internet.. alhamdulillah, nemu yang beragam tapi ya gitu..ada beberapa yang musti melalui proses trial and error… sebab tak semua resep masakan di internet itu, bener takarannya.. atau mungkin lebih tepatnya, tak semua resep itu sesuai dengan selera kita..
Aku sih, lebih beruntung sebab suamiku seneng masak.. jadi urusan masak-memasak.. dia yang lebih sering melakukannya.. dan dia juga suka mencoba hal-hal baru, jadi aku tinggal menikmati saja..:D
Tapi itu tadi, nggak selalu suamiku bisa memasak, sebab kadang dia lelah habis kerja atau sebagai istri, kan sekali-kali kepengen masak untuk suami… jadi tetep, bisa masak itu merupakan keahlian yang nggak merugikan kok hehehe
aku sendiri bukan orang yang suka masak, bahkan cenderung tak suka masak.. tapi di sini, apa boleh buat.. harus bisa..
aku berpikir, alangkah menyenangkannya orang yang sejak dulu memang bisa masak… dan hobi masak..
Nah, jadi sambil mencari-cari beasiswa… sekalian juga belajar masak…jadi pas dapat beasiswa, nggak perlu terlalu cemas urusan makan di luar negeri…kalo enggak, jadinya bakalan makan indomie lagi, indomie lagi… bosan kan :)

Tes IELTS 8 Kali

1 Apr

Berapa kuat kita mampu berusaha untuk mendapatkan hasil yang kita inginkan? Pertanyaan itu sungguh mendasar, sebab seringkali kita segera menyerah ketika tidak segera mendapatkan yang kita inginkan. Tapi melihat kegigihan temanku, aku bener-bener salut…. Ia melakukan test IELTS agar mendapatkan skor 6.5, hingga sebanyak delapan kali! Bayangkan… bukan cuma betapa melelahkannya melakukan tes yang berulang kali dengan hasil yang “masih itu-itu saja” tetapi juga bayangkan biaya yang harus dikeluarkan. Kalau sekali tes biayanya adalah 150 dolar AS, atau sekitar 1,5 juta rupiah..maka berapa biaya yang sudah dikeluarkannya?

Temanku ini mendapatkan beasiswa Dikti untuk S3 di Australia. Tetapi persyaratan IELTS nya masih kurang. Ia test dari mulai skor 5.5 kemudian naik ke 6… dan bertahan di angka itu untuk beberapa kali tes. Akhirnya dia pun nekad berangkat ke Australia, dengan skor 6 dan mengikuti kelas bahasa inggris di universitas tempat dia mengambil S3.. Namun sebelum berangkat ke Australia, dia menyempatkan diri untuk tes IELTS lagi, ya itu…tes yang ke-8 kali nya… Setelah berada di Australia selama sekitar dua minggu, ia mendapat kabar bahwa hasil test IELTS-nya sudah 6.5.

Ia tentu saja bahagia, tetapi tetap melanjutkan program 6 minggu kelas bahasa inggris yang diambilnya di universitas. Selain karena sudah membayar biaya yang tak murah, juga karena ingin lebih memperlancar kemampuan berbahasa Inggris.. yang diakuinya “bener-bener beda yaa…” katanya. maksudnya mempraktekkan bahasa inggris di tempatnya, dengan hanya mempraktekkan di tanah air..

Yang ingin aku share dari pengalaman tersebut adalah, selama kita punya kemauan keras dan berusaha mewujudkannya, insya Allah selalu ada jalan. Tak peduli berapa lama waktu yang kita butuhkan… yang diperlukan memang keyakinan dan upaya keras…
Catatan lainnya adalah bahwa ia seorang ibu dari tiga anak. selain mengajar di kampus karena ia memang seorang dosen, ia juga mengasuh ketiga anaknya. Memang ada seorang pembantu yang membantunya… tetapi tanggung jawabnya sebagai ibu tak bisa begitu saja dilepaskan. Suaminya bekerja di luar kota yang hanya bisa berkumpul bersama keluarga setiap dua minggu sekali. Jadi bayangkan, betapa kesibukan dia selama harus mempersiapkan diri mengikuti tes-tes IELTS itu.

Memang sih, dia tak mengikuti kursus di lembaga kursus manapun, selama mengikuti tes tersebut… kelemahannya adalah, ia kurang mampu mengevaluasi di mana letak kekurangannya. Begitu hasilnya belum mencapai 6.5 dia tes lagi..begitu terus dan belajar sendiri. Bagaimana akan ikut kursus (yang di Jakarta biayanya pun cukup mahal….) sementara ia sudah sibuk dengan urusan pekerjaan dan rumah tangga. Mungkin ada biaya untuk mengikuti kursus, tetapi kalau tak ada waktu…atau malah jadinya dia keteteran dengan hal lain yang lebih urgent, kan malah mubazir? Di Jakarta, tak seperti di daerah… persoalan kemacetan bisa menjadikan masalah sepele berubah menjadi berat… Ia tinggal di Depok, sementara tempat kursus yang dianggap bagus berada di Jakarta…bisa dibayangkanlah, bagaimana persoalan waktu serta problem kemacetan dan transportasi begitu runyam di sana…

Jadi, kalau kita masih bisa belajar sendiri.. dengsan waktu yang leluasa… masih punya biaya untuk ikut kursus di tempat kursus.. betapa beruntungnya kita, saat mencari beasiswa… :)

kisah seorang teman…

19 Mar

Ini kisah seorang teman yang baru aku kenal. Perjuangannya untuk mendapatkan beasiswa, sungguh patut diacungi jempol… kendala fisik, tak menjadi masalah baginya melanjutkan sekolah ke luar negeri, dengan beasiswa pula. aku, selalu saja salut setiap melihatnya….

Betapa tidak, sejak kecil, ia sudah duduk di kursi roda. Kini dia mengambil kuliah S2 di salah satu universitas di Australia, dengan beasiswa ADS. Tiba di di universitas tempat dia sekolah saat ini, ia didampingi ayahnya… sebab ia tak bisa melakukan apapun seorang diri.. Mulai dari makan hingga urusan pribadi, ia harus didampingi.

Maka, ayahnya yang begitu sabar dan setia, mendampingi anak lelakinya ini bersekolah ke negeri kangguru. Pagi hari, jika teman ini akan kuliah, ayahnya mendorong kursi roda dari asrama kampus (di dalam lingkungan kampus) menuju ruang kelas… sekitar 15 atau 20 menit sebelum bubaran kelas, sang ayah pun akan menjemput… sebab itu tadi, kursi roda itu perlu didorong.

“Kursi roda yang digunakannya itu, ternyata sejak ia masih balita… cuma diganti rodanya aja kalo setiap kali rodanya rusak..” ujar seorang teman yang lebih dulu kenal dengannya, bercerita padaku. Subhanallah…

Di sini, di Australia… tentu saja kursi roda manual semacam itu sangatlah tidak populer. Sepanjang yang aku tahu, selama setahun tinggal di sini… orang-orang menggunakan kursi roda matic. Yang ada tombol-tombolnya sehingga memudahkan untuk melakukan kegiatan, baik naik kendaraan umum maupun melalui jalan-jalan yang ada. satu hal yang patut diacungi jempol, jalan-jalan dan berbagai sarana publik di Australia ini, setidaknya di kota tempat aku tinggal, ramah pada mereka para penyandang cacat…. Makanya, nggak heran untuk melihat mereka yang berkursi roda atau yang tuna netra melakukan perjalanan seorang diri ke mall atau ke mana pun, sebab fasilitas umumnya mendukung.

Nah, teman ini… belum bisa seperti itu. Sebab kursi roda manualnya itu… kini sedang diusahakan untuk mendapatkan kursi roda matic, semoga segera terwujud.

Di tulisan ini, aku ingin berbagi bahwa… tak ada alasan bagi kita untuk mengatakan, mendapatkan beasiswa itu sulit atau “sangat merepotkan” dan sejenisnya. Tinggal kemauan kita… tekad kita dan yang pasti langkah nyata kita… tak cuma angan-angan.

Kalau melihat temanku itu, subhanallah… aku menjadi malu hati… Ia yang ke mana-mana harus didampingi, bahkan makan pun harus disuapi — karena keterbatasannya — bersemangat juang tinggi untuk belajar…. dan ia kini berada di sini.. menggapai salah satu mimpinya..

Kalau seseorang dengan keterbatasan fisik saja, bisa mendapatkan beasiswa ke luar negeri, mustinya kita yang mendapatkan karunia kesehatan fisik yang lebih baik, tak punya alasan untuk mengatakan, mencari beasiswa itu sulit… Bukankah sudah menjadi hukum alam, sudah sunatullah, bahwa untuk mendapatkan sesuatu kita musti berikhtiar… dan jangan pernah berputus asa dalam ikhtiar…

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.